24. After he left

6.6K 247 1
                                        

"sekuat apapun fisik wanita,dia akan tetap cengeng ketika Sesuatu menyentil hatinya, dan ketika itu ia butuh Bahu untuk bersandar, insyaallah mas siap jadi bahu itu. "

    Usai Althaf di semayamkan, aku masih termenung di sisi Ranjang, tak mau beranjak sedikit pun. Fokus ku Tertuju pada foto Berbingkai yang sengaja Ku pasang, beberapa waktu lalu.  Foto Aku, mas Ezhar,dan Althaf yang ketika itu baru Sehari Berada di bumi. Senyum kami bahagia sekali kala itu, tak akan menyangka akan begini pada akhirnya.

    Kemarin malam, dia masih di dalam Gendongan ku, menangis Tiada henti, sampai aku kewalahan. Aku pun masih sempat  menyusuinya, meskipun dia tak begitu lahap seperti biasanya. Bahkan dia masih merespon ucapan ku sedikit. Biasanya memang tidak pernah begitu, dan tadi pagi Althaf benar-benar pergi, meninggalkan Kami semua di bumi ini.

      "kai, makan dulu yuk,mbak Bawain Kamu makanan. "mbak Irin datang ke kamar membawa Nampan berisi makanan. Aku hanya menggeleng lemah, Tidak ada nafsu lagi untuk sekedar menegak air putih.

     "Yang sudah pergi, biarlah pergi kai. Ikhlasin Anak kamu, Insyaallah ALLAH bakal kasih ganti yang lebih dari yang hari ini hilang. " tutur mbak irin memberi ku sedikit wejangan untuk yang kesekian kalinya. 

      "Kai pasti makan mbak, tapi nanti aja, sekarang kai lagi enggak mood mau ngapa-ngapain. " Balas ku merespon ucapan mbak irin.  Beliau hanya mendesah lelah, sejak semalaman  aku belum menyentuh sesuap nasi pun, pikiran ku sudah di penuhi bayangan Althaf.

     "kai... "

     "mbak irin, Biar Saya Yang bujuk Kaira, mbak irin ke bawah aja, Saya tau mba Irin capek. " Ucap Mba Zahra ikut masuk ke dalam kamar ku. 

     "makasih Ya Za.. "

     "sama-sama  mbak. "

      "kai.. Mbak tau betul bagaimana Rasanya Kehilangan, dulu mbak pernah kehilangan Anak juga Suami mbak, mbak Frustrasi,marah-marah sama semua orang. Sampai Mbak Lupa kalau Mbak punya ALLAH. "

    ".. Sesuatu yang harus kamu ingat kai, Kamu punya Ezhar, mbak yakin dia jauh merasa Kehilangan dari yang kamu Rasakan, cuma dia enggak pengen kamu Sedih ngeliat kondisi  dia. "

       Aku mendesah pelan, masih sesak Rasanya Untuk di ajak bicara begini. Tapi aku butuh teman, aku tau kehilangan itu tidak pernah ada dalam daftar hidup manusia. Tapi kehilangan itu pasti terjadi, sesuatu yang ALLAH titipkan kelak, Ia Akam dimintai kembali Oleh -NYA.

      "makasih mbak, Aku Cuma Masih syok sama Apa yang terjadi hari ini,enggak nyangka Al yang pergi lebih dulu. " kataku membuka suara.

      "Sedih Itu memang hal yang wajar, tapi Jangan sampai Kamu kehilangan ALLAH"timpal mbak zahra,sambil memamerkan senyum Tulusnya.

     "...sekarang makan gih, nangis juga butuh tenaga tau. "

    Aku menggeleng  pelan "maaf mbak, Kai capek mau tidur sebentar Aja,kalau sudah masuk Asar tolong bangunkan Kai. " pinta ku. Lalu membaringkan tubuh ku di Atas Ranjang.  Seketika, Rasanya Tubuh ku yang letih menemui penawarnya.

       "yaudah mbak keluar dulu kai, Mbak ada di bawah kalau kamu butuh apa-apa"sahut mba Zahra.  Tak lama kemudian Suara Derit pintu kamar, yang di barengi langkah kaki yang Memelan, meninggalkan  aku Di dalam Kamar ini sendirian.

  

           Dua minggu Rasanya masih sama,meskipun dalam rentang yang Berbeda

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

           Dua minggu Rasanya masih sama,meskipun dalam rentang yang Berbeda. Aku masih tetap rutin merenung, menatap foto Bayi Althaf, Atau memeluk erat pakaian nya. Dan membiarkan aku tidur sembari mencium Harum selimut Althaf. Main-mainnya yang ku beli waktu itu,masih tersusun Rapi Di Dalam Rak nya, sesekali Ku mainkan Sambil membayangkan tertawanya Althaf yang sangat gembira tatkala Aku mengajak  nya Bermain. 

     Mas Ezhar Tidak pernah Menegur ku, mungkin dia paham aku masih begitu terpukul atas kepergian putraku. Bahkan Kegiatan yang hampir ku lakukan dalam tiap sujud ku ialah menangis. Sengaja aku bangun dalam sepertiga malam, curhat pada yang maha kuasa, dan membeberkan perasaan ku secara gamblang.  Dan setelahnya, aku langsung merasa lega.  Setidaknya aku punya allah yang maha hidup.

      Biarpun  aku masih saja Berkabung, namun tugas ku sebagai dokter masih terus ku jalani. Aku sadar,ada banyak Jutaan manusia Yang lebih membutuhkan ku, Aku tidak di ijinkan egois disini, mengingat Sebelumnya aku telah bersumpah untuk menjalankan amanat Sebaik-baiknya. 

     Sore ini, seperti biasa,  aku kembali kerumah yang mas Ezhar bangun Untuk ku dan Althaf. Sepi langsung menyambut ku ketika aku Masuk Kedalamnya. Mas Ezhar juga belum pulang dari Rumah sakit. Ku lanjutkan perjalanan  ku menuju kamar pribadi ku dan mas Ezhar.  Sampai di ambang pintu, aku tak langsung memasuki Kamr Tersebut, Aku berdiri menatap lurus Ke arah Ranjang itu, terngiang kembali, bagaimana Althaf yang langsung menyongsong ku ketika pulang bekerja. Ku pejamkan mata Meminta agar Kejadian itu dapat Terlihat nyata, Namun ketika Netra itu terbuka, Disana Tetap sama.  Hening  Tak ada apapun yang menyambut ku. 

       Tubuh ku pun merosot kelantai, Rasa Sedih itu datang lagi.  Sampai-sampai aku tak sanggup menahan nya.  Tangis ku pun pecah tanpa permisi, aku menangis Sejadinya-jadinya.  Lima menit, Enam menit pun berlalu aku Masih saja Seru dengan tangisan ku. Agaknya Mata ku akan kembali membengkak, setelah Tadi pagi Bengkak Yang kemarin Mereda. 

     "kai.. " panggil seseorang.  Aku tau,  itu pasti suara mas Ezhar.  Tak lama kemudian, Ia membawa diriku dalam pelukannya.

      "Sudah Dua minggu kai, Kenapa Kamu makin Rutin menangis,Althaf sudah Bersama nabi ibrahim di surga, harusnya Kita Senang, ada satu keturunan kita Kelak yang akan Menjadi Penerang kita di akhirat. " tutur mas Ezhar Tenang.

       "Kamu percaya Sama ALLAH kai, harusnya kamu juga percaya sama Janji ALLAH, ALLAH enggak akan Membiarkan Kita tenggelam dalam badai Ujian, Kecuali akan diberikan nya Ganjaran Indah, asal kita mau bersabar. "

    Aku hanya bisa mendengar segala Ucapan Mas Ezhar, tanpa Bisa membantahnya.  Semua Yang dia katakan benar, Sekarang aku baru tau Bagaimana Sakitnya Menjadi Mbak Zahra Dalam posisi sempitnya. 

      "Mas.. Aku belum bisa Jadi Istri yang baik buat kamu, andai Saja Waktu itu aku nurut kata-kata kamu, aku Mau Ngurusin Althaf, mungkin Dia masih disini bareng kita. " sesal ku.  Itu yang terlintas di fikiran ku, ketika Tau althaf terserang penyakit pneumonia.  Aku Ibu yang egois, Mas ezhar Dan segala ucapannya Bak Cepeti yang Mencambuk perasaan Ku hingga Ke relung batin ku. 

     Mas Ezhar Menggeleng tak setuju "ngomong  apa sih kamu kai, jangan Pernah ada kata Andai Di dalam Hidup ini, kamu tau Kata-kata Itu Bisa Membuka Satu jalan Setan untuk terus Mengganggu hidup kamu. "

     Senaif itu hidup ku kini, astagfirullah, aku Sudah termakan Rayuan Setan. Benar kata mas Ezhar, selama ini aku membiarkan setan Merajalela di hidup ku. Aku pun bangkit, Menghapus Jejak air mata yang tersisa di Pipi ku. 

     "mas Makasih Sudah mau jadi Suami ku, jadi Ayahnya Althaf, Jadi Imam Bagi Rumah Tangga ini. Maaf kalau istri kamu ini Cengeng sekali, Dan Belum bisa Setegar Khadijah. "

       Manik ku menatap lembut netra Birunya, Sejalan Dengan itu, mas Ezhar malah Dengan Beraninya Mencium kedua Mataku.  Sambil berujar  "sekuat apapun Fisik wanita, dia akan Tetap cengeng ketika sesuatu menyentil hatinya, dan ketika itu Dia Butuh satu Bahu untuk bersandar,dan insyaallah mas siap Menyediakan Bahu itu untuk kamu. "

    
Bersambung

      
     

Kaira ( She's Mine) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang