32. Tentang Ayah

8.3K 280 0
                                        

Pagi-pagi Di rumah besar ini, selalu dibuka Dengan Keriuhan Ezra dan mas Ezhar, Ada-ada saja Kelakuan Anak itu, dipagi hari begini. Ezra Yang Akan masuk Sekolah Dasar ini, makin hari makin pintar Dalam menemukan kosa kata Baru, kemarin saja, Dia Bilang Dia Hendak Menikah Kalau Sudah besar nanti dengan temannya Bernama Putri, entah siapa yang dia maksud, Tapi Yang membuat Kepala Pusing ialah,dia menuntut untuk Kami berdua menurutinya.

Lain cerita dengan mas Ezhar, makin Kesini, pria itu makin sibuk bekerja. Sudah dua malam ini, mas Ezhar menginap Di Rumah Sakit, baru tadi subuh Ia pulang kerumah. Tentunya, kepulangan nya Selalu kusambut dengan Senyum kecil, meskipun hati ku saat itu sedang Dongkol luar biasa. Bayangkan saja, Selama Kehamilan ku memasuki Usia Tiga Puluh Dua minggu, mas ezhar tidak pernah lagi tidur Di sebelahku, Di tambah lagi, kala Mas Ezhar yang ikut Safari Dakwah Di luar kota seperti Bandung, Dan Yogyakarta, tinggalah aku sendiri, meringkuk dalam kerinduan.

Kasus ku kali ini, hampir sama ketika aku hamil Bayi Althaf, hanya saja waktu itu, mas ezhar memang terang-terangan,mendapat Tugas Di Indonesia Timur. Sedangkan ini, mas Ezhar ada Di sekitar ku, tapi Rasanya Sangat jauh untuk ku jangkau.

Aku baru saja menyelesaikan masakan ku, lalu menaruhnya di meja, untuk kami santap Sebagai Hidangan sarapan. Sayur, nasi, lauk-pauk, piring, gelas, dan juga Sendok sudah tertata, dan saatnya aku menemui Ezra, dan Mas Ezhar,di kamar Kami.

Baru saja aku menapakkan kaki ku di Kamar, Terlihat pemandangan Mas Ezhar yang tengah membujuk Ezra. Anak itu meringkuk Di sisi Sofa, Merajuk. Ezra memang Masih anak-anak, aku tidak salahkan sifat merajuk nya itu, apalagi Jikalau Ia merajuk, Akan susah di bujuk.

"Bunda.. "teriak ezra melihatku yang berjalan kearahnya.

"Abang kenapa? "tanyaku, ketika aku sudah berada Di dekatnya, Ezra tidak menjawab malah Memeluk lengan ku erat-erat.

Aku pun beralih menatap mas ezhar disebelah ku. Berharap ia mau memberi jawaban yang pasti.

"ngambek, enggak mau pakai baju. "mas ezhar memberi Tahu ku, aku melirik ke Tangan Mas Ezhar yang masih menggenggam Baju Setelan Berlogo Tayo itu.

"abang Kasih tau Bunda, kenapa ngambek-ngambek gini, Abang kan udah Besar, kemarin udah janji sama bunda, enggak mau Ngambekan lagi. " ucap ku Lembut, Tanganku tergerak mengelus Rambut Halusnya.

Bukan Nya menjawab Yang kudengar malah isakan Dari bibir Ezra. Segera Aku mengangkat Wajah ezra, tapi dia balas Mengrtatkan pelukan di lenganku.

"Ayah.. Hiks.." Tangisnya sembari telunjuk nya Mengarah pada Mas Ezhar. Aku diam, menantikan kelanjutanRespon Dari Ezra, aku tau pasti ada Penyebab nya sehingga anak itu bisa menangis begini.

"Ayah.. Bohong,ayah bilang tadi malam mau pulang, mau ajak ezra Ke Timezone,sama Beliin Ezra Crayon baru, tapi Ayah Bohong, ayah enggak pulang,Ayah Enggak sayang lagi sama Ezra, sama Bunda. " pekiknya, menikam ulu hatiku, jadi Ini penyebab Dia Menangis, tanpa Kusadari Sudut mataku berair, tapi buru-buru ku seka.

"maafin Ayah ya nak, Tadi malam Pasien ayah Banyak, Ayah baru boleh pulang tadi subuh. "Tutur Mas Ezhar.

"tadi malam, Ezra nungguin Ayah sampe Ezra Tidur, tapi Ayah enggak pulang-pulang. " adunya, Sedangkan Ezra masih setia dalam tangis Panjangnya.

Aku masih setia mengusap Lengan ezra yang berguncang karena tangisnya. Ezra memang selalu sensitif dengan sebuah janji, apabila kita tidak menepati nya, siap-siap ia akan merajuk, dan butuh Perhatian khusus hingga hatinya kembali normal.

"Ayah Salah, Maafin ayah Ya, Ayah Di Rumah sakit kan kerja, Kalau ayah enggak kerja, dirumah terus sama Bang Ezra, Ayah Enggak Bisa Beliin crayon baru buat Ezra. "bujuk mas Ezhar.

Kaira ( She's Mine) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang