Anna tiba di tempat yang berupa perbukitan sekitar pukul 09.00. Ia keluar dari mobil yang dikemudikan Fernanda dan merentangkan tangannya seraya menarik napas panjang. Perjalanan satu setengah jam dari Jakarta ternyata cukup melelahkan. Dari kursi belakang, Anggun dan Gita ikut keluar dan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Anna.
"Itu Briptu Galang," ucap Gita dengan menunjuk laki-laki yang melambaikan tangan ke arah mereka.
Anna langsung memutar kepalanya untuk melihat keberadaan Briptu Galang. Laki-laki itu memakai kaos oblong dan dibandingkan dengan hari-hari biasanya, saat ini Briptu Galang terlihat lebih santai.
"Selamat datang," katanya dengan tersenyum.
Anna mendengar Fern dan Briptu Galang ngobrol panjang, namun setelah beberapa menit kemudian ia tak mendengarkannya lagi, karena perhatiannya terfokus mencari keberadaan Reihan. Ia menyusuri setiap sudut tempat itu dengan matanya. Mulai dari bawah pohon mangga, taman bunga sampai kolam yang hanya terlihat depannya. Namun ia tidak menemukan sosok itu.
Anna mendesah.
"Kalian sudah ditunggu, ayo ikut!" ajak Briptu Galang.
Anna dan yang lainnya mengikuti langkah Briptu Galang dan mereka sampai di sebuah tempat yang dipenuhi oleh meja dengan alat memanggang. Polisi-polisi yang kini memakai kaos oblong tampak sibuk memanggang ayam dan ikan.
Anna kembali mencari keberadaan Reihan. Setiap sosok yang ada di sana ia amati, namun tak ada satu pun yang akhirnya memuaskannya. Reihan tidak berada di sana.
"Kamu nyari siapa, Na?" tanya Fernanda.
Anna agak kaget dan membulatkan matanya. Ia kemudian menggeleng.
"Dari tadi gue kok nggak liat Briptu Reihan ya?" gumam Anggun dengan kepala celingukan ke segala arah.
"Iya, dari tadi gue juga nggak liat," sahut Anna.
"Lo nyari dia juga, Na?"
Anna melongo. Tidak sadar sahutannya akan membuahkan pertanyaan seperti itu oleh Anggun.
"Kenapa lo nyari Briptu Reihan? Tumben," tanya Anggun.
"Gue nggak nyari Briptu Reihan," timpal Anna. Ia memejamkan matanya. Pasti dirinya terlihat salah tingkah. Anna pura-pura memperhatikan jajaran pohon jambu yang ada di sebelah kanannya, namun ia tetap curi-curi pandang mencari Reihan.
Tiba-tiba terdengar petikan gitar dari arah saung yang ada di bagian dalam tempat itu.
"Briptu Reihan nyanyi!" sorak Anggun kepada rombongan wartawan yang belum sampai di saung. Anggun tadi sudah sampai saung dan kembali untuk memanggil rekan-rekan kerjanya.
Anna menaikan sebelah alisnya, Reihan nyanyi. Kemudian perlahan terbentuk senyuman di bibirnya.
Bersama yang lainnya ia menyusul ke saung, di salah satu saung, ia melihat Reihan duduk dengan memangku gitar. Dia memetik gitar dengan penuh penghayatan. Seluruh mata yang hadir di sana kini tertuju padanya.
Matamu adalah bukti nyata sebuah keajaiban
Bibirmu selalu menghadiahkan suara termerdu di semesta
Dan bila kau tersenyum, dunia bak tersihir kebahagiaan
Jadi, apa alasan untukku tidak jatuh cinta padamu?
Saat Reihan selesai menyanyikan lagu, tepuk tangan langsung terdengar menyambutnya. Dari tempatnya berdiri, Anna tersenyum.
Sepertinya Reihan sudah memutuskan untuk kembali bermusik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antagonis (21+) (SELESAI)
RomanceZivanna Nadia terjebak nostalgia. Ia masih mencintai Reihan, mantannya saat SMA yang membencinya karena Anna pergi begitu saja. Lalu seetelah 7 tahun berlalu, Anna kembali bertemu dengan Reihan dan ia ingin menjelaskan ke Reihan bahwa ia bukan tokoh...
