Anna memandangi laki-laki yang ada di hadapannya, laki-laki itu sedang tertidur dengan lelap. Ia pernah melakukan perjalanan seperti ini bersama Fern, tapi tetap saja rasanya berbeda. Setidaknya saat bersama Fern, ia tidak merasakan nuansa penuh bisikan mistik di dalam hati yang saat ini tengah ia rasakan.
Tiba-tiba mata Reihan terbuka. Ia memandang Anna yang masih memandanginya.
"Sekarang jam berapa?" tanyanya.
"Jam 7."
Reihan mengucek matanya. "Maaf ya aku ketiduran."
"Nggak apa-apa."
Reihan memandang Anna lekat-lekat dan mendekatkan wajahnya ke wajah Anna. "Kamu gendutan ya?"
Anna membulatkan matanya, kemudian menyentuh pipinya. "Nggak kok."
Reihan menyentuh pipi Anna dan kembali berdecak. "Iya. Kamu gendutan,"
Anna melepaskan tangan Reihan dari pipinya. "Rei, kamu baru bangun tidur. Kamu pasti kebawa mimpi."
Reihan tersenyum lebar dan mencubit pipi Anna yang sebenarnya sudah cukup tirus. "Pasti banyak guru yang pangling dengan kamu."
"Karena aku tambah cantik?" tanya Anna dengan tersenyum.
Sayangnya Reihan menggeleng. "Karena kamu makin tua."
Anna langsung melotot dan melempatkan tasnya ke arah Reihan. "Emang kamu nggak?"
Mereka kemudian tertawa bersama. Reihan tiba-tiba pindah posisi duduk di samping Anna, meminta penumpang yang duduk di samping Anna tukar tempat duduk dengannya. Anna memandangi Reihan dengan heran, namun tak lama kemudian Reihan menyandarkan kepalanya di pundak Anna.
"Aku kangen bersandar di pundak kamu," ucapnya.
Anna tersenyum dan tetap membiarkan Reihan bersandar di pundaknya sambil menikmati pemandangan yang disuguhkan di luar jendela kereta. Persawahan yang membentang di sekeliling rel dimana kereta melintas, ada rumah-rumah sederhana milik penduduk, sebagaimana biasanya rumah-rumah di pinggiran rel dan suasana pagi yang penuh dengan nuansa alamiah. Reihan meraih tangan Anna dan menggenggamnya, ia menceritakan cerita saat mereka masih SMA dan membuat Anna tertawa. Pagi ini semua berjalan dengan sesederhana itu, tapi Anna merasa sangat bahagia.
Anna keluar dari toilet dengan make-up yang sudah kembali ia bubuhkan ke wajahnya. Reihan menyambutnya dengan senyuman dan mereka sudah siap untuk mengunjungi sekolah mereka. Dengan naik bus, mereka menikmati pagi hari Kota Bandung yang tak banyak berubah sejak 7 tahun yang lalu.
"Ingat nggak dulu, kita bertemu pertama kali di bus," ucap Reihan.
Anna mengangguk. "Kamu bilang kalo lukisan aku bagus kan?"
Reihan mengangguk. "Nanti kalo kita menikah, aku ingin buat film pendek tentang perjalanan cinta kita berdua," ujarnya.
Anna memutar kepalanya memandang Reihan. "Emang siapa bilang aku mau nikah sama kamu?"
Reihan mengerutkan kening. "Jadi kamu nggak mau?"
Anna tersenyum menggoda. "Kita lihat saja nanti."
Begitu mereka sampai sekolah, mereka menemui guru-guru dan menyalami mereka. Hanya ada beberapa guru yang masih mengenali mereka, sedangkan yang lainnya sudah lupa. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar.
"Kalian sudah menikah?" tanya Pak Edi, guru Bahasa Indonesia yang dulu cukup dekat dengan Reihan.
"Belum, Pak," jawab Reihan. "Mohon doanya, Pak."
Setelah menemui Pak Edi, Anna menarik tangan Reihan untuk menemui Melly, teman sekelasnya yang sekarang menjadi guru di SMA tersebut. Melly tampak terkejut melihat kedatangan Anna bersama Reihan.
"Kalian balikan?" tanya Melly.
Anna menaikan bahunya. "Tanya saja dia!" jawab Anna menunjuk Reihan.
Melly memandang Reihan dan laki-laki itu hanya tersenyum.
"Kok bisa kalian bareng lagi?" tanyanya heran, karena setahu Melly, Anna dan Reihan berpisah setelah Anna pindah ke Surabaya.
"Itulah takdir," sahut Reihan.
Melly lalu menarik tangan Anna ke ruang kelas mereka saat masih SMA dulu dengan bertanya-tanya tentang kehidupan Anna saat ini, sedangkan Reihan masih berada di kursi panjang yang ada di dekat mading sekolah.
Anna dan Melly masuk ke ruang kelas dan mencoba kembali menikmati suasana sekolah tujuh tahun yang lalu.
"Setelah lo pindah ke Surabaya, kelas ini sepi banget," cerita Melly.
"Sepi karena nggak ada yang bisa lo ledekin lagi?"
"Nah itu salah satunya."
"Salah duanya?"
"Nggak ada yang mau nyontekin gue."
Anna tersenyum lebar. "Jangan-jangan lo bisa jadi guru karena nyontek?"
"Nggaklah," timpal Melly. "Tapi lo bisa ketemu sama Reihan lagi itu keajaiban banget lho."
Anna mengangguk. "Ya begitulah."
"Jadi kapan kalian mau nikah?"
Anna menaikan bahunya.
"Kalo kalian nikah jangan lupa undang gue lho."
"Iya."
Melly mengantar Anna kembali ke Reihan, kemudian bersama Reihan, Anna menonton pentas seni yang sudah dimulai. Ada berbagai macam kesenian yang ditampilkan hari itu, termasuk pementasan music dan ada juga pameran lukisan. Sesuatu yang belum ada saat mereka masih SMA.
"Aku yakin dulu kalo ada pameran kayak gini pasti kamu terkenal di sekolah, Na," ujar Reihan.
"Nggak juga."
"Kamu nggak percaya?" Reihan menunjuk lukisan yang dipajang di sana. "Dibandingkan dengan lukisan kamu, lukisan ini nggak ada apa-apanya."
"Itu kan menurut kamu, Rei," sahut Anna. "Kamu menilai secara subjektif, bukan objektif."
Reihan hanya mendesah mendengar jawaban Anna. Ia memandang Anna dengan lekat-lekat. "Na, setelah ini aku akan mengajak kamu ke suatu tempat. Aku harap kamu nggak akan melupakan hari ini selama hidup kamu."
***
Bus yang mereka tumpangi berhenti di depan pintu gerbang perkebunan teh. Reihan lalu menggandeng tangan Anna memasuki perkebunan teh. Sedangkan Anna masih tercengang melihat tempat yang tengah ia datangi. Tempat ini, tempat ini, merupakan tempat dimana Reihan menyatakan cintanya untuk pertama kali.
Kebun teh, lukisan dan musik.
"Kalo dulu aku sudah menyiapkan tempat untuk melukis, kali ini aku nggak menyiapkan apa-apa," ucap Reihan seraya menyusuri perkebunan teh dengan tangan terus menggandeng Anna. "Jika dulu aku bisa menyiapkan semuanya dengan matang, saat ini aku hanya bisa menyiapkan waktuku untuk kuhabiskan bersamamu. Jika dulu, aku bisa menghadiahkan kata-kata indah untukmu, saat ini aku hanya bisa menghadiahkan kehadiranku di sini untukmu. Saat ini aku nggak bisa menjanjikan apapun untukmu tapi aku mencintaimu."
Anna tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih. Kemudian tarik Reihan ke tengah-tengah kebun the dan ketika mereka sampai di sana, Anna memutar badannya. Menatap Reihan dan melingkarkan tangannya ke leher Reihan. Ia pandangi laki-laki itu dengan lekat, seolah tidak ingin kehilangan satu momentum dengannya.
"Aku nggak tahu harus ngomong apa, aku nggak pintar merangkai kata tapi satu yang pasti. Aku mencintaimu. Entah itu dulu atau sekarang, tidak ada yang berubah," ucapnya.
Reihan ikut tersenyum. "Aku tahu."
Anna menyentuh pipi Reihan dan perlahan ia mendaratkan ciumannya di sana. "I love you," bisiknya.
Reihan meraih tangan tangan Anna yang memegang pipinya, kemudian ia dekap tubuh gadis itu dan dengan ritme romantisme, ia kecup bibir Anna.
"I love you, I love you, I love you," bisik Reihan tepat di samping telinga Anna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antagonis (21+) (SELESAI)
RomanceZivanna Nadia terjebak nostalgia. Ia masih mencintai Reihan, mantannya saat SMA yang membencinya karena Anna pergi begitu saja. Lalu seetelah 7 tahun berlalu, Anna kembali bertemu dengan Reihan dan ia ingin menjelaskan ke Reihan bahwa ia bukan tokoh...
