🎶🎶
Jangan hanya bicara
Ku tak perlu kata-kata
Tuk mengerti yang kau rasakan
-TheOvertunes
***
Sesampainya di Jakarta, Ara kembali disibukkan dengan pekerjaan. Perjalanan dari Magelang cukup melelahkan, tapi karena ada Bidari-bawahan Pak Kala itu yang sangat ceria, jadi suasana terasa lebih ramai. Sangat menyenangkan melihat interaksi dua orang berbeda kepribadian itu. Menariknya Pak Kala yang kata Bidari itu sangat kaku itu ternyata bisa mengimbangi setiap ke-absurd-an Bidari dan Ara. Bidari terbilang baru di kantor, setahunya begitu. Tapi karena ia sosok yang easy going membuatnya cukup dikenal di satu kantor. Jadi ia tidak heran sebenarnya ketika perempuan seumurannya itu tiba-tiba menghubunginya sebelum ke Magelang beberapa waktu lalu tanpa interaksi yang intens sebelum itu. Hari ini saja mereka sudah janjian makan siang bersama.
"Pagi, Mbak?" Itu suara Alina menyapa Mbak Dayu. "Masih seger aja, Mbak?"
"Pagi." Dibalas dengan ramah oleh atasan mereka itu. Kebetulan ia berada tak jauh di belakang Mbak Dayu.
"Pagi, Ra," lanjut Alina ketika melihatnya.
Belum ia jawab ketika suara Dani mengalihkan fokusnya. "Aura lamarannya masih nempel, Mbak."
Jadi ia berjalan sambil menatap heran ke arah Dani yang masih mengangkat kepala menatap jenaka atasannya.
Sedangkan Dayu hanya tersenyum malu-malu lalu berlalu ke dalam ruangannya.
"Ha? Gimana?" Berbeda jauh dengan Ara, ia bahkan sudah memasang muka melongo.
"Ih, ada di group tau."
Ara masih berdiri di samping meja Dani. "Ih, itu serius?" Kemarin ia hanya membaca sekilas isi chat grup divisinya yang tiba-tiba ramai dengan ratusan pesan.
"Minggu kemarin Mbak Dayu lamaran," kali ini Alina membenarkan. Perempuan itu sudah duduk manis di kursinya.
"Demi apa?"
"Pantas lo diutus ke Magelang,"
Ara menggeleng-geleng kepala dramatis. "Bisa-bisanya nggak bilang-bilang,"
"Masih lamaran, nikahan nanti diundang, katanya kemarin."
"Nikah kapan?"
Alina mengangkat bahu. "Belum dikasih tau."
Ara tersenyum senang, ia segera duduk. "Senangnya pagi-pagi masuk kantor dapat kabar gembira."
"Iya kan? Langsung kayak semangat baget kerjanya. 45," Alina menyahut dari samping.
Ara masih tersenyum ketika sebuah pesan masuk dari adiknya. Ia bahkan tidak ketemu pagi tadi di rumah. Tidak di meja makan ataupun adiknya itu menghampiri ke kamar.
Ganiya
Mbak jemput.
Nanti soree.
Dianara
Siappp.
Dan ketika dijemput, adiknya tak cuma duduk diam di samping kemudi. Gani membawa kabar gembira yang sepetinya gadis itu tunggu-tunggu.
"Sabtu sore ayah datang."
Ara masih mencoba fokus dengan jalanan. "Kamu nggak bilang-bilang."
"Ya nggak mungkin juga kan Mbak Ara langsung pulang."
Tidak mungkin ayah datang tanpa membawa kabar itu. Jadi ia memberi jeda. Tanpa menatap adiknya di samping, ia bertanya. "Udah ada harinya?"
Seolah Gani memang sedang menunggu pertanyaan itu, ia menjawab dengan cepat. Mengangguk. "Udah. Ayah datang kemarin karna mau ngomong itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pulang
Romansa"Tak mengapa seperti ini, tak mengapa juga dengan sikapnya. Asal dia benar-benar pulangku." -Dianara Lantana Bratadikara "Egois tidak menjadi masalah, asal itu tentangnya." -Rayi Aresatya "Aku tidak mau mengulang kesalahan yang kedua kali. Cukup sek...
