🎶🎶
Ada yang takkan pernah ku mengerti
Karna tak pernah kulalui yang kau lakui
-Pamungkas
***
"Benaran rujuk cuiii," ujar Alina spontan. Mereka baru saja keluar dari lift dan perempuan itu sejak tadi berjalan sambil main hp.
"Siapa?" tanya Bidari. Ara bilang juga apa. Anak ini sangat mudah bergaul. Liat saja, baru tadi ia ajak makan siang gabung dengan Alina, dan dia tidak segan sama sekali untuk ikut. Bahkan tangannya dari tadi digandeng oleh perempuan itu.
"Disa?" tanya tanya Dani.
Alina mengangguk.
"Iya? Beneran? Mana? Coba gue liat," Dani menyerobot.
"Iya, ada temannya yang nge up. Tadi pagi gue liat," terang Bidari. Mereka berhenti. Ara juga, tapi ia tidak memiringkan badan untuk melihat beda dengan Alina juga Dani yang sudah sangat fokus di hp Alina. "Eh, nggak deng. Ada media juga. Udah ada di Ig nya Disa."
Meskipun Ara tidak ikut nimbrung, tapi ia tahu Alina dan Dani termasuk Bidari sedikit-sedikit melirik ke arahnya. Mereka kembali berjalan. "Pak Lian diundang nggak, ya. Secara mereka kan masih bisa dibilang akrab ya kan." Mungkin maksud Alina, Pandji mantan kekasih Disa itu diundang tidak. "Tapi kalau dipikir-pikir kayaknya nggak sih."
Tapi bukan tidak mungkin juga Lian dan Pandji diundang. Sudah jadi rahasia umum dari dulu sampai sekarang ketiga orang itu amat sangat dekat. Bahkan ketika Pandji dan Disa sudah berstatus sebagai mantan.
Diam-diam Ara merogoh ponselnya. Ia tidak terlalu mengikuti kehidupan selebritis. Jadi kalau bukan karen temannya itu, ia tidak akan tau. Dan memang benar. Di akun Ig Disa sudah ada foto Disa dan mantan-suami. Terpampang jelas. Foto dan video-video pernikahan itu sudah tersebar di sosial media. Mereka mengadakan pesta. Diliput dan sangat ramai. Sama seperti pernikahan sebelumnya.
Ara mengikuti, cukup intens mencari-cari. Bahkan ia juga melipir ke akun Ig laki-laki itu, ke akun Ig Pak Lian. Tapi tidak ketemu. Tak ada satupun foto yang menunjukkan sosok Pandji atau media yang berhasil menyorot Pandji.
Atau memang laki-laki itu tidak diundang? Atau mungkin diundang, tapi Pandji memilih tidak datang-patah hati untuk yang kedua kalinya.
"Ra, cepat!" Bidari memanggil, perempuan itu sudah menyerahkan helm ke arahnya. Ia berjalan agak lambat dan tertinggal agak belakang. Seperti rencana sebelumnya, Ara yang akan bawa motor. Sementara Alina sudah siap di atas motornya.
"Duluan guys." Dani meninggalkan parkiran lebih dulu. Laki-laki itu akan makan di luar juga, ia sudah janjian dengan istrinya.
"Ini serius lo nggak mau pinjam helm aja?"
"Nggak mau ah. Bau."
Ara hendak turun. "Ya udah, lo pake helm lo aja. Gue pinjam-"
"Nggak usah. Nggak ada polisi lagian," kata Bidari sudah duduk enteng di belakangnya.
Ara hanya mengangkat bahu. Tempat yang mereka tujuh cukup jauh dan Bidari tidak mau memakai helm, kalau Bidari yang memakai helm dan ia tidak, akan terlihat aneh.
"Ra, pulang nanti sama gue, ya. Mau dibonceng juga gue," kata temannya itu sebelum mereka meninggalkan kantor.
"Alah lo. Katanya mau pulang sama pacar," ejek Bidari.
Alina tertawa lebar. "Habisnya lucu sih Ara naik motor. Comel gitu. Pengen gue peluk-peluk dari belakang."
"Ah, mutar-mutar lo. Bilang aja badan gue ngembang kan."
"Ih, nggak. Nggak ngembang-ngembang amat. Cantik kok. Dari dulu kan begitu."
Bentuk tubuhnya sedari dulu begitu. Tingginya cuma 153 diwarisi dari ibu. Berat badannya cukup konsisten dari dulu, 57.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pulang
عاطفيّة"Tak mengapa seperti ini, tak mengapa juga dengan sikapnya. Asal dia benar-benar pulangku." -Dianara Lantana Bratadikara "Egois tidak menjadi masalah, asal itu tentangnya." -Rayi Aresatya "Aku tidak mau mengulang kesalahan yang kedua kali. Cukup sek...
