Berjalan pelan, Sanemi menikmati langit sore ditaman dekat rumahnya. Sepanjang perjalanan banyak yang menghindarinya karna melihat bekas luka diwajah. Menghela nafas gusar, Sanemi sudah terbiasa, malah sangat biasa dengan reaksi orang-orang tentang wajahnya. Mungkin mereka beranggapan bahwa dirinya itu mantan Preman, tak tau kah mereka, luka ditubuhnya ini bukti perjuangan hidupnya dari kecil melawan ketidak adilan, bukti bahwa dia selalu membela yang benar.
Ya, dari kecil Sanemi paling membenci namanya ketidak adilan, dan luka-luka ditubuhnya adalah bukti perjuangannya dalam membela kesetaraan. Mungkin bahasa kasar dan Tempramental yang keras membuat dirinya banyak dibenci dari dulu, tapi dia sama sekali tak perduli tentang hal seperti itu, karna yang diperdulikannya hanya Istri dan anak-anaknya yang beharga.
Ya, yang beharga baginya sekarang Zenitsu, Kanao, Inosuke dan Istrinya yang sedang mengandung, Shinazugawa Tanjiro. Mereka yang membuat Sanemi makin berani untuk hidup. Membuat Sanemi berani menentang bahkan dunia sekalipun. Ya, Sanemi akan melakukan apa saja demi mereka.
"kau tak pulang?" suara lembut yang sangat Familiar terdengar, menoleh ke asal suara, Sanemi tersenyum. Tanjiro ada disana, berdiri sambil Tersenyum, senyum yang selaku dirindukan Sanemi. Bahkan dalam mimpinya, Senyum itu selalu ada walaupun tiap hari mereka bersama.
"hey kau kenapa senyum-senyum seperti itu?" berjalan mendekat, Tanjiro menggenggam tangan Sanemi, hangat terasa menjalar ke tubuh si Rambut putih, Hangat yang akan selalu menjaukannya dari dinginnya dunia "katanya kau pulang cepat, tapi tidak ada dirumah. Malah berjalan-jalan sendirian disini" Tanjiro mengerucutkan bibir kesal, Terkesan lucu dan manis di mata Sanemi. Dicubit pelan bibir mungil itu dengan tangan kasarnya.
"kau yang kemana? Aku datang dan berharap istri tercinta akan menyambutku dengan senyuman dan pelukan, eh yang ku tunggu tidak ada, dasar"
Terkekeh pelan, Tanjiro tak membalas pertanyaan barusaan. Ditariknya tangan Sanemi, mengajak laki-laki itu untuk pulang. Sanemi pasrah saja ditarik, malah dia senang. Dinikmatinya setiap detik kebersamaan mereka di senja ini. Genggaman makin dieratkannya, tak ingin melepas barang sedetikpun, tak ingin kehangatan ini lepas.
Tanjiro berhenti mendadak, punggungnya tertabrak dada bidang Sanemi. Yang menabrak bingung dengan tingkah istrinya, kenapa berhenti? Sanemi membatin dalam hati. Tanjiro melepas genggamannya, berbalik dan menatap Sanemi dalam, tatapan yang tak bisa diartikan. Yang di tatap merasa bingung, entah kenapa tubuhnya terasa membeku ditempat, tenggorokannya terasa kering mendadak, mulutnya terkunci kuat, tak mampu mengucap kata-kata.
Tanjiro menatap sang suami dalam, dikalungkannya lengan dileher pemuda yang akan selalu dicintainya itu. Ditempelkan kedua dahi mereka, kedua insan itu dapar merasakan hangatnya hembusan pasangan mereka. Mengecup pelan bibir Sanemi, kecupan penuh cinta yang entah kenapa membuat Sanemi gelisah, tiba-tiba perasaan akan kehilangan muncul lagi di benaknya. Dadanya terasa sakit, nafasnya menjadi tak beraturan.
"Sanemi, apapun yang terjadi dimasa depan, berjanjilah kau akan selalu melindungi Anak-Anak, bahkan jika harus mengorbankan ku!"
Air mata mengalir tiba-tiba, Rasa sesak semakin menjadi Di dadanya. Senyum cerah Tanjiro terasa pedih menusuk menembus tulang tubuhnya. Rasanya menyakitkan, membunuh perlahan.
Tanjiro memeluk Sanemi kuat, pelukan yang terasa dingin tapi hangat secara bersamaan. "apapun yang terjadi, Aku akan selalu mencintai mu"
Pandangannya mengabur
Pendengarannya menipis
Nafasnya memburu cepat
Semuanya terasa gelap dan sunyi, hanya senyum itu yang terlintas di benaknya, Senyum hangat yang tak pernah terbenam, senyum yang selalu terbit di langitnya, terbit dihatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
We Baddas
FanfictionHidup memang kadang tak berjalan sesuai rencana Lihat saja meluarga Shinazugawa Satu ini Sanemi tak pernah berencana menikahi laki laki Tanjiro tak pernah berencana menikahi laki laki bahkan bisa sampai hamil empat kali Tapi lihatlah Mereka berdua m...
