Past Present Future III

973 83 15
                                        

Hujan turun dengan lebatnya. Bunga musim semi berjatuhan dibawa hempasan air. Orang orang terlihat lalu lalang dengan cepat dibawah lindungan payung

Mata menatap lembut tetes demi tetes, Kepala disandarkan di tegaknya lengan kanan diatasi meja. Tanjiro menatap pemandangan dibalik kaca dalam diam. Aroma Jasmin tea dan Ginger cake pesananya menyatu dengan hembusan aroma bunga basah --- menimbulkan aroma yang berkesan di Indra penciuman

Sepi dari hiruk pikuk suara obrolan, Cafe langganan tempatnya berteduh mengeluhkan lagu indah bernuansa hujan, membuat kesan tenang semakin menjadi.

Senyum kecil menyimpul sempurna, tangan menyentuh pelan kaca yang berembun, bergerak pelan melukis sesuatu--- lebih tepatnya menulis sesuatu, jari telunjuk bergerak manis dan perlahan ----

.

.

.

.

SANEMI







Nama itu tertulis jelas di jendela berembun itu



Mata bernada merah semakin melembut menatap hasil

.

.

.

.

Padahal dia memusuhi sang pemilik nama, beberapa kali bahkan sampai mensugesti diri untuk membencinya --- tapi ternyata kata orang terkadang ada benarnya, jangan pernah mencoba membenci seseorang --- mungkin saja orang itu akan terus menghantui pikiranmu

Tawa kecil mengalun tapi tak terdengar, tenggelam dalam bunyi hempasan rintik rintik basah

Bahkan sebelum dirinya mencoba mensugesti diri . . . . Nama itu selalu saja teringat di pikirannya, berputar menghantui isi imajinasinya, nama itu memiliki tempat sendiri di dalam pikirannya



Masih hidup saja kau menghantuiku seperti ini, bagaimana nanti kalau kau mati, ahhh.... Mungkin kau akan mengajakku paksa

.

.

.

"Huh? Tanjiro-senpai disini juga?"

Tanjiro kenal suara itu. Dia membalikan kepala mencoba memastikan

Rui, mahasiswa semester 4 dengan Prodi yang sama dengannya berdiri tepat disamping mejanya, menatapnya dengan senyum manis khas miliknya seperti biasa. Rambut hitamnya dan punggung baju terlihat basah, kesihan sekali anak satu ini, kehujanan.

"Duduk dan pesanlah sesuatu, kuteraktir"

"Hahaha... Terima kasih tapi Maaf, untuk tawaran duduk dan memesan dengan senang hati kuterima, tapi jika masalah kau yang bayar maka aku menolak, aku akan bayar sendiri.  Umm.... Bagaimana jika aku yang membayarkan pesananmu yang sepertinya tak tersentuh ini!"

We BaddasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang