4. Penguntit Ulung

1.3K 206 67
                                        

Jika Noona Jendela selalu menemaniku belajar, semua nilai-nilaiku pasti akan melonjak drastis. Dan boom! Aku lulus dengan gelar cumlaude.
_____

Seketika Jisoo mengubah mimik wajah. Bahu tegapnya terturun perlahan. Tidak sabar hendak melayangkan pukulan, namun juga mengajukan banyak pertanyaan di dalam hati. Sugar Baby? Jisoo pernah mendengar istilah ini. Tapi, apa itu Sugar Boy? Jisoo tidak pernah mendengar istilah ini sebelumnya. Apa itu? Bagaimana cara kerjanya? Berapa gaji yang akan ia dapat jika menyetujui tawaran Seokmin? Apakah ada risiko jika benar diambil?

Kepalan tangan Jisoo menghilang setelah beberapa saat lamanya berpikir. Kepala meneleng, menatap pemuda Lee di hadapannya itu dengan penuh rasa penasaran. Melalui reaksi yang Jisoo tunjukkan sekarang, ia yakin Seokmin bisa mengerti dengan sangat baik. Dan, keyakinan itu bukanlah omong kosong belaka. Dengan suka rela Seokmin menjelaskan maksudnya, tanpa harus Jisoo tanyakan terlebih dahulu.

Menggaruk tengkuk, tertawa canggung. Seokmin menggosokkan kedua telapak tangan. Tiba-tiba saja terasa dingin dan gugup. Noona Jendela benar-benar membawa atmosfer berbeda di dirinya. "Sebenarnya aku juga tidak yakin dengan istilah itu... Noona pernah dengar istilah Sugar Daddy?"

"S-sugar Daddy?" Seketika Jisoo diantar ke dalam ingatan lama.

Entah berapa bulan yang lalu. Yang pasti sudah sangat lama. Mungkin belasan bulan hingga menyentuh hitungan tahun. Saat istilah Sugar Daddy sempat menjadi perbincangan hangat di internet. Sebagai salah satu pelaku penulis artikel di internet, Jisoo juga sempat membahasnya. Detail hingga akar.

Baiklah... Ini sudah lebih dari cukup menjawab pertanyaan Jisoo sebelumnya. Kemarahan Jisoo yang sempat memudar kini kembali memuncak. Bahkan jauh lebih tinggi dari yang sebelumnya.

Jisoo marah besar. Ia merasa telah dihina. "Ya! Apa kamu sengaja mengubah istilah menjijikan itu karena lebih muda dariku? Daddy menjadi Boy? Dasar bodoh! Beraninya kamu..."

"Bukan seperti itu maksudku," Seokmin menyela. Membantah. Melindungi kepalanya yang hampir menjadi sasaran amukan Jisoo dengan kedua tangan. "Noona, dengarkan dulu. Sungguh. Aku tidak bermaksud seperti itu."

"Lalu apa maumu, hng?" Jisoo masih menantang, meski telah gagal melakukan pemukulan. "Dengar ya anak muda! Kalau kamu tidak bisa membantuku apa-apa, setidaknya jangan membuat kepalaku semakin pusing! Mengerti? Berhentilah membuntutiku. Berhenti mengintipku lewat jendela. Kamu tahu itu pelanggaran privasi? Mau kulaporkan ke polisi? Mau tumbuh menua di dalam penjara?"

Jisoo pergi, Seokmin meringis. Pemuda Lee itu hanya bisa memandangi Noona Jendela-nya dengan sedih. Terdiam di tempat. Semakin lama, tubuh kecil Jisoo semakin tenggelam di tengah keramaian para pejalan kaki lainnya. Perasaan Seokmin berkecamuk tidak karuan. Mulai dari sedih seperti baru saja ditolak cintanya, sampai penyesalan karena ia sudah membuat Noona Jendela kesayaangannya salah paham.

Tarik napas, hembuskan. Apakah perjuangan Seokmin untuk menarik perhatian Noona Jendela akan berakhir sampai di sini? Tentu saja tidak! Karena Noona Jendela sudah terlanjur sangat marah, mau tidak mau Seokmin harus berjuang jauh lebih keras lagi dari yang sebelumnya.

Seokmin membulatkan tekat. Jika mereka bertemu lagi, maka ia akan... Apa? Seokmin diam. Kehabisan rencana. Menggigiti kuku jari. Menendang angin selagi berpikir. Memandangi sekitar. Ada tiang listrik beberapa langkah di depannya.

"Aha!" Seokmin menjentikkan jari. Lampu berwarna kuning menyala di atas kepala. Mendapat ide, berkat melihat tiang listrik.

Tanpa menunggu waktu lama, Seokmin segera meraih ponsel genggamnya di saku celana. Menghubungi sahabat seperjuangan. Kim Mingyu. Pemuda berlebih kalsium setinggi tiang listrik. Meminta bantuan. Membujuk agar segera bertandang ke apartemennya. Ada hal penting yang hendak dibicarakan.

Sugar Boy (✓)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang