━━━━━━━━
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━
seperti yang udah dikatakan junia kemarin, hari ini dia beneran mau ngungkapin perasaannya ke evan.
diliat-liat aneh ya?
tapi, junia emang bener-bener yakin sama keputusannya. keputusan yang dibuat pun bukan sekedar keputusan cuma-cuma. dia seyakin itu.
gak tau junia dapet dorongan darimana dan itu juga masih menjadi tanda tanya buat seorang nana. ya gimana pun dia udah kenal lama sama junia, pastinya kaget denger sahabatnya bikin keputusan gini.
tapi selagi sahabatnya emang yakin, ya kita support aja lah yagak? toh rencana Tuhan gak ada yang tau.
"lo yakin nih, jun?"
"yaampun na, iya suer gue yakin banget ini. kalo dia dateng, lo keluar ya terus lo doain gue hehehehe"
"tapi gue yang takut jun..." gumam nana.
junia terkekeh, "gue yang mau confess, kok lo yang takut?"
"ya bukan git-"
"gue juga takut kok, na. sumpah setakut itu, cuma ini kemauan gue yang udah gak bisa diganggu gugat, oke?" jelas junia.
nana mengangguk pasrah.
"lagian lo kenapa tiba-tiba ada pikiran gini sih?" timpal nana.
junia ngangkat kedua bahunya, "gak tau, mungkin karena gue nonton drama jepang sama china ya lo saranin itu kali ya, na?"
"HAH? WAH SUMPAH" pekik nana. "ㅡih sumpah gue gak percaya."
junia ketawa lebar ngeliat betapa kaget sahabatnya itu.
"ih juniaaaaa!"
"HAHAHAHAHAHA"
"sumpah lo ya gak nyangㅡ"
"junia?"
"kata riki ada yang manggil gue dari kelas ini, lo yang manggil?"
junia mengangguk kikuk.
"kenapa manggil?"
junia langsung mengulurkan tangannya yang sedang memegang sebuah jaket. itu jaket nya evan, udah saatnya dibalikin coy.
"i-ini jaket lo, makasi ya?"
evan tersenyum tipis sambil ngangguk, "santai aja" jawabnya.
kedua nya sama-sama terdiam, terselimuti dengan suasana canggung.
"ada yang mau lo omongin lagi?" tanya evan memastikan.
junia mendongak menatap evan lalu dia mengangguk pelan.
"mau ngomong apa?"
"eum...anu...jadi..."
junia menggigit bibir bawahnya, dia menandak tidak fokus seakan lupa kalimat apa yang pengen dia lontarkan.
"jadi?"
junia mengambil nafas nya dalam-dalam untuk menghilangkan kegugupan.
"eumㅡgue suka sama lo"
akhirnya junia berhasil mengeluarkan kalimat inti, dia langsung nutup matanya karena takut.
namun terhitung beberapa detik, evan belum mengeluarkan suara. akhirnya junia membuka matanya dan melihat evan yang lagi natap dia.
"aduh gimana ya..." ucap evan sambil ngusap tengkuknya.
"eh g-gue gak berharap apa-apa kok! gue cuma mau ungkapin aja," tutur junia.
"ㅡtapi... jangan kasih tau temen-temen lo ya, gue... malu hehe" lanjutnya.
evan mengangguk kemudian tersenyum tipis.
junia langsung mengangkat jari kelingking nya, "janji?"
evan ikut mengangkat jari kelingkingnya juga dan menautkannya dengan jari junia.
gak lama, terdengar suara adzan dari toa Musholla sekolah.
"udah adzan, ga sholat?"
"ibadah gue hari minggu."
w juga kaget dia tautin jarinya, w kira bakal di tepis HAHAHAHAHA
btw, aslinya w gak beda kok sama si dia, jd tenang hehehehehe
ini emang w ambil dr pengalaman pribadi tapi ga 100%
EH MAMPIR KE MAS SEUNGWOO DONG HUHUW
