Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━
"ini temen-temennya evan mau dibikinin apa?"
junia dan yang lainnya kecuali evan, serentak langsung mengibaskan tangan mereka sambil bilang,
"gausah repot repot tan"
"iya tan, gausah baru dateng juga kok ini"
bunda evan terkekeh ngeliat perilaku mereka, "ya ampun gak ngerepotin kok, jarang-jarang temen evan yang dateng kesini" katanya sambil tersenyum manis.
"emang pada jaim, nda. niat kesini mah aslinya mau makan doang" celetuk evan dan bikin temen-temennya natap dia tajam.
"yaudah, nanti tante pesenin makanan. sekarang tante bikinin minum sama cemilan dulu ya?"
riki and the geng beserta nana ngangguk semangat, sedangkan junia cuma senyum tipis.
"evan bantuin, nda"
evan dan bunda nya pergi ke dapur meninggalkan junia and friends di ruang tengah.
junia memandangi lekat-lekat lambang salib di dinding rumah evan, itu adalah salah satu tanda pembeda antara ia dan evan.
junia menunduk dalam, nana yang ngeliat sahabatnya itu langsung ngusap-ngusap punggung junia.
"gue mau ke toilet bentar," junia bangkit dari duduknya dan berjalan ninggalin nana yang natap dia sendu.
padahal junia gak tau letak kamar mandi nya dimana cuma sebagai alesan aja biar gak keliatan sedih amat.
tanpa sengaja, dia ngelewatin dapur dan ngeliat cuma ada evan lagi nuangin sirup ke dalam gelas.
"eh itu sirup nya kebanyakan!"
mendengar pekikan junia, kegiatan evan menuangkan sirup ke dalam gelas langsung berhenti, dia menengokkan kepalanya melihat junia yang berjalan mendekati dia.
junia langsung memindahkan sirup yang menurut dia kebanyakan itu ke gelas lain.
"nih, cukup segini. kalo segitu nanti manis banget van"
junia mengambil alih pekerjaan evan yang menuangkan sirup ke dalam gelas.
evan hanya memerhatikkan junia yang sangat amat telaten. "gue baru tau kalo kebanyakkan bakal manis" katanya.
junia menoleh, "masa sih baru tau? baru minum sirup emang?"
evan ngangguk, "lebih suka minum air putih."
junia tersenyum tipis mendengar jawaban evan.
setelah semua gelas terisi oleh sirup, junia langsung nuangin air.
"loh kok jadi temennya evan yang ngerjain sih?"
kedatangan bunda evan sedikit membuat evan dan junia tersentak.
"loh? jadi maksudnya, harus tante yang melakukan ini?"
pertanyaan bunda nya evan bikin junia gelagapan. "e-eh bukan itu maksudnya tan, maksud aku, selagi evan punya temen cewe yang bisa bantu, y-ya kenapa engga gitu..." tuturnya.
bunda evan masih diam menatap lekat junia lalu gak lama kemudian dia tertawa kecil, "ya ampun kamu lucu banget sih? kan tante cuma bercanda sayang..."
"...makasi ya udah mau bantuin?" lanjutnya sambil mengusap lembut rambut junia.
junia hanya mengangguk kikuk,
dan evan tersenyum ngeliat bunda nya yang akrab sama junia.
sekarang jam 8 malam, junia lagi dijalan pulang, bersama evan.
tadi sih pengennya, dia naik ojol aja tapi langsung dilarang sama bunda nya evan, bunda nya minta evan untuk nganter dia.
dan dengan niatan gak pengen bikin bunda marah, jadilah junia turutin, sekalian bisa hemat ongkos.
"bunda kayaknya seneng sama lo"
"hm?"
"bunda seneng sama lo!" evan sedikit berteriak supaya suara nya terdengar sama junia.
"biasa aja ah!" junia berteriak balik.
gak lama, mereka nyampe dirumah junia.
"hati-hati turunnya, awas robek"
"hehehe engga"
junia turun dari motor evan dengan hati-hati terus nyodorin helm nya ke evan sambil bilang makasi dan evan jawab dengan anggukan.
baru aja junia mau masuk ke rumahnya, evan nahan tangan dia.
"kenapa?" tanya junia.
evan menatap junia dalam,
"gue suka sama apa yang bikin bunda seneng"
"........."
"maksudny—"
"gue duluan, good night."
evan melajukan motor nya kencang meninggalkan junia dengan segala kebingungannya.
ㅡㅡㅡ
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.