☾ twentysix : coffee

598 116 46
                                        

━━━━━━━━

━━━━━━━━

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━

"jun, mau nemenin gue ke gramed gak?"


junia menautkan kedua alisnya, "mau ngapain emang?"

"mau beli novel baru, udah lama gak baca novel. lo juga kan?"

junia memakai tasnya lalu menengok ke nana, "iya juga sih jadi kangen baca novel. ayuk deh"

nana senyum seneng. "cusss!"

junia sama nana berdiri dan berjalan keluar kelas sambil ngobrol.

saking asiknya ngobrol, mereka gak sadar kalo daritadi ada yang udah nungguin didepan kelas mereka.

orang yang nunggu itu sedikit bingung ngeliat junia sama nana jalan ngelewatin dia. berasa badannya gak keliatan.

akhirnya dia ikutin mereka dari belakang.

"junia!"

junia sama nana nengok barengan.

"loh evan?"

iya, yang nunggu itu si evan.

evan sedikit mengerucutkan bibirnya, "kalian gak ngeliat gue ya?" tanyanya.

"ha? emang lo dimana?" nana bertanya balik.

evan nunjuk tempat dia berdiri, "disitu. tadi gue nungguin junia disitu"

junia yang namanya disebut langsung kaget. "kok lo nungguin gue, van?" tanya junia.

evan ngusap tengkuknya sambil nyengir, "mau ngajak pulang bareng, hehe"

junia sama nana melotot barengan—kaget karena seorang evan tiba-tiba ngajak pulang bareng sambil bertingkah kayak gitu.

"aduh van, tapi—"

"oooo lo mau ngajak pulang bareng junia? yaudah nih anaknya juga butuh tumpangan emang" nana mendorong badan junia ke arah evan, "gue pulang duluan ya, nyokap nungguin nih. byeeee"

junia memutar bola mata nya sebal karena ngerti kenapa nana malah nyuruh dia balik sama evan. ya pasti biar si junia makin nempel.

"yuk?" ajak evan.

junia ngangguk pelan.

































"kok belok sini?!" tanya junia ngeliat evan dari spion.

evan nyengir, "mau ke suatu tempat dulu hehe"

selang beberapa menit, mereka nyampe ditempat yang evan ajakin.

junia turun dari motor dan ngeliatin tempat yang evan ajakin dengan teliti.

evan terkekeh. "helm nya lepas dulu kali," katanya sambil ngebukain helm nya junia.

"kenapa ngajak kesini?"

"disini minumannya enak-enak, gue traktir dehhhhh"

junia mendelik sebentar abis itu ngikutin langkah evan.

"mau pesen apa?" tanya evan.

junia tampak melihat-lihat nama minuman yang tertulis dipapan menu.

"eum— vanilla latte aja deh" jawab junia.

evan mengangkat sebelah alisnya, "seriusan kopi? suka?"

junia ngangguk-ngangguk.

"oh oke— pesen vanilla latte satu sama americano ya mba" ucap evan.

"atas nama siapa, kak?"

"evan"

"oke kak evan, mohon ditunggu"

evan ngangguk terus ngajakin junia buat duduk ditempat yang sampingan sama jendela.

"lo suka americano?"

"ngh—ya lumayan"

gak, evan bohong. aslinya tuh dia mau pesen avocado smoothie, cuma ngeliat junia mesen kopi jadi dia ikutan mesen kopi juga.

pas nunggu pesenan, mereka cuma saling diem karena canggung. evan sesekali lirik-lirik junia yang lagi liatin jendela. dia mau ajak ngobrol tapi bingung mau topiknya apa.

"atas nama kak evan? ini pesanannya ya kak"

"ohiya, makasi mba"

junia langsung ngaduk-ngaduk minumannya abis itu dia minum. "bener kata lo, minumannya enak, beda sama tempat yang lain" katanya.

evan senyum, "ya pasti bener dong hehe"

sekarang, tinggal giliran evan yang minum pesanannya. dalam hati sih ragu-ragu banget buat minum, kalo ngerasain pait, takut muka nya tiba-tiba bereaksi gitu.

sluurrppp

evan nyeruput americano nya dan bener aja muka nya langsung bereaksi, untung junia lagi asik ngeliatin keluar jendela.

"van,"

"ya?" muka evan langsung berubah seperti biasa.

"jadi anak ipa susah gak?"

"gak susah-susah amat" ucapnya yakin terus mulai minum americano nya lagi.

junia yang ngeliatin evan minum, sadar kalo ada yang salah dari raut muka evan.

"lo beneran suka americano?" junia bertanya lagi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"lo beneran suka americano?" junia bertanya lagi.

evan ngangguk ragu. "y-ya iya, emang kenapa?"

"gapapa sih, soalnya muka lo kayak kepaitan gitu"

jujur, evan membenarkan omongan junia di dalam hati nya. rasanya pengen teriak pait, cuma harus jaim depan doi.

"evan,"

"hm?"

"makasi ya"

"buat?"

junia natap evan sambil senyum. "ngajak gue kesini. gue suka"

seketika, americano yang evan minum berasa manis dimulutnya. evan tersenyum lebar denger omongan junia.

evan cengengesan sambil ngangguk-ngangguk dan nyeruput minumannya terus sampe abis tanpa mempedulikan itu pahit apa gak.

hatinya berbunga-bunga soalnya.

Different ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang