'Aku suka hujan, saat hujan mempertemukanku denganmu untuk pertama kalinya.'Aprilia maures
***
Hari itu, hujan begitu deras. Kilat menyambar di sertai guntur yang terdengar menakutkan.
Gadis cantik berambut sebahu, berjalan menerobos derasnya hujan di jalanan yang sepi. Kala itu, hidupnya begitu kacau, air mata menyatu dengan air hujan.
Putus cinta memang sudah menjadi hal yang biasa untuk anak muda, namun gadis lemah seperti dirinya tak mampu merelakan orang yang di cintainya bahagia bersama orang lain, dadanya terasa sesak mengingat bagaimana orang yang sudah menjadi mantan kekasihnya itu tersenyum bahkan tertawa bersama pasangan barunya. Rasanya sangat sakit di dalam sana. Hatinya tidak sanggup menerima, sungguh.
Tatapannya kosong, dia terlihat seperti orang yang tidak mempunyai tujuan hidup. Orang-orang yang sempat berpapasan dengannya sampai bergidik takut. Namun, seorang pria yang baru saja turun dari mobilnya, menghampiri dengan payung hitam besar di tangannya.
"Hei, apa kau sudah gila?" tanya pria itu.
Tak ada sahutan, gadis itu terus berjalan Tak menyadari kehadiran pria dihadapannya.
"Ayo sini." Pria itu memberanikan diri menarik gadis itu untuk berteduh di bawah payungnya. Sontak, gadis itu tersentak menatap intens pria di hadapannya kini tanpa mengatakan sesuatu. Buram, penglihatannya buram tak dapat melihat secara jelas wajah pria di hadapannya ini. Ingin memberontak rasanya tak sanggup.
"Nama lo siapa? Kenapa sampai hujan-hujanan seperti ini?" Lagi-lagi pria itu bertanya.
"Lo siapa?" Bukannya menjawab, gadis itu malah balik bertanya.
"Gue tanya, kok malah balik nanya ... Ya sudah, ikut gue aja. Gue antar lo pulang." Pria itu menggenggam tangannya, mengiringnya sampai ke mobil.
Gadis itu sempat memberontak namun akhirnya pria asing itu berhasil menenangkannya.
"Duduk, dan pasang sambut pengamannya." Sangat ramah, gadis itu bahkan tak dapat mengatakan sesuatu lagi sampai mobil itu melaju dengan kencang.
Pertanyaan tentang siapa pria itu, masih belum terjawab. Dan kali itu, dia benar-benar lelah dan tidak mempunyai tenaga meskipun hanya berbicara sedikit saja.
Pria itu juga memilih diam, mungkin dia bingung mau mengatakan apa.
Mobil terus melaju, namun gadis itu masih terdiam. Pria itu juga sesekali meliriknya, mulutnya terlihat ingin bersuara namun selalu ia urung. Sampai ia menghembuskan napas beberapa kali.
"Rumah lo dimana?" Ia pun akhirnya bertanya.
"Dari sini, belok kanan."
Pria itu mengangguk, kemudian membelokkan mobilnya sesuai intruksi yang di berikan sang gadis.
"Aku turun di sini."
Gadis itu berseru lagi."Baiklah." Mobil berhenti, dan gadis itu turun.
"Terimakasih, gue duluan." Ucap gadis itu, dan pria yang memiliki sedikit kumis di bawah hidungnya hanya mengangguk kecil. Setelah itu melajukan kembali mobilnya.
Hari itu adalah pertemuan pertama yang menyiratkan banyak arti, pertemuan singkat yang membawa ketenangan. Namun setelah hari itu, mereka tak saling bertemu lagi. Hati yang seharusnya terluka, sudah mulai membaik digantikan dengan rasa penasaran dan kerinduan yang mendalam terhadap orang yang menolongnya kala itu. Saat bertemu dengan pria itu, rasa sakitnya seakan menghilang. Semuanya terasa berubah, pria itu benar-benar membawa rasa penasaran dalam hati kecilnya dengan sekejap.
***
Langit sedikit memendung, namun tidak melunturkan semangat Aprilia untuk tetap berangkat ke sekolah. Baginya, sekolah adalah tujuan utamanya, selain untuk bertemu kembali dengan pria penyelamatnya itu.
Berjalan kecil ke halte yang tidak jauh dari rumahnya, sambil terus melirik langit yang sebentar lagi akan turun hujan. Demi menghindari hujan, kaki pendeknya menuntunnya untuk berlari kecil sampai ke halte.
Baguslah, kali ini keberuntungan berpihak kepada Aprilia. Hujan turun ketika ia sampai di halte, namun tetap saja kesialan ikut serta di dalamnya, gerbang sekolah sebentar lagi akan tertutup namun hujan semakin deras saja. Hal itu membuat Aprilia hanya dapat menghembuskan napas gusar dan sesekali ia mengusapkan kedua telapak tangannya, untuk merasakan kehangatan.
"Huh, menyedihkan." Gumam Aprilia, sembari duduk di kursi panjang yang di sediakan disana. Memandangi hujan yang mengingatkannya pada seseorang.
Ingatan akan pria itu kembali muncul, wajah pria itu tidak bisa ia lihat dengan jelas. Namun, suaranya yang begitu lembut dapat menenangkan hatinya yang terluka kala itu. Membuat keinginan untuk bertemu pun akhirnya semakin hari semakin menjadi.
Pip...
Suara klakson mobil, tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Aprilia mendengus kesal, sebentar. Kemudian, maniknya ia tujukan ke arah mobil yang tak asing di indra penglihatannya. Mobil sedan berwarna hitam pekat, sempat pernah ia tumpangi setiap hari, namun itu dulu saat semuanya masih baik-baik saja.
Pemilik mobil pun turun, menggunakan payung hitam besar yang lagi-lagi mengingatkan Aprilia akan pria itu.
"Hai, masih di sini juga?" Pria itu tersenyum tipis.
Aprilia mengangguk kecil, tanpa tersenyum sedikitpun. Luka di dalam sana tiba-tiba muncul kembali saat melihat wajah orang itu.
"Bareng gue yuk?"
Berani sekali dia, mengajak Aprilia berangkat bersamanya setelah apa yang di lakukannya beberapa bulan yang lalu. Namun, Aprilia tidak semudah itu lagi tertipu oleh senyuman muslihatnya.
Aprilia hanya diam tak menanggapi ajakan pria itu.
"Kok diam, masih marah ya?" tanya pria itu seakan masalah beberapa bulan lalu hanyalah lelucon.
Aprilia menghembuskan napas gusar, memutar bola mata malas lalu bangkit.
"Ayo!"
Mendengar persetujuan dari Aprilia, pria itu kembali tersenyum tipis dan melangkah menuju mobilnya, membukanya lalu masuk.
"Lo belum maafin gue, ya?" tanya pria itu sembari menyalakan mobilnya, kemudian melajukannya dengan kencang, seperti biasa.
"Diem aja, Dirga!" Aprilia berdecak kesal.
"Iya-Iya."
Part pertama, kurang menyentuh? Mohon maaf.
HeheeVote and comment.
Tidak akan rugi, percayalah.:-)
Follow, mau di follback, Dm aja.
@RissArrahmanIG: @rismaaa-selayar

KAMU SEDANG MEMBACA
Sebuah pilihan
Teen FictionBagaimana jika akhirnya kau di paksa untuk memilih? Kira kira siapa yang akan menjadi pilihanmu, jika tiga orang secara bersamaan berlomba-lomba menggapai cintamu? Dan apa yang bisa kau lakukan? Kau hanya akan memilih siapa yang diinginkan hatimu. A...