______Senin.
Pagi yang selalu membuat Aprilia terlihat murung, bukan karena tidak ingin mengikuti upacara tetapi wajah pemberi amanatlah yang merusak moodnya, dengan kepala botak dan kumis panjang Bapak kepala sekolah yang saat ini sedang mengoceh, benar benar membuat mata Aprilia ingin copot dari tempatnya.Sadar akan situasi, Albi yang sengaja berdiri di samping Aprilia tersenyum tipis, sesekali tangannya nakal mencubit lengan Aprilia. Membuat gadis itu meringis kesakitan, tapi hal itu tidak mempengaruhi Albi untuk berhenti menjahili pacarnya itu.
"Bi, sakit." Aprilia menatap tajam ke arah Albi yang hanya terkekeh.
"Awas aja entar." Lanjutnya, dan kembali mendengarkan amanat musuh terbesarnya.
"Gue tunggu pembalasan lo, sekarang juga boleh." Bukan Albi jika tidak cerewet dan malu maluin.
"Diem Albi, kalau ada guru yang denger kita bisa di hukum." Aprilia sedikit berbisik, ia sedikit mengangkat kepalanya menghadap Albi yang jauh lebih tinggi darinya dengan tatapan tajam tentunya.
"Gak papa, asal sama kamu. Aku siap kok."
"Akunya yang gak siap." Ketus Aprilia.
"Ciee, aku kamu-an nih sekarang?" Goda Albi.
"Bodo Bi, bodo amat. Gue gak denger."
"Ciee ngambek." Albi menoel pipi Aprilia, membuat gadis itu meringis kesal.
Selama upacara berlansung, kedua sejoli itu tak hentinya beradu mulut, guru yang berjaga di belakang mereka bahkan beberapa kali menegur namun tetap saja mereka ribut, dan itu mengundang teman temannya untuk ikut bercerita.
***
Setelah satu jam lamanya melaksanakan upacara, akhirnya mereka bisa bernapas lega, duduk santai di kantin sambil menikmati minuman dingin dari Ibu kantin yang cantik jelita, Aprilia sering mengatakan bahwa Bu Jenih mirip dengab Karina kapoor, aktris bollywood itu.
"Sana Bi, gak usah pegang pegang gue." Jika yang lainnya happy, berbeda dengan Aprilia yang masih kesal kepada Albi yang sudah mengganggunya selama upacara.
"Yee, ngambek." Albi menoel dagu Aprilia, senyumnya sangat menggemaskan membuat cewek cewek yang ada di kantin menjerit heboh.
"Jangan deket deket!" Aprilia menekankan kata katanya, kemudian melipat tangannya di atas meja dengan tatapan menusuk. Siapa saja yang melihatnya pasti tersenyum kecil, pasalnya gadis itu tak pandai dalam hal itu, bersikap dingin dan menusuk tidak pantas untuknya. Dari orok emang anak itu, periang dan gampang tersenyum.
"Jangan ngambek lagi dong sayang, aku minta maaf." Ucap Albi, ia tidak bisa lama lama melihat ekspresi itu dari raut wajah Aprilia.
Aprilia seketika menoleh kearahnya, "Gue akan maafin lo, tapi dengan satu syarat." Senyuman yang menjadi favorit Albi kembali terpancar.
"Syarat?"
"Iya."
"Yaudah, apa syaratnya?"
"Jangan deket deket sama cewek lain, gue lihat kemarin lo kecentilan sama cewek itu." Aprilia menunjuk salah satu siswi yang ada di rombongan cewek cewek hits di sekolah Perwira.
Albi tersenyum tipis, dia sudah paham dengan kekesalan kekasihnya itu, ternyata gara gara cewek ya?
"Oh, oke. Syarat di terima."
Aprilia tersenyum senang, "Janji?" Dia mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Albi, bukan karena takut Albi selingkuh, tapi---ah, Aprilia juga bingung.

KAMU SEDANG MEMBACA
Sebuah pilihan
Novela JuvenilBagaimana jika akhirnya kau di paksa untuk memilih? Kira kira siapa yang akan menjadi pilihanmu, jika tiga orang secara bersamaan berlomba-lomba menggapai cintamu? Dan apa yang bisa kau lakukan? Kau hanya akan memilih siapa yang diinginkan hatimu. A...