Bagian sebelas

68 8 0
                                    

____

Aprilia duduk di kursinya di temani oleh Sari, entah mengapa dua hari belakang ini Aprilia terlihat murung, tidak seperti biasanya. Takutnya penyakit gagal move on-nya kambuh lagi.

"Piala? Lo kenapa lagi?" tanya Sari, sesekali ia menoleh ke arah Bian yang tersenyum kearahnya.

"Gak papa, Sar."

"Tapi lo gak kayak biasanya, lo galau lagi? Mikirin curut itu lagi? Atau lo ada masalah sama Albi?" tanya Sari beruntun, yang hanya membuat Aprilia tambah pusing.

"Gue gak papa, Sari." Aprilia bangkit tanpa memberi jawaban yang di inginkan Sari, gadis itu pun kembali ke tempatnya dengan wajah yang di tekuk.

"Kanapa sayang? Di gak mau cerita?" tanya Bian.

"Iya, aku sedih sayang." Sari menyenderkan kepalanya ke atas bahu Bian, pria itu diam saja membiarkan Sari melakukan sesukanya.

'Apa yang membuat lo seperti ini, Prill?' Batin Bian bertanya tanya.

Berlalu dari sepasang kekasih itu, kini Aprilia sedang duduk termenung di rooftop. Sinar matahari yang begitu menyengat tidak membuat Aprilia bergerak dari tempatnya, tatapannya kosong kedepan, tak ada tanda tanda kehidupan dari tatapannya, entah apa yang membuatnya sesedih itu.

Seseorang yang baru saja datang, mengernyit heran. Dia sangat kenal siapa gadis itu, dan dia juga tahu kapan saatnya Aprilia datang ke tempat itu.

Pria itu mendekat, duduk di samping Aprilia tanpa mengatakan sesuatu. Sementara Aprilia yang sadar akan kehadiran pria itu, ia hanya menoleh sebentar, lalu kembali menatap kosong kedepan.

"Kamu ada masalah?" tanya Albi, orang yang menemaninya beberapa hari terkahir ini.

Aprilia diam tak menjawab, pikirannya berkecamuk. Melihat hal itu, Albi memegang bahu Aprilia.

"Aku tahu kamu ada masalah, kalau gak mau cerita gak papa."

"Maaf." Aprilia menatap Albi, membuat Albi salah tingkah.

"Gak papa, yuk balik kelas. Sebentar lagi bel pulang." Albi beranjak meraih tangan Aprilia, dan menggenggamnya dengan kuat, rasa tak mau kehilangan pun berkecamuk dalam hatinya.

***

Aprilia memasuki mobilnya, kemudian melaju dengan kencang, tak memperdulikan Albi yang masih menunggu Ali di pintu gerbang, dia juga sudah mengajak Albi ikut bersamanya namun pria itu menolak, Aprilia tidak bisa apa apa, jika itu sudah menjadi keputusan Albi.

Tak lama dari kepergian Aprilia, mobil sedan berwarna putih cerah milik Ali berhenti tepat di hadapannya. Albi tersenyum tipis ke arah Pak Budi sebelum memasuki mobil.

"Lama banget sih." Omel Albi, ketika duduk di kursi depan.

"Masih untung gue jemput."

"Serah lu, nyet."

Ali hanya terkekeh, melajukan mobilnya menjauh dari area sekolah.

Lima belas menit lamanya, Ali menepikan mobilnya di salah satu cafe, cafe yang sama tempat Albi nongkrong ketika sedang sedih.

"Ngapain kesini?" tanya Albi.

"Ikut aja." Ali memakai kacamata hitamnya, kemudian melangkah memasuki cafe, di ekori Albi dari belakang.

Seketika kedua pemuda tersebut menjadi sorotan utama di cafe itu, namun itu tak berpengaruh apa apa untuk keduanya, mereka hanya acuh kemudian duduk di salah satu bangku di cafe itu.

"Bisa cerita, alasan anda membawa saya ke sini?" Albi bertopang dagu sembari menunggu penjelasan dari Ali.

"Gue mau ketemu sama seseorang." Ucap Ali, namun itu hanya membuat seorang Albi semakin merasa penasaran.

"Siapa?"

"Lo bakal lihat entar."

Diam, Albi memilih diam. Walau ia menangis kejang kejang di atas lantai, Ali tidak akan mau memberi tahunya.

"Ali, Albi "

Suara yang tak asing dari keduanya, sontak membuat Ali dan Albi menoleh. Ali melempar senyum  ke arah orang itu, namun Albi hanya melempar tatapan benci.

"Ngapain lo minta dia ke sini?" tanya Albi kesal.

"Dia Yang minta."

"Kenapa gak bilang ke gue dulu?"

"Kalau gue bilang, apa lo bakal setuju?"

Albi menggeleng keras, jelas dia tidak akan setuju. Tidak akan pernah, karena melihat orang itu saja sudah membuatnya sulit untuk bernapas dengan tenang.

"Maafin saya Al." Ucap wanita yang sudah duduk bersama mereka.

"Saya gak kenal dengan anda, sebaiknya anda pergi." Albi enggan melihat ke arah wanita parubaya itu.

"Bi, ngomong yang sopan. Bagaimana pun juga di itu Ma--"

"STOP, gue gak mau denger itu lagi. Gue benci." Potong Albi cepat.

"Albi, saya tidak bermaksud menyakiti kamu. Saya menyesal melakukan semua ini, saya minta maaf." Wanita itu tak mampu lagi membendung air matanya. Dalam hati Albi terluka melihat orang yang sangat ia sayangi menangis di hadapannya, namun di sisi lain hatinya juga sangat terluka karena perbuatan wanita itu yang sampai saat ini belum bisa Albi maafkan.

"Mama sebaiknya pulang, Albi belum siap menerima semuanya." Ali menatap wanita itu sebentar, dia juga kesal, marah, kecewa, pokoknya campur aduk. Namun ia berusaha bertindak dewasa, di posisi sekarang sangat berat ia melawan takdir yang harus memisahkannya dengan orang yang ia sayang.

"Saya harap, kalian bisa memaafkan saya. Saya pergi dulu."

Sakit, hati Albi sangat sakit. Ia tidak ingin membenci orang itu, namun keadaanlah yang membuat kekacauan ini.

"Udah, Bi. Yuk pulang."

Albi mengangguk. Di sini dia bingung, sebenarnya dia yang terlalu jahat atau Ali yang terlalu baik. Ali yang notabennya tegas dan gampang marah saja santai dan tidak emosi, dan juga bisa nenerima wanita itu, sementara dirinya menolak mentah mentah kehadiran orang tersebut.

Albi tak tahu harus bersikap kayak gimana ke orang itu, yang jelas dia tidak ingin melihat orang itu lagi, sampai kapanpun.

Yuhuuuuuuuu, gimana kabar kalian?
Baik semua kan?

Syukur lah, heheh.

Oh iya, jangan sampai lupa vote dan comment nya guys.

Terimakasih sudah baca.

Sebuah pilihanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang