Bagian Empat Belas

41 5 1
                                        


Happy reading:-)
.

.

.

Pagi ini cukup cerah, sama sekali tak melunturkan semangat Aprilia mengikuti pelajaran olahraga yang selalu ia hindari selama ini. Jika hari sebelumnya ia hanya duduk manis di bawah pohon besar dekat lapangan, kali ini berbeda, di tengah lapangan Aprilia ikut serta memainkan salah satu olahraga bola volly.

"Kok tumbeng ya Pilla semangat olahraganya," bisik Rasel bingung, sesekali menyeka keringat di dahinya.

"Gimana gak semangat, kalau ada Albi." Sari tersenyum kecil sambil terus memainkan bola di tangannya.

"Albi?" tanya Lesta.

"Yap, Albi. Gue rasa Albi pantas menggantikan posisi Dirga!" Sari melempar bola yang di pegangnya ke arah Rasel.

Lesta mengangguk setuju, "Semoga Albi bisa membahagiakan Pila," ucapnya penuh harap.

"Yaudah yuk, kita kesana." Rasel berlari kecil ke arah Aprilia dan Albi yang sejak tadi bermain berdua saja. Tampak Aprilia sangat bahagia, bahkan senyum diwajahnya tak pernah pudar. Orang-orang yang melihatnya ikut senang, terlebih pak Anton-selaku guru yang bersangkutan, karena biasanya muridnya itu hanya akan mengikuti olahraga jika pengambilan nilai saja.

"Acieee yang lagi berduaan," goda Rasel, gadis itu benar-benar menyebalkan.

Aprilia tersenyum malu, berbeda dengan Albi yang langsung memasang mimik kesal, "Ganggu aja!" ucapnya dan segera berlari kearah teman-temannya.

"Ngambek dia, hahaha!" ucap Sari disela tawanya.

"Kayak cewek lu ngambekan," tambah Rasel.

"Udah, berisik banget sih!" sergah Lesta.

"Lanjut main guys," timpal Apriliaa menetralkan rasa malunya. Mereka pun akhirnya bermain bersama.

***

Setelah bel pergantian jam berbunyi, Aprilia dan semua teman-temannya memutuskan kembali kelas. Cukup lelah, namun menyenangkan. Kehadiran Albi membuat gadis itu sedikit melupakan masalahnya.

Berjalan beriringan menuju kelas sesekali terbahak saat Aldi, cowok paling rese itu melontarkan jokes yang membuat mereka tak mampu menahan tawa. Aldi benar-benar lucu dan menggemaskan, karena itu tak sedikit orang yang menyukainya.

"Terus pas cewek itu duduk di samping gue sambil senyum gak jelas, gila anjir! Rasanya gue mau menghilang saat itu juga," Aldi terus berceloteh.

"Kenapa memangnya?" tanya Sari polos.

"Giginya ompong, iyuh!" jawab Aldi, sontak semua orang kembali tertawa.

"Gila! Cantik-cantik ompong, hahaha!" timpal Rega, teman Aldi.

"Semenjak itu gue gak mau lagi kenalan online, kapok sumpah!" Aldi bergidik ngeri.

"Yaudah sama gue aja, Di." Gadis yang cantik berambut panjang menimpali.

"Ogah, gak level gue ama lo!" tolak Aldi, dan sekali lagi berhasil membuat teman-temannya terbahak.

"Parah, Mel. Secara tidak langsung Aldi ngatain lo jelek tuh" Albi terkikik, berniat mengusili dan berhasil membuat gadis itu tersulut emosi.

"Aldi!" Pekik Amel, membuat Aldi gegas berlari menjauhinya. Hingga terjadilah aksi kejar-kejaran antara dua remaja itu

Setibanya di kelas mereka langsung disuguhi pemandangan yang membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal, saat ini Aldi tidur tengkurap di atas lantai dengan Amel duduk diatasnya seraya menjambak rambutnya. Rasanya lebih mengerikan dibandingkan gadis bergigi ompong itu.

"Terus Mel, jangan kasih ampun!" Albi berseru lantang yang seketika mendapat tabokan dipunggungnya.

"Gak boleh gitu." Albi menyengir kuda mendapat tatapan tajam dari gadisnya itu.

Aprilia menghembuskan napas kasar,  "Kalian semua duduk dan berhenti tertawa," pinta Aprilia, seketika semua orang mendadak bungkam dan gegas berlari ke tempat masing-masing.

Mereka tak akan mengambil resiko karena kemarahan gadis itu lebih mengerikan lagi dibanding apa yang dilakukan Amel barusan.Bahkan Amel saja menurut dan langsung bangkit meninggalkan Aldi yang masih meringis kesakitan.

"Bangun, Di." Aprilia mengulurkan tangannya dan disambut baik oleh pria itu. Sementara di tempatnya Albi tengah menahan cemburu.

Disisi lain, Dirga dan teman-temannya asik membolos di taman belakang sekolah. Saat ini pikiran Dirga rasanya sangat kacau, entah mengapa gadis yang merupakan mantannya itu selalu terbayang di ingatan. Bahkan membuatnya selalu ingin melihat gadis itu.

Apa dia telah salah meninggalkan Aprilia demi gadis lain? Tetapi ia merasa lebih mencintai Sakira dan yang ia lakukan itu sudah pasti benar.

Bukankah tujuannya memacari Aprilia hanyalah sebuah keterpaksaan? sekedar kasihan saja, lantas perasaan apa ini? Dirga benar-benar bingung dengan apa yang sebenarnya diinginkan hatinya itu.

Sekelebat kenangan akhirnya muncul kepermukaan, dimana masa-masa indah itu terputar kembali diingatan.

Kala itu, Aprilia tertawa bahagia saat menemukan Dirga tengah terjatuh karena tersandung batang kayu yang ada di pantai itu.

Dirga yang sempat menggerutu kesal, malah ikut tertawa. Bangkit dan kembali berlari, Aprilia yang merasa kecolongan gegas mengejar pria itu.

Kedua sejoli itu tertawa bahagia dibawah terik matahari yang mulai menyengat kulit. Namun hal itu sama sekali tak mempengaruhi remaja yang sedang di mabuk asmara itu, seakan dunia hanya milik berdua.

"Woy! Jangan suka melamun lo, mau kesambet?" seruan pria yang berkulit gelap berhasil membuyarkan lamunan Dirga.

"Astaghfirullah, kaget kambing!" sarkas Dirga.

"Ya sorry, hehe." Pria berkulit gelap itu menyengir lebar.

"Lagian lo kenapa sih, ada masalah?" tanya pria yang rambutnya agak panjang kecoklatan, sejak tadi ia sudah memperhatikan gelagat Dirga yang terlihat sangat gelisah.

Dirga menggeleng singkat sebagai jawaban, lalu bangkit dan melangkah jauh dari tempat itu. Ia tidak ingin sahabatnya bertanya lebih lanjut dan membuatnya terjebak.

Kedua remaja itu saling menatap, sebentar. Sebelum akhirnya pria berkulit gelap itu menghembuskan napas berat, "Palingan dia cuma bingung dengan perasaannya sendiri."

Pria berambut panjang kecoklatan itu memilih diam, membaringkan tubuhnya di atas rumput. Memikirkan hal apa kiranya yang membuat Dirga segelisah itu.

Thanks for reading, jangan lupa vote dan coment.

Lopyu puuuull 😘

Sebuah pilihanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang