Happy reading,
Jangan lupa vote dan komen:-)
•
•
•
Seperti biasa dihari Minggu Aprilia bangun agak siang, lagipula tidak ada yang bermasalah dengan hal itu. Masih dengan posisi tidurnya ia mendengar suara decitan pintu yang terbuka. Mungkin Ayan atau ibu Tatih, pikirnya. Gadis itu bahkan enggan untuk bangkit dari tempat tidurnya.
Suara derap langkah yang kian dekat dengannya, membuatnya mendongak menatap siapa orang itu. Dan tepat di hadapannya seorang pria tersenyum manis kearahnya. Namun detik itu juga Aprilia memalingkan wajah. Untuk saat ini ia tidak menginginkan kehadiran pria itu, ia sudah terlampau kecewa dengan apa yang terjadi kemarin.
Albi menggeser kursi kesamping tempat tidur gadis itu, lalu duduk, masih dengan senyum manisnya.
"Baru bangun?" tanya Albi, santai. Rupanya pria itu sudah melupakan masalah kemarin. Mengingat hal itu membuat Aprilia kesal sendiri.
Aprilia tak bergeming, ia akan diam dalam beberapa menit kedepan. Albi yang merasa ada sesuatu yang aneh dari raut wajah gadisnya itu mengernyit heran.
"Ada apa sih, yang?" tanya Albi, namun lagi-lagi tak mendapat jawaban. Gadis itu menghiraukannya dan sibuk memainkan ponsel.
Aneh, akhirnya Albi memilih diam. Mengamati wajah gadisnya yang kusut, seraya memikirkan kesalahan apa yang sudah ia perbuat hingga membuat gadisnya itu tampak marah padanya.
Sisi lain dari rumah itu, Ayan baru saja keluar dari kamarnya dengan setelan kaos distro, celana jeans dan sepatu Vans yang membuat penampilannya terlihat sempurna.
Ayan berlari kecil menuruni tangga dan menemukan kehadiran mamanya yang sepertinya baru pulang dari pasar.
"Mau kemana, nak?" tanya Tatih, dikedua tangannya terdapat beberapa belanjaan yang sepertinya persediaan dapur.
"Keluar bentar," jawab Ayan seraya mengecup singkat kening mamanya dan segera pergi.
***
Ayan menepikan motornya disebuah cafe yang cukup terkenal di kotanya. Berjalan pelan memasuki cafe tersebut. Ayan mengedarkan pandangannya ke segala arah, setelah berhasil menemukan keberadaan seseorang yang di carinya, Ayan tersenyum tipis dan segera menghampiri orang itu.
Ada tiga remaja yang menunggu kedatangannya, Ayan melempar senyum ramah lalu duduk di bangku yang kosong.
"Apa yang ingin kak Dirga bicarain sama aku?" tanya Ayan to the point.
Ya, ketiga remaja itu adalah Dirga, Alvi dan Davin.
"Gue cuma mau nanya kabar kakak lo," jawab Dirga datar, menghiraukan tatapan bingung dari kedua sahabatnya itu.
"Oh, baik kok kak pilanya. Kakak khawatir ya?" goda Ayan.
"Ah, nggak kok!" elaknya cepat. Dalam hati ia bersyukur karena gadis itu baik-baik saja, mengingat kejadian kemarin, ia kira gadis itu akan kenapa-kenapa, nyatanya Aprilia kuat.
Sebenarnya kemarin itu Dirga membuntuti Aprilia saat tak sengaja melihat mobil gadis itu menepi di sebuah taman.
Dari jarak yang cukup jauh, Dirga terus mengikuti perginya gadis itu. Hingga Aprilia duduk di salah satu bangku taman, ia masih memperhatikannya. Ia juga penasaran kenapa gadis itu hanya sendirian, dimana pacar barunya?
Dirga bahkan tak ingin beranjak dari sana sebelum memastikan Aprilia aman untuk ditinggalkan. Karena ia yakin gadis itu tengah menunggu seseorang, di lihat dari gerak-geriknya.
Tiga jam sudah terlewati sampai akhirnya Aprilia bangkit dari tempatnya, berjalan pelan menuju mobilnya.
Dirga sempat berpikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali membututi gadis itu. Dirga bahkan mengikutinya kecafe dan memastikannya sampai di rumah dengan selamat.
Bukan tanpa alasan Dirga melakukan hal itu, Dirga hanya sedikit khawatir melihat raut kecewa dari gadis itu. Dan entah kenapa kali itu ia hanya diam tanpa berniat menghampirinya seperti yang dilakukannya sebelum mendengar kabar bahwa gadis itu telah dimiliki orang lain.
Ada perasaan sesak didalam sana yang berusaha ia alihkan.
"Woy! Dirga!" teriakan serta guncangan dilengannya membuat Dirga tersadar dari lamunannya.
"Tuh 'kan melamun lagi," Alvi berseru kembali setelah berhasil membuat Dirga sedikit terkejut.
"Kakak ada masalah?" tanya Ayan penasaran, pasalnya sejak tadi ia berusaha mengajak pria itu berbicara dan ternyata malah asik melamun.
Dirga menggeleng singkat, "Sekarang lo pulang dan jangan kasih tahu apa-apa ke kakak lo tentang pertemuan ini."
Ayan yang notabenenya masih bocah mengangguk patuh, "Yaudah, aku pergi dulu kak."
Sepeninggalan Ayan, dua remaja kepo itu langsung menatapnya penuh tanya.
"Jelasin kenapa lo masih nanyain kabar mantan lo itu?" tanya Alvi, cowok yang berkulit sawo matang.
"Bukannya lo udah gak peduli lagi sama dia?" imbuh Davin.
"Bukan urusan kalian!" dan lagi-lagi jawaban itulah yang membuat dua remaja itu bungkam. Memang benar ini bukanlah urusan mereka, jadi untuk apa peduli?
Yuhuuuuu i'm coming:-)
Btw sorry kalau makin ngawur dan terima kasih yang sudah baca;)
I love you too much:-*
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebuah pilihan
Novela JuvenilBagaimana jika akhirnya kau di paksa untuk memilih? Kira kira siapa yang akan menjadi pilihanmu, jika tiga orang secara bersamaan berlomba-lomba menggapai cintamu? Dan apa yang bisa kau lakukan? Kau hanya akan memilih siapa yang diinginkan hatimu. A...
