Bagian sembilan

81 12 0
                                        


____

Albi telat bangun pagi ini, jam sudah menunjukkan pukul 07:09, namun dia masih belum beranjak dari tempat tidurnya.

Sudah sejak lama juga, saudaranya berdiri di depan tempat tidur Albi tanpa berniat membangunkannya.

Albi menggeliat pelan, membuka matanya perlahan sembari meregangkan otot-otot tangannya dengan mulut yang masih menguap lebar.

"Bangun juga ya lo." Pria itu terkekeh sambil bersedekap dada, Albi langsung terlonjak bangun dari tempat tidurnya kemudian berlari menuju kamar mandi. Bukan apa, dia hanya takut kalau Abangnya itu menjewer telinganya seperti sebelum sebelumnya saat mereka masih di spanyol dulu.

"Udah jam berapa, Li?" teriak Albi dari dalam.

"Baru jam lima pagi, cepat siap siap gue tunggu di bawah." ucap pria itu, dia Ali zalfanando. Kemudian berlalu dari kamar Albi.

Sekitar sepuluh menit lamanya, Albi datang dengan seragam sekolahnya, sebelum bangkit Ali melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 07:19, Ali tersenyum kecil sambil geleng geleng kepala, dia sudah pastikan bahwa gerbang sekolah Albi sudah tertutup rapat.

"Lah, ngapain?" tanya Albi saat Ali hendak meraih kunci mobilnya dari atas meja.

"Gue antar lo ke sekolah, pulangnya juga gue jemput. Selama seminggu, sebelum gue pergi lagi. Oke?"

"Tapi--"

"Gak usah tapi tapi-an, gue gak butuh penolakan!"

Mereka berjalan bersisian sampai di depan rumah, Ali langsung memencet remot kunci mobilnya lalu masuk, di ikuti Albi. Mobil sedan berwarna putih cerah itu pun melaju meninggalkan kediaman Fanando.

***

Perjalanan menuju sekolah, Albi tak henti hentinya berceloteh, layaknya anak kecil yang sedang bercerita tentang mainan barunya. Albi menceritakan tentang gadis yang baru saja ia kenal tapi sudah menjabat sebagai pacarnya.

Ali sesekali terkekeh mendengar cerita absurd saudaranya itu. Dari awal Albi masuk sampai memacari secara paksa gadis yang bernama Aprilia maures tersebut membuat perut Ali seperti tergelitik, cerita Albi menurutnya langkah dan lucu.

"Lo masih aneh aja, jaman udah berubah kali. Masa masih maksa cewek jadi pacar lo sih, kelihatan banget ya lonya gak laku." Cibir Ali.

"Enak aja, gini gini cewek di sekolah pada lompat girang lihat pesona gue tahu." Ucapnya dengan bangga.

"Alah, palingan juga cewek cewek itu matanya katarak gak bisa bedain mana yang ganteng mana yang sok ganteng."

"Lo kalau ngomong di saring dong, gue ini setampan justin bibier loh."

"Udah jangan ngehalu mulu, sana lo masuk. Siap siap kena hukuman dadah." Ali melambaikan tangannya dengan senyum meledek setelah mendorong tubuh Albi keluar dari mobilnya.

Albi yang sudah berdiri di depan pintu gerbang hanya mampu menggerutu kesal, tahu begini ia tidak mau sekolah tadi.

"Ali!" teriak Albi, namun mobil Ali sudah menjauh.

"Sialan Ali, dia bohongin gue. Dasar cowok rese emang." Albi geram, sampai tak sengaja kakinya menendang gerbang.

"Eh bocah, pake ngagetin segala." Budi-pak satpam di sekolah Perwira, sontak terkejut dengan suara gerbang yang tak sengaja di tendang oleh Albi.

"Eh Pak ganteng, pake banget, tapi boong. Maaf pak, Albi yang tampan ini gak sengaja, tolong bukain dong." Ucap Albi cengengesan.

"Enak aja, bapak gak boleh bukain. Ini udah peraturan sekolah, makanya jangan telat mulu." Budi malah tertawa.

Sebuah pilihanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang