♾
"As if you could kill time without injuring eternity."
― Henry David Thoreau, Walden
♾
"Selamat malam."
Keluarga Seongwu membungkuk ramah menyapa keluarga satunya yang ternyata telah datang terlebih dahulu.
"Ah jadi ini Ong Seongwu. Astaga, nak akhirnya kita bisa bertemu."
Seorang wanita paruh baya yang begitu cantik mendekati Seongwu dan menggenggam tangannya erat.
"A-ah halo. Iya aku Ong Seongwu, bi- eh tan-"
"Ibu. Panggil saja aku ibu. Ayo duduk nak."
Keluarga itu terlihat begitu ramah dan telah mengenal satu sama lain. Hal itu tampak dari semua orang yang kini tengah bercengkerama seakan melepas rindu dan itu justru membuat Seongwu kebingungan melihatnya.
Ia yang baru pertama kali berada di antara orang-orang itu hanya diam dan menatap sekitar. Dapat ia lihat wanita dan pria paruh baya yang diyakini orang tua dari cucu pertama keluarga itu, kemudian ia menoleh lagi dan mendapati seorang kakek-kakek yang duduk di kursi roda yang tampak begitu bahagia dengan kedatangannya.
Sudah. Selain itu tidak ada siapa-siapa lagi selain ayah dan ibunya sendiri.
'Apa ini?' Bathin Seongwu.
'Lalu siapa yang akan dinikahkan denganku? Tidak mungkin bapak-bapak ini kan? Aku yakin yang duduk di sebelahnya itu adalah istrinya. Lalu, yang duduk di kursi roda itu?'
Seongwu menggeleng-gelengkan kepalanya namun iapun mulai khawatir.
"Maaf aku terlambat." Suara seseorang yang baru memasuki ruangan itu sukses membuat orang-orang terdiam, hanya beberapa detik saja karena ibu Seongwu segera berdiri dan menghampiri pria muda itu sama seperti apa yang wanita paruh baya tadi lakukan kepada Seongwu.
"Daniel, kau baru datang dari kantor?" Ucap ibu Seongwu sembari mengusap-usap lengan Daniel dan menuntunnya untuk duduk.
"Iya bu. Maaf aku terlambat. Pekerjaanku banyak sekali." Ucap pria yang bernama Kang Daniel itu.
Seongwu semakin mengernyit melihat orang tuanya telah mengenal cucu pertama keluarga itu. Mengapa semuanya tampak begitu akrab kecuali dirinya.
Pandangan pria kurus itu terus mengikuti pria muda yang kini telah duduk di sebelah kakek-kakek tadi. Wajahnya tampak begitu lesu dan lelah, dan itu sudah jelas karena pekerjaan yang terbukti dari pakaian kerja yang masih melekat di tubuhnya pada jam seperti ini.
'Siapapun tahu kalau dia penggila pekerjaan. Ckckck.' Bathin Seongwu.
"Jangan biarkan pekerjaan yang mengaturmu, sebaliknya kaulah yang harus mengatur pekerjaanmu." Kakek Daniel yang duduk di kursi roda mulai memarahi cucunya yang terlalu bekerja keras.
Setelah semua berkumpul pembahasan merekapun dengan segera menuju topik utama, yaitu tentang pernikahan cucu pertama dari dua keluarga itu.
"Kami tidak memaksa kalian segera menikah. Kalian bisa mengenal terlebih dahulu, jika waktunya sudah tepat kita bisa mulai persiapkan semuanya."
"Dan kau Daniel, kau harus memperhatikan Seongwu mulai sekarang." Lanjut sang ayah.
Mendengar secara langsung perihal perjodohan itu dari keluarga asing yang baru pertama kali Seongwu temui membuatnya begitu gugup. Berbeda saat di rumah, ketika ayah atau ibunya membahas itu dia amat lantang menentang bahkan menjawab semua ucapan orang tuanya dengan sebal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eternity ♾ OngNiel
FanfictionTidak ada keabadian di dunia ini. Yang kekal itu hanyalah perubahan. Dan sekarang aku telah berubah. Aku sudah mencintaimu. Besok aku juga akan berubah. Semakin mencintaimu. Warn : bxb mpreg mature content
