♾ 17

1.1K 156 291
                                        



"There are no facts, only interpretations." Friedrich Nietzsche"





Seongwu menatap seluruh sudut gedung kantor cabang yang sedang diresmikan hari ini. Tempatnya sangat luas dan desainnyapun amat menarik untuk dipandang.

Acara peresmian kantor cabang yang dilakukan di dalam aula itu tampak sudah begitu ramai akan tamu yang hadir. Tampak juga beberapa karyawan membungkuk sopan menyambut kedatangan Seongwu yang membuat dirinya semakin salah tingkah.

"Sini, jangan jauh-jauh." Daniel menarik tangan Seongwu yang masih celingak celinguk di belakangnya.

"Daniel, kakek mana?" Bisik Seongwu.

"Mungkin sebentar lagi datang. Ayo duduk disini." Daniel menuntun Seongwu agar duduk di meja bundar barisan paling depan yang telah terhias dengan rapi.

"Direktur Kang, kau datang? Ah, kau bersama Seongwu-ssi?"

"Selamat pagi Direktur Kang. Seongwu-ssi, senang bertemu denganmu."

Para staff bahkan pejabat perusahaan disana menyapa Daniel yang untuk pertama kalinya hadir bersama Seongwu di acara kantor mereka.

Seongwu yang merasa gugup membalas sapaan itu dengan canggung membuat Daniel terkekeh.

"Kenapa?" Bisik Daniel.

"Ah? Kenapa ramai sekali. Mereka semua dari perusahaanmu?" Balas Seongwu dengan berbisik di telinga Daniel.

"Tidak. Beberapa diantaranya adalah tamu undangan dari para rekanan kantor. Jangan gugup seperti itu, kau itu suami pejabat bukan tamu sembarangan."

Daniel kemudian mengusak rambut Seongwu berusaha menenangkannya.

Seongwu yang telah sekian tahun menjabat sebagai staff biasa di tempat kerjanya tentu saja merasa canggung berada dalam lingkungan dengan status yang berbeda.

Ia berusaha menenangkan pikirannya dengan menikmati minuman dan makanan kecil yang telah disediakan untuknya.

Tak berselang lama kakek Daniel yang menjadi orang nomor satu di perusahaan itupun tiba yang menandakan acara pembukaan akan segera dimulai. Seluruh staff bahkan tamu undangan menyapa presdir itu dengan ramah.

Mata kakek seketika berbinar begitu mendapati para cucu favoritnya telah menunggu disana. Ia kemudian menemani keduanya duduk di meja tersebut sembari menunggu waktunya untuk memberikan sambutan.

Sorak sorai para hadirin memenuhi aula tersebut begitu para pejabat disana melakukan gunting pita sebagai tanda kantor cabang telah resmi dibuka.

Seongwu yang duduk sendirian di meja bundar karena ditinggalkan kakek dan sang suami untuk berkumpul dengan para pejabat disana akhirnya berjalan-jalan menuju tempat makanan dan minuman. Ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa dalam situasi seperti ini.

'Lebih baik aku isi perut saja.'

Seongwu tampak begitu antusias memilih beberapa kue dan snack yang berjejeran disana hingga mulutnya hampir berair.

"Permisi." Seorang pria tampan menepuk pundak Seongwu dengan pelan.

"Iya? Oh?" Seongwu yang baru saja menoleh otomatis membulatkan matanya.

"Benar kan, kau Seongwu?" Ucap pria itu.

"Iya. Haneul sunbae? Astaga..."

Kedua pria muda itu kemudian menjabat tangan dengan girang.

Eternity ♾ OngNielCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang