21. Mencoba Mengikhlaskan

8.1K 468 35
                                        

Sebaik-baik bacaan ialah Al-Qur'an.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

“Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-Zumar : 10)

—Untukmu Imamku

***

Hari-hari selanjutnya Maira mencoba membuka lembaran baru untuk tidak ingin terus-menerus larut dalam kesedihan karena Maira selalu ingat QS. At-Taubah: 40 yang artinya, "Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita."  Kata-kata itu terus terngiang di pikirannya jika Maira terus menangis mengingat Alvin. Kata-kata itu membuat Maira sadar bahwa kita punya Allah, kita punya Allah yang Maha Segalanya.

Tidak ingin bersedih terus-menerus bukan berarti Maira melupakan Alvin begitu saja. Tidak, Maira tidak akan pernah melupakan kekasih halalnya itu. Namanya selalu Maira sebut dalam doa, berharap Allah mengabulkannya, dan berharap Allah memberi Maira kesempatan kedua untuk memperbaiki rumah tangganya yang sempat hancur karena ulahnya sendiri.

Sudah cukup waktu lima bulan membuat dirinya seperti wanita depresi, sudah cukup Maira menangis disetiap harinya. Sekarang saatnya tersenyum melewati hari-hari tanpa Alvin, menjalankan ombang-ambing kehidupan seorang diri. Apakah Maira disebut wanita janda? Jangan tanyakan itu, Maira sendiri tidak tahu jawabannya apa.

Kini Maira berada di toilet kampus, kepalanya tiba-tiba pusing makanan yang berada di dalam perutnya meronta minta dikeluarkan. Setelah beberapa menit di dalam toilet, akhirnya Maira keluar menampakkan wajah pucatnya.

"Are you oke?" tanya Zifa ketika melihat raut wajah Maira pucat pasi seperti orang sakit.

"Aku nggak enak badan Fa, antar aku ke rumah sakit ya?" pinta Maira.

"Serius ke rumah sakit? Nggak ke Unit Kesehatan aja Ra?"

Maira menggeleng tidak ingin menganggap remeh soal penyakit, lebih baik ke rumah sakit sekalian dan ketahuan penyakitnya apa.

Zifa pun menuruti permintaan Maira membawanya ke rumah sakit. 

°°°

Setelah sampai di rumah sakit Zifa membantu memapah Maira berjalan masuk ke dalam, mereka menunggu di ruang tunggu untuk mendapatkan giliran.

Di rumah sakit ini Maira sudah kenal dengan dokter langganannya, Dokter Fikri Ramadhan Sp.F . Tidak tahu kenapa kalau melihat raut wajah Dokter Fikri, Maira jadi teringat oleh Abinya, mungkin karena Dokter Fikri seumuran dengan Abi Yusuf.

Setelah hampir memakan waktu satu jam  giliran Maira yang masuk ke ruangan dokter.

Maira mengetuk pintu ruangan dan ada sahutan menyuruhnya masuk, Maira pun masuk sambil mengucapkan salam.

Dokter yang Maira kira adalah Dokter Fikri  membalikkan tubuhnya menghadap Maira sampai membuat Maira terlonjak kaget melihat Dokter Fikri berubah menjadi dokter muda, ah ralat dia memang bukan Dokter Fikri melainkan Dokter Fakhri yang Maira tak kenal siapa dokter itu, dan kenapa menempati ruangan Dokter Fikri.

"Loh bukan Dokter Fikri ya?" tanya Maira langsung.

"Bukan Mbak, Dokter Fikri sedang menjalankan ibadah Umroh," dokter bernama Fakhri itu tersenyum hangat ke Maira sambil memakai sarung tangan plastik.

Untukmu ImamkuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang