"Aku..."
Ayolah.. pertanyaan yang simpel yang harus dijawab dengan yes or yes. Karena jawaban itu yang sangat dibutuhkan oleh lohan.
"Aku.. nggak tau. Aku pikir dulu. Aku juga baru deket sama seseorang." CAUGHT IN A LIIIIIIEEE~ tentu saja bohong. Mana ada yang mau sama si sub rehan? Yang ada malah laki laki yang ndeketin dia.
"Kamu bohong kan?" Tanya lohan dengan muka yang... ya seperti itulah. Datar dan dingin. "Oh.. atau lo lagi deket sama kakak temen lo itu?" Tanya lohan yang lagi lagi membuat mata rehan membelalak.
"Eng-enggak. Aku nggak deket sama dia lagi." Ucapku sedikit terbata. Bukan karena aku sedang mendekati robert, tapi aku gugup harus bilang apa.
"Lha trus?" Lohan mengungkung rehan dengan kedua tangannya. Ingatkan lohan bahwa rehan hanya setinggi pundaknya, jadi rehan bisa menunduk lalu keluar dari kungkungan lohan. Tapi tak dilakukan oleh rehan. Karena ia suka dengan lohan yang seperti ini. Sexy dan... mmmh~
"Um.. han. Aku pikir pikir dulu. Karena aku sama kamu tu sama sama bukan gay. Dan yang aku tau kau sedang menjalin hubungan dengan model terkenal saat ini." Ucapku yang mungkin benar.
"Siapa bilang?" Tanya nya.
"Bukankah media sedang membicarakannya?" Tanyaku. Aku tak tau apa yang mereka katakan itu benar atau tidak.
"Semua itu tak benar tau. Aku tak berpacaran dengan dia 'lagi'." Ucap lohan yang mati matian membuat rehan percaya. Karena sebanyak kata yang lohan ucapkan. Itu hanyalah sebuah bualan. Pikir rehan.
"Lalu ini apa?" Ucap rehan sambil menunjukkan screenshoot an sebuah berita yang menunjukkan bahwa lohan mcloy sedang menjalin asmara dengan model bernama anna. Rehan tak tau siapa anna dan ia tak peduli siapa anna.
"Kau tau? Ini hanya hoax. Aku bahkan sudah menyangkalnya di media sosial ku. Aku yakinkan semua orang. Aku tak berbohong. Buka saja media sosial ku, pasti ada post yang menunjukkan bahwa aku memang tidak berpacaran dengannya." Ucap lohan panjang lebar tersebut tak didengarkan oleh rehan, karena rehan percaya dengan sebuah pernyataan media sosial daripada ucapan orang tersebut.
"Ekhem. Udah mau masuk. Kalian nggak mau masuk?" Ucap haikal yang mengganggu suasana.
"Yasudah.. eumm.. aku mau masuk dulu. Jangan bolos lho ya!" Ucap rehan perhatian pada lohan. Mungkin rehan harus berhenti melakukan itu.
Rehan berjalan dengan tak semangat menuju kelas biologi yang sebentar lagi berada didepan rehan. Bukan karena kelas biologi, tapi karena ucapan lohan. Dia sungguh an ingin menjadi pacar rehan atau dia hanya menginginkan tubuh rehan?
Akhirnya rehan duduk di tempat paling belakang karena tak ingin menjadi pusat perhatian. Rehan tak pernah menjadi pusat perhatian sebelum bertemu dengan si kembar itu, sekarang rehan selalu menjadi pusat perhatian, bahkan ada yang tanya 'apakah kau sudah mencicipi mereka?' Pertanyaan macam apa itu? Rehan sama sekali tak paham.
"Rehan. Saya harap kamu bisa memperhatikan materi ini. Karena ini akan menjadi materi tersulit yang pernah kamu miliki." Ucap pak hartono.
"Baik pak. Maafkan saya." Lalu ia menjelaskan materi itu lagi. Rehan mencoba untuk fokus pada pelajaran, tapi lagi lagi yang keluar hanya lohan. Lagi lagi rehan membayangkan yang didepan itu bukan pak hartono, tapi lohan yang sedang menyatakan cintanya.
Rehan membangunkan diri nya dari pikiran nya dan lanjut fokus pada pelajaran. Karena tak mau ketinggalan, rehan catat semua dan berdoa agar lohan tak lagi muncul dipikiran rehan.
Jangan muncul dipikiranku! Jangan muncul dipikiranku!
"JANGAN MUNCUL DIPIKIRANKU!!" Teriak rehan sambil menggebrak meja.
Semua orang melihati rehan dengan tatapan aneh dan kasihan padanya.
"Kalau kau ada masalah dengan pelajaranku, silahkan keluar dari kelas saya!" Ucapnya lembut nan tegas.
"Maaf pak. Tak akan saya ulangi." Ucap rehan lalu kembali duduk dan mencoba konsentrasi. Karena terlalu banyak pikiran dan otaknya sudah tak kuat untuk menahannya, rehan pun pingsan.
......
Rehan POV
Aku mengerjapkan mataku saat aku merasakan cahaya terang disekitarku.
"Kalau kau sakit bilang lah nak. Jangan paksakan dirimu." Ucap pak hartono.
"Iya pak. Maaf saya merepotkan bapak."
"Enggak kok. Tidurlah lagi. Aku pikir kau sedang butuh istirahat. Mukamu juga cukup pucat. Kau sudah makan siang?" Tanya pak hartono dengan penuh perhatian.
"Mungkin belum pak. Saya nggak inget apa apa."
"Yasudah. Beli lah makanan dulu sana. Nanti kamu tambah nggak fit." Ucap pak hartono sebelum keluar dari kamar UKS.
Aku mencoba membaringkan tubuhku, tapi alhasil aku duduk dan memakai kaus kakiku. Aku ingin segera makan. Tapi apakah mukaku sungguh pucat? Memang apa yang aku lakukan sehingga pingsan? Lupakan.
.....
"Pak, bakso satu porsi tambah nasi. Sama teh anget." Ucapku sambil berteriak tanpa tenaga.
"Sabar. Tumben lu nggak semangat? Abis nguli lu?" Tanya nya bergurau.
"Enggak lah pak. Lagi nggak sehat aja. Nggak tau tiba tiba pingsan aja." Ucapku.
"Oalahh.. gua kira lu nguli. Ahaha."
"Si bapak. Ganteng ganteng gini dikira nguli."
"Iya iya. Nih baksonya tambah nasi sama teh anget."
"Makasih pak." Aku membawa mangkuk dan es tehnya lalu duduk di tempat yang dekat dengan angin segar. Dimana mana ada sih. Tapi didekat pintu depan kantin tempat yang cocok untuk duduk.
Aku makan bakso itu dengan nikmatnya seperti tiada hari lain, karena aku memang kelelahan dan lapar. Entah mengapa aku bisa pingsan tadi dan apa penyebabnya. Apa ada masalah dengan pencernaanku? Entahlah.
Kurasa aku lupa ingatan sementara 'lagi'.
..........
Bel pulang berbunyi saat aku telah menyelesaikan makanku. Staminaku sudah lumayan untuk melanjutkan pelajaran tapi ternyata sudah habis saja. Yasudah, aku putuskan untuk kembali ke kelas biologi untuk mengambil bukuku yang masih disitu.
Saat aku keluar, aku bertemu haikal dengan wajah cemasnya. Dia membalik balik tubuhku lalu memeriksa suhu tubuhku. Katanya sudah menurun.
"Rehan. Lo nggak kenapa napa? Gua tadi liat lo digotong ke UKS sama pak hartono." Ucap haikal khawatir.
"Nggak apa. Pingsan aja."
"Pingsan? Eumm.. lo ingat apa yang lohan katakan saat di rooftop?" Tanya haikal yang sangat penasaran. Jawaban atas pertanyaan nya hanyalah gelengan kepalaku.
"Kau sungguh ingin melupakan kejadian itu?" Ucap haikal sambil berteriak.
"Kejadian apa?" Tanyaku polos. Karena aku pun tak tau apa yang ia maksud dari 'kejadian' itu. Aku mencoba mengingatnya kembali dan aku perlahan ingat apa yang terjadi.
"Sekarang ingat?" Lalu aku mengangguk. Anggukanku sangat lemah.
"Sudahlah. Daripada mukamu murung seperti itu lebih baik tadi tak kupaksa kau mengingatnya." Ucap haikal lalu menarikku ke loker untuk mengambil barang barang kita.
......
Diperjalanan pulang, aku dan lohan hanya diam seribu bahasa. Karena aku merasa canggung dengan sikapnya padaku. Tatapannya lebih dingin dan tajam daripada biasanya.
Lupakan haikal dan johan, mereka berada dibelakang sedang bercanda. Saling memuji dan menggoda. Sungguh hubungan yang aku inginkan.
Aku harap lohan dan aku bisa berakhir bahagia. Itu pun jika aku bisa memperbaiki hubungan kita.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Me And My Twin Boyfriend
RomanceRehan? Hmm.. nggak jarang orang benci padanya karena sikapnya yang seenaknya. Kadang guru tak jarang geram karena sikpanya yang entah turun siapa. Tapi rehan pun tak jarang disukai banyak orang karena keimutannya. Rehan pun pernah dengan sengaja iku...
