Setelah selesai beri selamat selamat dengan kedua mempelai pengantin. Reyhan dan Ameilia menghampiri Mama-Papa-nya untuk berpamitan pulang deluan. Mereka ingin menjenguk Ibu Reyhan yang sakit. Mereka baru di kabarkan satu menit lalu setelah keluar dari gedung pesta.
"ma?" Ameilia memanggil Maya yang akan membuka pintu mobil bagian depan sebelah pengemudi.
"ya?"
"kami tidak bisa pulang kerumah, tadi kakaknya Reyhan telpon. Ibu Reyhan masuk rumah sakit. Belum tahu sakit apa."
Maya sempat kaget mendengarkan Ameilia.
"humm...kalau gitu mama-papa ikut juga. Bagaimanapun merekakan besan mama-papa. Sudah keluarga deket pake banget"
Ameilia mengangguk mengerti.
Farida menyusul ke mobil papa-nya. Maya langsung menyambut Farida dengan kabar yang diberi tahu Ameilia.
"terus?" tanya Farida bingung.
"kita akan pergi kesana juga." jawab Maya spontan lembut.
"Mama... Bukannya Farida nggak mau, cuman Farida belum siap PR. Tadi siang Farida kecapekan, yauda deh nggak siap Farida kerjain"
"terus?" tanya Maya yang sudah tahu pasti apa tujuan putri manjanya berbicara begitu.
"Farida nggak ikut ya ma" cengir Farida.
Selang lima detik Pak Usman. Abi Hafiz. Datang ke arah mereka.
"Buk Maya! Kita pulang deluan ya"
" oo iya pak!"
"Ada masalah buk?" Pak Usman, melihat wajah mereka seperti ada kebingunggan.
Papa Farida keluar dari mobil. Papa Farida sudah tahu kabar ini. Karna dia mendengarnya dari dalam mobil.
Ibu Farida menceritakan apa yang telah terjadi ke Pak Usman. Pak Usman memanggut mengerti. Raut wajah-nya menggambarkan bahwa dia sedang memikirkan solusi dari ini.
Farida angkat bicara untuk memecahkan keheninggan ini.
"gimana kalau Farida naik Taksi aja"
" Nggak bisa dong sayang, ini sudah malam. Kalau kamu nanti kenapa-kenapa gimana? Apalagi kamu ini anak perempuan. Sudah ya ikut aja"
Protes papa Farida. Yang nggak mau Putri bungsunya itu kenapa-kenapa.
"Paa...PRnya besok dikumpul" melas Farida.
"Pastinya kan papa-mama pulangnya pasti malam banget nantinya. Udaya ma-pa Farida pulang aja. Kan dirumah ada bibi ada satpam" Farida memastikan.
Papa Farida menghelakan nafasnya dengan kasar. Beliau memikirkan apa yang harus dilakukan sekarang. Di sisi ini Putri bungsunya harus pulang, mau mengerjakan PR. Disisi lain mereka harus menjenguk besannya yang tiba-tiba masuk rumah sakit.
"Ya sudah kalau begitu Farida pulang dengan Hafiz saja. Kami tadi bawa dua mobil. Karena Hafiz tadi menyusul dari yayasannya." Pak Usman memberikan solusi. Sembari mengelus benda pintar di tangannya dan menekan tombol hijau yang menandakan memanggil seseorang yang dituju. Itu Hafiz.
"Asalamualaikum fiz" Pak Usman memulai perbincangannya dengan orang di sebrang sana.
Pak Usman menekan tombol merah. Dia menggakhiri panggilannya dengan Hafiz.
"Hafiz baru saja meninggalkan gedung. Untungnya belum jauh. Masih sampai di perempatan jalan. Jadi Hafiz ini puter balik. Tunggu aja ya disini."
Farida yang mendengarkannya langsung termangun. Detak jantungnya jadi tidak beraturan. Kenapa begini? Seperti orang jatuh dari tempat tidur
"Gimana dek?"
KAMU SEDANG MEMBACA
PILIHAN ALLAH
Spiritual[ STOP LIHAT BERAPA VIEWERS NYA ! ] [ KALAU PENASARAN YA BACALAH ! ] " Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia " - Ali bin Abi Thalib - Bagi seorang Farida sudah banya...
