Pagi di Kedai Kopi

2.2K 323 15
                                        

Kedua sudut bibir Jeff terangkat ketika mendapati Dinda sudah sangat sibuk di dapur.

Wangi harum vanilla yang bercampur butter memenuhi seantero rumah. Membuat perut Jeffrian langsung meronta ingin diisi.

"Good morning, sweetheart."

Laki-laki itu menyarangkan sebuah kecupan di pipi Dinda dan memeluk tubuh yang lebih kecil itu dengan kedua lengannya.

"Hm? Morning... Udah mandi?"

"Udah dong! Udah wangi gini aku."

"Good. Maaf aku nggak nungguin ya, ini harus ditaruh di tempat Ayah sekalian aku berangkat kerja."

"Telat dong kamu?"

"Nggak apa-apa. Kompensasi aku jadi kiper di dua gawang. Aku udah siapin sarapan tuh, cepet dimakan keburu dingin."

"Nooo, aku nunggu kamu juga."

"Okay, 15 menit lagi selesai."

Jeff melepaskan pelukan dan membiarkan Dinda menyelesaikan tugasnya.

Ia memilih membuka tablet untuk memeriksa email yang belum sempat terbalas sekaligus membuka portal berita terkini.

Bisa saja Jeff menyalakan televisi 55"nya untuk mengikuti berita pagi dari berbagai channel televisi, tapi ia terlalu malas beranjak.

"Cobain dong, enak nggak? Pas nggak rasanya?"

Dinda menyorongkan sepotong kecil eclaire yang masih hangat yang disambut Jeff dalam kunyahan cepat.

"Enak! Kamu ganti resep apa gimana? Kayanya lebih enak yang ini daripada yang lama?"

"Nggak ganti, cuma aku ganti butter sama isian vla nya aku tambahin raw vanilla, bukan pake pasta kaya biasanya. Beneran enak, kan?"

"Beneraaaan! Aku juga mau dibungkusin buat di kantor..."

Bibir Jeff mencebik seperti anak kecil yang iri temannya mendapat permen sedangkan ia tidak.

"Jumlahnya mepet tau buat tempat Ayah..."

"Ck, gampang."

Jeff mengutak-atik tablet nya lalu diperlihatkan ke Dinda.

"Abang tuh impulsif banget sih??!!! Ngapaiiiin sampe kirim uang seharga satu iPhone!"

"Buat gantiin uang eclaire sama uang jajan kamu aku tambahin hehehehe boleh ya minta eclaire nya?"

Dinda memijit pangkal hidungnya pelan lalu mengangguk pasrah. Nggak ada guna dia melawan Jeff sekarang.

Sedangkan si lawan bicara bertepuk tangan penuh kemenangan sebelum meneguk kopi paginya.

Bukan masalah keuntungan yang akan didapat, karena Dinda selalu melimpahkan semua keuntungan untuk Ayah. Ia mengisi etalase kedai kopi kecil-kecilan milik Ayah murni untuk memuaskan hobi memasaknya yang suka terhalang jam kerja dan lembur di akhir pekan.

Sejak pensiun dari titel pilot, Ayah Januar akhirnya membuka kedai kopi yang tak jauh dari Rumah Prakasita.

Jeffrian kebagian mencari lokasi yang cocok untuk membangun kedai kopi.  Renovasi total diserahkan ke Johnny selaku arsitek, sedangkan Juniya sebagai kepala konsep; mulai dari interior, racikan minuman dan makanan, dan memberi 'nyawa' ke kedai milik Ayah.

Dinda menjadi asisten untuk kedua kakaknya. Kadang ikut Johnny memilih warna cat dinding dan memilih pola tegel yang pas untuk kedai, kadang juga ikut Juniya untuk memilih alat-alat yang dapat menunjang kerja para barista dan menyusun buku menu.

Rumah Cemara 25Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang