DUA

2.8K 371 169
                                        

"Geli! Berhenti!"

Teriakan kecil lucu dari balita dalam pelukan Seokjin membuat pagi hari keluarga kecil itu menghangat. Selesai santap sarapan, Seokjin masih sempat menciumi tubuh kecil Jungkook yang masih khas aroma bayi.

Minyak telon, bedak bayi, dan cologne anak tak pernah absen Seokjin pakai ke tubuh gempal Jungkook. Balitanya selalu tercium harum dan tampak segar setiap harinya.

"Jungkook, sudah siap berangkat?" tanya Taehyung yang kini memakai ransel kerja miliknya.

"Sudah, Ayah!"

Buru-buru balita itu memberontak dari pangkuan Seokjin dan berlari ke kamar tidurnya mengambil tas ransel kecil miliknya yang berisi pakaian dan susu serta botolnya. Perlengkapan lain sudah tersedia di loker sekolah milik Jungkook.

Seokjin berjongkok untuk membantu Jungkook memakai sepatunya yang berukuran kecil itu. Sepatu putih paduan hitam yang nyaman dipakai balitanya

Ketika Taehyung mengunci pintu flat mereka, Seokjin membawa Jungkook ke dalam gendongannya. Beriringan bertiga dalam diam langkah kaki menuju halte di dekat tempat tinggal mereka.

Tabungan Seokjin dan Taehyung sudah bisa membeli sebuah mobil bekas milik atasan Taehyung sebenarnya. Namun, untuk penghematan, mereka memilih berangkat dan pulang kantor menaiki bus umum. Mobil hanya digunakan saat kepentingan pergi bertiga saja.

Tangan Seokjin membenarkan topi bulat warna putih dan biru yang balita kecilnya pakai. Meskipun ini hanya penitipan anak tapi sejak Jungkook di sana saat berusia tiga tahun, ia sudah wajib mengenakan seragam.

Setelah merelakan satu kali jatah cuti untuk mengajak Jungkook berkeliling kota di hari selasa. Mereka akhirnya menyepakati untuk memasukkan Jungkook kecil ke penitipan anak di dekat kantor Taehyung.

"Sayang Papa!" lirih Jungkook sambil mendongak di pangkuan Seokjin dan mencium ringan pipi kiri sosok yang telah membuatnya lahir di dunia.

"Sayang Jungkook juga" jawab Seokjin mencubit pelan pipi gembil anaknya.

"Jungkook! Busnya datang!" ucap Taehyung memberitahu anaknya itu.

Seokjin melangkah hati-hati menaiki bus dengan tubuh kecil Jungkook di dalam gendongannya. Menuju salah satu kursi bus yang kosong. Seokjin hanya diam memangku Jungkook ketika Taehyung mengambil duduk di sebelahnya.

"Jungkook nanti meronce!" seru Jungkook dengan riangnya.

"Tidak mewarnai gambar lagi?" tanya Taehyung "Biasanya Jungkook suka mewarnai"

Jungkook menggelengkan kepalanya pelan. "Bosan mewarnai terus!"

Seokjin menepuk pelan pantat berisi Jungkook yang terus saja berceloteh dengan sang ayah. Rasanya baru saja Seokjin merasakan sakit luar biasa di rumah sakit lalu mendengar tangis pertama bayinya. Kini sudah bayinya sudah bisa bicara dengan aktif.

"Nanti Ayah dan Papa tidak lembur kan?" tanya Jungkook sendu.

"Tidak, Sayang" jawab Seokjin dan Taehyung nyaris bersamaan.

Jungkook berseru heboh dan ia juga mengangkat tinggi kedua lengannya dengan begitu bersemangat.

"Asyik!" soraknya.

"Jungkook senang kalau tidak ada yang lembur?" tanya Seokjin pelan.

Kepala kecil itu menoleh pada Seokjin lalu mengangguk penuh semangat. "Kalau lembur Jungkook sedih, tidak ramai, tidak ada teman bermain"

"Ayah dan Papa tidak pernah lembur bersama sampai Jungkook di rumah sendiri, bukan? Masa tetap saja sepi?" tanya Taehyung sedikit heran.

Jungkook bersungut kesal menatap wajah ayahnya. "Berdua saja itu tidak asyik, Ayah! Seperti Mingyu itu!"

CarnationTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang