Di jatuhkan untuk di terbangkan?
atau
diterbangkan untuk di jatuhkan?
* * *
"Hm." deheman singkat itu menghentikan kegiatan Aletta yang ingin turun dari brankar uks.
"Kenapa ka?"
"Kemana?" ujar aksa. Beruntung, Aletta sedikit belajar bahasa yang di gunakan Aksa, jadi ia sudah 'sedikit' mengerti dengan apa yang Aksa katakan tadi.
"Mau ke kelas." setelah Aletta mengatakan itu, dia tidak mendapat balasan dari Aksa. Namun sedetik kemudian, pemilik tatapan tiga detik itu menyodorkan mangkuk yang sudah di isi bubur.
Maksud nya apa? Mau minta suapin?
"Makan." Aksa meletakan bubur itu di nakas.
Oalah,disuruh makan! Kirain gitu dia minta suapin.
Aletta kembali duduk di brankar uks, mengambil semangkuk bubur itu lalu melahap nya. Aksa masih diam di tempat, tetapi mata nya berfokus pada hp.
"Kak?"
Aksa menoleh singkat, lalu setelah itu kembali menatap benda di tangannya itu.
"Ko masih disini? Mau.. hmm.. ngapain lagi?"
"nungguin Lo." Ini dia diterbangkan dengan apa? Aletta sudah merasa berada di langit ke 10 sekarang.
Jangan senyum! Jangan senyum! Harga diri!. Dia kulkas! Ga bisa bikin anget! Ayo ayo jangan baper. Aletta menggumam dalam hati.
"Oh—ok-oke."
1 detik,
"Disuruh mama."
Hening.
Jadi dia di terbangkan untuk dijatuhkan?
Ini benda tak kasat mata apa yang menusuk di dadanya?
"Ko... Tante bisa tau?"
"Sebelum nyamperin lo, gue chat mama." ya memang benar. Tadi sebelum sampai di hadapan Aletta, Aksa tau jika yang sedang di kerumunin oleh orang orang itu Aletta, sebab ia melihat semua kejadian dimana Aletta ingin pingsan. Tunggu ... Jadi? Aksa memperhatikan Aletta?
"Buat apa ka?"
"Nanya. Gimana cara gendong cewek."
Setelah mengatakan itu, Aksa meninggalkan Aletta yang masih tak menyangka.
Jadi ... Aksa belum pernah gendong cewek?
* * *
"Wessss, ngapa tuh muka? Abis jadi ijazah yang di cap pake jari?" suara badhra menyambut kedatangan bayu dengan pipi memar.
Bayu datang dengan kavin, sedangkan teman temannya yang lain sudah menunggu di kantin sejak tadi.
Muka Bayu lesu, seperti tidak bersemangat. Sedangkan kavin yang di samping Bayu, masih tidak bisa memberhentikan tawa nya. Hingga membuat ke 3 temannya yang lain bingung.
Beruntung kantin belum terlalu ramai.
Dari UKS tadi Aksa ke kantin, menyusul temannya yang lain. Nanggung katanya, karena ia juga tidak masuk kelas dari jam pelajaran pertama.
"Woi vin! Mentang mentang udah tau, malah ketawa sendirian!" kini Ravael mengomentari tawa kavin. Dengan nada yang dia ikuti seperti di iklan.
"Dateng dateng malah ketawa, ngajak berantem?!" kini giliran badhra yang melanjutkan.
"Udah udah jangan berantem, ini nama nya cap 5 jari. Kaya akan sakit dan pedih." ujar kavin dengan sisa sisa tawanya seraya menunjuk pipi kiri Bayu. Masih dengan nada yang sama, sebagai pemeran anak kecil di 'iklan' itu.
"Sue!" ujar Bayu seraya menepis tangan kavin.
"Napa si?" Badhra sangat kepo akan hal ini.
"Dii-diaa hahahaha itu! Dia hahaha."
"Anjir Lo vin! Niat jelasin ga si. Tawa mulu sue!" ekspresi badhra sangat kesal saat ini, melihat temannya yang sudah tertawa duluan sebelum menjelaskan.
"Oke oke, hahaha, jadi, dia itu gagal ngombalin cewek anjir! Malah kena tampar, hahahaha, ngenes bet kata gua."
"Utututu, sayang, sini sini, papa ajarin gimana cara ngegombalin cewek." goda ravael seraya mengayunkan jari jari nya seolah menyuruh Bayu mendekati nya.
"Emang lo gombal kaya gimana?" lanjut ravael
"Gue ... Gue bilang kalo dia kaya triplek"
"ANJIRRRR!"
"Bangsull"
"Parah Lo!"
Tawa ke tiga cowok itu tambah menjadi setelah melihat wajah murung bayu.
"Eh tunggu, emang yang Lo gombalin cewek ganteng? Sampe kaya triplek gitu."
"Bukan gitu! Maksud gue itu sifat nya yang kaya triplek!, tapi dia salah ngartiin. Nasib gue gini banget dah."
"Traktir kita. Ntar gue doain, nasib lo baik." kini Aksa angkat bicara, setelah tadi hanya terkekeh kecil dan lebih banyak diam.
"NAH BENER TUH!"
"KUY MAKAN YANG BANYAK. ADA MAS BAYU YANG NRAKTIR."
"AYOLAH!!"
* * *
Suara kebebasan bagi para murid berbunyi—bel pulang. Dengan segera murid murid itu membereskan alat tulisnya. Kasur dirumah mereka sudah merindukan mereka.
Tak terkecuali Aletta, ia juga ingin segera pulang, ia bergegas untuk ke kelas Aksa dan meminta pulang bareng, ya hitung hitung hemat ongkos.'bilangin tante kalo ka Aksa ga mau.' itu ancaman yang nanti akan ia berikan pada Aksa. Persis seperti adik yang meronta kepada kakaknya.
Aletta menyusuri koridor demi koridor untuk sampai di kelas Aksa.
Terlambat, Aksa sudah pulang.
Aletta menghela nafas kasar, lalu keluar berjalan kearah gerbang sekolah.
* * *
Ini sudah sangat sore. Aksa tidak membalas pesan yang ia kirim sebelum pulang sekolah tadi. Aletta ingin pulang menaiki ojek online. Tapi sinyal disini seperti nya sedang jelek, mimpi apa ia semalam? Hari ini sangat sial.
Langit mendung. Awan berwarna abu abu gelap itu bergemuruh. Apalagi ini? Aletta menghela nafas sabar. Mencoba berfikir bahwa mungkin nanti ada surprise untuknya dari tuhan.
20 menit.
Aletta masih disini, mengangkat ponsel nya ke udara, berusaha mencari sinyal. ini hutan atau apa sih?susah banget di cari sinyalnya. Rutuk Aletta dalam hati.
Ditambah dengan langit yang sudah kelabu, menandakan bahwa awan sudah tidak kuat menahan air yang segera jatuh ke bumi. Benar saja, detik selanjutnya hujan turun. Aletta berlari kecil untuk sampai di halte depan sekolahnya untuk berteduh.
Waktu berjalan sangat amat cepat, sekarang sudah jam 6 malam. Sudah 3 jam lamanya Aletta menunggu disini, sudah ratusan pengecekan juga yang Aletta lakukan pada handphone nya. Aksa ga peka! Tolonginnnn guee! jerit Aletta dalam hati. Dia sudah kedinginan, bibirnya juga pucat. Hari ini sangat sial.
Ada mobil yang berhenti di depan Aletta. Semoga orang ini bisa di manfaatkan kan, doa Aletta dalam hati. Pintu mobil itu dibuka oleh pemiliknya. Pemilik mobil tersebut keluar sambil membawa payung dan berlari kecil ke arah halte yang sedang diduduki Aletta.
* * *
1 kata buat chapter ini?
vote dulu baru lanjut:).
Tbc!
KAMU SEDANG MEMBACA
AksAleta's Story
Teen FictionDia, Aksa Afrian Adhitama Cowok misterius dengan tatapan tajam nan dingin milik nya. Dia, penguasa sekolah. Bukan, dia bukan berandalan sekolah, melainkan murid pintar di sekolah, tapi hobinya berkelahi. Dia, penguasa materi. Dia, penguasa jalanan. ...
