07 - Hari sial

40 11 0
                                        

Sosok yang tadi berada di depannya adalah ... Aksa. Dapat dilihat muka bantal yang masih berada di wajah Aksa. Aletta yakin bahwa Aksa baru bangun dari tidurnya.

"Ngapain." Aksa mengulangnya.

"Ka-kakak nanya atau apasih?!." Aletta mengucap itu sedikit terbata karena ia harus menetralisir degup jantung nya akibat peristiwa tadi.

"Ck." Aksa langsung menarik Aletta hingga masuk lagi kerumahnya.

"Ih! Itu kakak pegang pegang, kemarin katanya ga mau di pegang pegang, kenapa sekarang malah megang megang!" Huh! Aletta sangat sebal dengan makhluk di depannya ini.

"Lo.bukan.gue." Astaga! Bahasa apa lagi ini? Plis lah nilai Aletta jauh jika di sandingkan dengan Aksa. Dia tidak terlalu paham apa yang diucap oleh Aksa barusan.

Seolah bisa membaca pikiran Aletta, Aksa menarik nafas panjang, bersiap siap untuk menjelaskan dengan kalimat panjang, dan dia tidak terlalu suka itu. Karena, merepotkan.

"Yang ga boleh pegang itu lo. Lo ga boleh pegang gue. Dan sejak kapan gue bilang lo ga boleh gue pegang!" Oke, ini adalah kalimat panjang pertama yang Aletta dengar dari Aksa. Tapi, lupakan. Ia masih sebal dengan makhluk ini.

* * *

Saat ini, hanya ada suara tv yang terdengar diruang keluarga di kediaman Adhitama. Sedangkan Aksa dan Aletta hanya bungkam, sibuk dengan pikiran masing masing.

"Udah makan ka?" tanya Aletta yang sekarang sudah menyiapkan piring untuk nasi goreng yang tadi ia beli.

"Hm."

"Oke."

Suasana kembali hening.

5 menit, akhirnya Aletta sudah menghabiskan makanan nya, jadi kan dia punya alasan untuk kembali ke kamar.

"Kak, ke kamar dulu ya." Duh, Aletta bingung harus menyebut diri nya sendiri apa. Gue? Apakah itu sopan?Aku? Terlalu canggung untuk menyebut itu, ya walaupun kemarin dia terpaksa harus menyebut dirinya dengan sebutan 'aku' di depan Aksa.

"Mau ngerjain tugas, nanti di hukum lagi kalo ga ngerjain." lanjut Aletta.

"gue ga peduli." setelah itu Aksa melenggang pergi.

Aletta menganga, tidak paham akan jalan otak nya Aksa, padahal ia hanya ingin pamit. Ya sudah lah. Aletta segera menaiki tangga untuk kembali ke kamar nya, yang baru ia sadari bahwa kamarnya bersebrangan dengan kamar Aksa.

* * *

Cahaya matahari memaksa untuk masuk ke dalam celah celah kamar yang berwarna biru laut itu. Sang empunya menggeliat, seakan matahari mengganggu nya dari dunia mimpi yang indah.

Aletta terbangun. Dan setelah beberapa menit terdiam untuk mengumpulkan nyawa nya, baru ia bangun dan bersiap siap untuk memulai hari nya lagi di sekolah.

Setelah siap, ia turun menuruni tangga, dilihatnya Aksa yang sedang menyantap makanan nya.

Aletta melirik jam yang berada di tangan mungil nya, matanya melebar. Ternyata ini sudah jam 06.50 yang artinya 10 menit lagi adalah bel masuk, memang dari tadi Aletta tidak melihat jam, jadi ia tidak tau ini jam berapa.

Aletta setengah berlari untuk mengejar Aksa yang sudah berdiri dan bersiap untuk keluar dari rumah, bruk!

Ia ... Terjatuh.

Aksa menoleh, merasa bahwa baru ada batu besar yang jatuh. Oh,dia?Aksa kembali melanjutkan langkahnya.

"KAK AKSAA!" Aksa menoleh.

"TUNGGU,TUNGGUINNNN.GU-EH AKU, BARENG YA."

"g." bahkan terlalu merepotkan bagi Aksa menyebut huruf vokal untuk pelengkap huruf konsonan itu.

* * *

Disini lah Aletta berada, dilapangan, berdiri dengan tangan yang terangkat, memberi hormat pada sang saka merah putih. Sumpah ini gara gara Aksa! Ingin sekali Aletta mengutuknya.

Hari ini, hari sial kah?

1 jam sudah ia berdiri disini.

Tak bisa dipungkiri Aletta sangat pusing, tapi ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia pingsan? Dan tidak ada yang menolongnya? Ini adalah dunia nyata, Dimana tidak ada seorang pangeran yang membawanya dengan menggendongnya ala 'bridal style'.

Aletta menggeleng kan kepala nya, sudah cukup, jangan berimajinasi lebih Aletta.

Aletta tidak sempat sarapan tadi pagi,bini yang menyebabkan ia lemas seperti sekarang, gue ga lemah.gausah drama deh! batin Aletta ikut menyahut.

Tetapi, kakinya sudah sangat lemas, matahari juga sangat menyengat. Kepalanya pening. Hilang kendali, sampai akhir nya,

Bruk! Aletta tak sadarkan diri.

Sontak hal itu mendapat perhatian dari murid murid yang sedang berada di sekitaran lapangan. Mereka mengerubungi Aletta, tanpa ada niat membantu. Percuma.

Mungkin juga karena banyak dari mereka perempuan, tidak ingin membantu karena pikir mereka tidak kuat. Niat nya melihat Aletta dari dekat hanya karena untuk bahan gosip pagi ini.

"Minggir." pemilik suara itu langsung menyampirkan tangan kanan nya di punggung Aletta dan tangan kiri ia sampirkan di lutut Aletta bagian dalam.

Ia berjalan membawa Aletta ke UKS, pekik-an histeris dari para kaum hawa menggelegar di sepanjang koridor, melihat sang idola membawa perempuan di tangannya sungguh membuat cemburu, tapi itu terlihat sangat cool!!

* * *

Indra penciuman Aletta menangkap jelas bahwa ini bau obat obatan. Perlahan Aletta membuka matanya, melihat sekeliling, bukan untuk bertanya 'ini dimana?' karena ia sudah tau ini di UKS, Aletta tidak suka drama. Kecuali, drama yang memang sengaja di buat. Aletta melihat sekeliling, memastikan bahwa ada orang atau tidak di sini.

"Bodoh! Ga makan tadi pagi." pernyataan itu membuat Aletta kaget. Baru saja membuka mata, sudah di kejutkan oleh sosok yang memiliki ucapan pedas dan wajah datar itu. Dan yang lebih aneh, mengapa sosok itu marah marah padanya? Ia salah apa?

"Tunggu sini!." ucapnya gusar, lalu setelah itu bahu nya menghilang setelah pintu UKS tertutup kembali.

"Aneh dasar Aksa!." untung orang nya sudah keluar.

* * *

udah lama ga update kan?sekarang up Ko:).
Oiya,stay save teman²! Buat kalian yang masih keluar rumah, ayo sadar!Bahwa nyawa kamu itu lebih berharga! Ya walaupun ngga berharga bagi si doi,eh ngga,canda ko canda.

tinggalkan jejak ya. Jangan sider aja:)


Tbc<3.

AksAleta's StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang