Keheningan yang menyesakkan menggantung di antara mereka. Starley menggigit bibirnya, mencoba menahan emosinya saat Luigene terus mendesaknya. "Jawab aku, Abbey," suara Luigene terdengar khawatir sekaligus marah. "Apa Arlington sudah mengetahuinya? Dia setuju untuk bercerai disaat kamu mengandung?"
Starley menutup matanya sebentar, jemarinya mengepal di sisi tubuh. "Itu bukan urusanmu," ulangnya, meski kali ini suaranya lebih pelan, nyaris bergetar.
"Jadi Arlington tidak tahu?" Luigene mengusap wajahnya kasar, "Sampai kapan kamu akan menutupinya? Mengapa tidak beritahu Arlington–"
"Cukup Luigene." Starley membuang wajahnya. "Sudah kubilang ini bukan urusan kamu."
Luigene terdiam sejenak. Matanya menatap lekat pada sosok perempuan itu, mencari celah berusaha untuk mengerti bagaimana perasaan perempuan itu. Helaan napasnya terdengar berat sebelum akhirnya ia menarik tubuh Starley, tanpa ragu ke dalam dekapannya.
Starley terkejut, seketika tubuhnya menegang sempurna. Ia mematung di dalam pelukan itu. Starley terlalu terkejut hingga ia sendiri tidak tahu harus mendorongnya atau membiarkan dirinya larut.
"Maaf karena aku terlalu memaksamu," suara Luigene terdengar rendah di telinganya, "Aku hanya tidak tahan jika harus melihatmu menanggung semua ini sendirian."
Ia merengkuhnya lebih erat, seolah ingin memindahkan separuh beban dari pundak Starley. "Kali ini, aku tidak akan membiarkanmu sendirian, apa pun yang kamu tanggung, biarkan aku menemanimu melewati semuanya. Aku akan ada di sini, entah kamu suka atau tidak."
Starley menggigit bibirnya kuat-kuat, mencoba menahan gejolak di dadanya. Tapi seiring hangatnya pelukan itu, tangisnya pecah juga.
Isakannya terdengar pelan, akhirnya ia menyerah.
"Aku... aku tidak siap, Luigene," suaranya terdengar lirih, hampir tenggelam dalam tangis. "Bagaimana mungkin aku bisa memberitahunya tentang kehamilanku ketika akulah yang meminta perceraian itu?"
Air matanya mengalir deras, membasahi bahu pria itu. Jemarinya mencengkeram kemeja Luigene, seolah tak punya pegangan lain. "Akulah yang memilih pergi, aku juga yang melepaskannya. Kalau dia tahu tentang kehamilan ini sekarang... apa yang akan dia pikirkan? Bagaimana jika dia tidak menginginkan anak ini?"
Tapi Luigene cukup mengenal Arlington. Pria itu tidak mungkin menolak darah dagingnya sendiri, karena itulah ia ingin membawa Starley bertemu Arlington. Namun, di saat yang sama, ia tidak ingin memaksanya.
"Aku takut, Luigene. Aku takut kalau dia akan melihat anak ini sebagai alasan palsu untuk memaksanya kembali padaku."
Tak sedetik pun Starley berpikir untuk kembali pada Arlington, meski jauh di lubuk hatinya ia masih mencintai pria itu dan sering merindukannya. Namun perasaan itu tak pernah cukup untuk membatalkan keputusannya.
Ia tetap memilih berpisah.
Anak ini, bukan alasan untuk mereka kembali. Ia tidak ingin kehadiran bayi ini dianggap sebagai jalan untuk mengikat lagi apa yang sudah ia lepaskan.
Terlepas dari itu, hatinya belum siap menghadapi reaksi sang mantan suami, sekalipun ada keinginan besar dalam dirinya agar Arlington tahu tentang kehamilan ini.
Beberapa waktu yang lalu, Starley sudah membulatkan tekadnya bahwa ia akan memberitahu Arlington tentang kehamilannya. Tetapi ketidak hadiran Arlington saat itu memukul mundur tekadnya.
Sejak saat itu, ketakutan Starley semakin dalam. Bagaimana jika kali berikutnya ia mencoba, yang datang justru penolakan? Bagaimana jika Arlington benar-benar tidak menginginkan anak ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
REASONS
RomanceBagai sebuah cerita dalam dongeng, Arlington, seorang bangsawan menikahi Starley Langner, aktris terkenal. Pernikahan mereka tampak sempurna selama tiga tahun, hingga semuanya hancur dalam satu kata, yaitu perceraian. Setelah resmi bercerai, takdir...
