Tak Terduga

326 26 2
                                        

Pennsylvania Hospital

Dua mahasiswa terlihat berlarian di koridor rumah sakit yang penuh dengan perawat dan dokter. Bau obat-obatan mulai menyeruak masuk ke indra penciuman. Tiba di ruang operasi merupakan tujuan mereka saat ini. Untung saja polisi cepat sampai di tempat mereka di kurung.

"Vince!" Panggil mereka pada seseorang yang duduk di bangku panjang depan ruangan steril itu.

"Akhirnya kalian datang, sekarang jelaskan padaku kenapa Darla bisa ada di sana?!" Vince menatap mereka tajam. Matanya memancarkan kemarahan yang amat sangatlah besar. Membuat Max dan Ash menunduk.

"Sebenarnya itu salahku. Aku membebaskan dia karena dia berjanji akan membawa adik ku kembali. Aku terlalu khawatir dan tidak berfikir lebih jelas.. Ternyata dia menipu dan mengurung kami." Jelas Max

Sudah cukup. Vince sudah tidak tahan lagi. Dia melayangkan pukulan ke wajah Max. Matanya berkaca-kaca teringat bagaimana Casey terduduk lemah. Dia membayangkan bagaimana sakitnya itu. Gadis itu memang tangguh, tapi jika peluru sudah mengenainya, dia tetaplah manusia.

"Karena kecerobohan mu Casey sekarat! Darla menembaknya bodoh! Gadis itu kesakitan! Dia harus di operasi karena itu!" Vince berteriak kencang. Segala sumpah serapah keluar dari mulutnya. Max mengerti.. Bersama dengan mereka belakangan ini cukup membuatnya mengerti betapa berharganya Casey untuk mereka.

"A-aku minta maaf.. Aku tahu aku salah.." Max menyadari kesalahannya dan dia tidak marah pada Vince.

Joey menghampiri mereka dan mencoba menenangkan temannya itu "Sudahlah Vince, meski kau memukulnya berkali-kali itu tidak akan membuat Casey kembali lagi" Lirih Joey

Max dan Ash mengerti maksud agent itu. Mereka melotot tidak percaya dengan perkataan Joey barusan, mereka langsung berlari ke ruangan Casey, tapi sepertinya Vince belum menyadari itu,

"Aku tahu tapi dia perlu di beri pelajaran! Aku mau di- Tunggu dulu.. apa yang tadi kau kataka?"

Joey membuang napas pelan "Casey tidak bisa di selamatkan.. Dia kehilangan banyak darah. Tubuhnya.." Suara Joey seakan tertahan. Dia mencoba agar airmatanya tidak keluar "Tubuhnya sudah di pindah di ruangan sebelah"

"Tidak, ini tidak terjadi.. Dia tidak mungkin meninggalkan ku, meninggalkan kita.." Vince berlari masuk ke ruangan Casey di ikuti Joey

Di dalam Luke tengah memojokkan seorang dokter, yang di ketahui dokter yang menangani Casey "Dia masih hidup dok, gadis itu masih hidup kan?"

"Kami sudah melakukan semua yang kami bisa, tapi Tuhan berkata lain Casey Fox sudah meninggal" Jelas dokter itu hati-hati

Mereka tidak bisa menerima kenyataan ini. Misi memang berhasil, tapi gadis mereka pergi untuk selama-lamanya. Ash sudah duduk di ujung ruangan dan menangis seraya menelungkupkan wajahnya di antara kedua kaki. Dia baru saja bertemu kakaknya, tapi sekarang Tuhan sudah mengambilnya. Ini memang tidak adil, ingin rasanya Ash marah, dia bisa saja menyalahkan Max, but life doesn't work that way. Bahkan Drew yang kepalanya di perban dan seharusnya beristirahat berada di sana

Luke dengan berat hati menelepon Carol. Vince dan Joey pun tidak mampu melihat tubuh kaku gadis itu. Beda halnya dengan Drew yang tetap setia di sampingnya dan memegang erat tangan mungilnya.

"Casey dengarkan aku.. Aku minta maaf karena kelemahan ku kau seperti ini.. Seharusnya peluru itu untuk ku, seharusnya aku yang terbaring tak berdaya di sini bukan kamu.. Aku merindukan pelukan hangat mu, aku merindukan sandwich buatan mu, aku merindukan wajah polos mu tiap pagi kau bangun.." Kata Drew tulus membuat Max lebih merasa bersalah

Joey pun memberanikan diri mendekat dan memegang tangan Casey yang satunya "Aku janji aku tidak akan mengerjai mu lagi dan akan membuatkan spageti favorit mu setiap sore.. Tapi kau harus bangun princess"

"Bangunlah Casey.. Berjuanglah untukku.. Untuk kami.. Untuk Ash.. Aku.. Aku..." Drew mengelus pipinya dan mencium puncuk kepalanya.

Pintu terbuka menampilkan dua perawat perempuan "Permisi.. Kami mau memandikan may-"

"Jangan pernah sebut kata itu!" Potong Luke dingin

"Keluar sekarang!" Marah Vince. Dua perawat itupun menutup pintunya dan menjauh dari kamar itu

Ash berdiri di samping Casey dan menunduk. Joey langsung menjauh melihat Ash yang ingin bercerita dengan kakaknya "Casey.. maafkan Aku, Aku sangat bodoh dan tidak berguna.. Aku berjanji akan menjadi adik yang lebih baik untuk mu, asalkan kau bangun.."

Semua orang di ruangan itu bersedih dan sangat terpukul. Mereka tidak bisa berhenti menangis dan memohon agar semua ini hanyalah mimpi

"Jujur saja Aku tidak rela dia begini.. Aku mau dia bangun.. Tapi kita tidak bisa merubah semua ini. Casey sudah pergi meninggalkan kita. Tiga peluru itu mengenai tepat di perut, membuatnya kehabisan darah" Kata Luke

Joey mengangguk "Ikhlaskan saja.. Aku tahu ini berat, apalagi untuk kalian berdua. Entah kenapa, kalian bertiga seperti punya ikatan lebih dari pada Aku dan Luke" Dia tersenyum paksa "Casey tidak akan menyukai ini.. Dia tidak mau kita semua menangis seperti ini"

"Aku menyayangi mu Casey.. Selamanya akan begitu. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi mu"

Hingga......

                            ▪▪▪

Grey's AgencyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang