Darla terikat pada kursi kayu, di tengah ruangan rumah Team Silver. Wajahnya lebam dan rambutnya berantakan. Luke mencabut tape yang membekap mulutnya. Darla meringis kemudian menatap mereka angkuh.
"Bukan aku yang harusnya kalian tangkap" Katanya
"Di mana mahasiswa lain?" Tanya Luke dingin
Darla terkekeh "Sold"
"Ke?" Luke menatapnya serius
Wanita itu tersenyum miring "To your mom"
"Aku tidak main-main" Casey pun menendangnya di wajah. Teriakan Darla menggema. Bibirnya sobek. Dia meludah ke samping, mengeluarkan sedikit darah
"Kalian tidak akan menemukan mereka" Jawab Darla
"Siapa pembelinya?" Tegas Luke
"Willy Grews, seorang kepala sekolah SD di Inggris" Darla melirik Drew "Apa kalian tahu 1 manusia berharga 2x lipat dari pendapatan kalian setahun?"
"Apa yang di lakukannya pada mahasiswa itu?" Tanya Drew
"Bodoh. Kalian tidak mengerti juga.." Darla menggeleng kepalanya "Dia menjual organ tubuh mereka ke pasar gelap dan memakan apa yang tersisa. Tidak rugi sama sekali, lagian mahasiswa mahasiswa itu pantas di makan"
"Bagaimana dengan Maddie Banks?" Tanya Max
Darla mengalihkan pandangannya dan menatap Max "Dia spesial"
"Apa maksudmu?" Tanya Ash
Senyum lebar milik Darla membuat Team Silver sudah mengetahui jawabannya "She's the Dekan's toy"
"Brengsek" Teriak Max. Dia melempar vas bunga di meja ke arah dinding. Napasnya tidak teratur. Tangannya mengepal.
Joey yang sejak tadi di dapur, memutuskan keluar dan menanyakan langsung "Di mana dekan?"
Darla terkejut "Mr Anderson? apa yang kau-" Tapi sedetik kemudian dia menunduk "Kau bagian dari mereka."
"Di mana dekan?" Tanya Joey sekali lagi. Tapi wanita itu menutup mulutnya rapat
"Kau masih beruntung tidak di hajar Vince ataupun Luke. Wajah memar dan jari-jari yang patah baru awal dari semua ini"
Sebuah ide tiba-tiba saja muncul di kepala wanita jahat ini. "Cium aku dan akan ku beri tahu lokasinya" Dia tersenyum bangga atas idenya ini
"Apa?" Semua terkejut mendengar perkataan Darla
"Janji?" Joey pun maju. Darla tersenyum dan mengangguk mantap. Joey pun merengkuh lehernya dan mencium wanita itu. Sangat cepat memang, tapi Joey berpikir itu lebih cepat mendapatkan informasi
"Manis" Darla menjilat bibir bawahnya. Joey pun menjauh dan menatapnya datar
"Sekarang tepati janji mu. Di mana dekan?"
Darla memutar bola matanya malas "Di mana lagi tempat yang aman untuknya?"
"Ruang kerjanya di kampus" Kata Joey
Team Silver pun bergegas, menyiapkan segala keperluan mereka. Luke menghentikan langkahnya naik tangga, dan kembali ke arah Max dan Ash yang masih berada di tempat mereka tadi
"Kalian berdua tinggal di sini saja"
Tapi Max menatapnya tajam "Aku tidak mau. Aku akan ikut dan memastikan Maddie baik baik saja"
"Dengar Max. Kita semua akan sibuk, kami tidak punya waktu menjaga kalian. Kami pastikan Maddie baik-baik saja, sejauh ini kami belum penah gagal menangani misi. Percaya pada kami, adik mu akan tiba dengan selamat" Jelas Luke "Sebentar lagi agent lain akan datang menjemput Darla, jadi tidak perlu takut. Ini buat kalian berdua agar bisa melihat dan mendengar semua yang kami lakukan. Apa itu sudah mengurangi kecemasan mu?" Drew pun memberi mereka laptop yang tersambung dengan kamera mini mereka di baju masing-masing.
"Aku harus pergi, 10 menit lagi mereka tiba. Kalian bisa ke ruang bawah untuk mengambil senjata jika orang gila ini mencoba bertindak" Kata Casey pada Ash
"Berhati-hatilah kak" Ash pun memeluk kakaknya dan mencium puncuk kepalanya "Kau juga. Segera kabari aku jika ada sesuatu yang terjadi"
▪▪▪
"Bersiaplah" Gumam Luke "Casper?"
"Gerbang depan ada 4, halaman belakang ada 3, samping kanan dan kiri kampus aman"
"Baiklah, Shadow dan Mistiq masuk dari samping. Winter atasi yang belakang dan aku depan. Make it smooth, aku tidak mau Dekan melarikan diri kalau mendengar bunyi senjata"
"Siap" Semua pun bergegas menjalani tugas masing-masing. Luke dengan mengendap-endap masuk lewat gerbang depan.
"Ada 2 orang sedang berjalan ke arahmu Silver" Luke bersembunyi di balik pohon, lalu menerjang dan menembak mereka. Pistol Luke memakai peredam, jadi tidak bisa di dengar Dekan
"Winter, Shadow cepatlah menyusul. Mistiq amankan mahasiswa lainnya dan bawa ke van bersama Casper"
Casey yang sudah berhasil melumpuhkan dua penjaga di depan sebuab lab, membuka pintu dan menampilkan 10 mahasiswa dengan tangan saling terikat. Dia cepat menuntun mereka ke van dan ingin menyusul Luke, Vince dan Joey di dalam.
Casey mengetuk dan pintu terbuka dengan sendirinya "Cepatlah masuk, nanti- Drew..."
Punggung Casey di pukul dengan kayu besar membuat tubuh mungilnya terjatuh "Tenanglah gadis kecil, kau lihat kan bagaimana keadaan temanmu itu?"
Sepuluh mahasiswa tadi berlari menjauh. Drew sudah terikat dan kepalanya mengeluarkan darah akibat di pukul benda tajam. Dia merontak saat Casey jatuh, tapi ikatan Darla ini sangatlah kuat. Susah untuknya melepaskan diri.
"Apa kalian pikir aku bodoh? Kau dan teman-temanmu sama saja.. Payah dan tidak berguna" Sahut Darla sambil memainkan pistolnya
"Bagaimana kau bisa kabur?" Tanya Casey
"Aku juga punya orang dalam" Jawabnya santai
"Max melepaskanmu dengan balasan keselamatan adiknya" Tebak Drew
Darla bertepuk tangan "Kau pintar.. Aku meyakinkan dia dan bodohnya dia percaya.. Tapi temannya itu cukup menyusahkan, dia lebih percaya pada kalian. Jadi aku memberi sedikit pelajaran sebelum kesini"
"Licik!" Casey berteriak. Dia sangat mengkhawatirkan Ash saat ini
"Aku anggap itu pujian.. Wallace kurung mereka dan pastikan kali ini penjagaan ketat" Kata Darla pada seorang pria yang baru saja sampai di sana
"Baik Mrs"
"Dan kau.." Tunjuknya pada Drew "Ucapkan selamat tinggal pada temanmu" Senyum miring Darla membuat Drew merontak lebih keras dan sesekali berteriak padanya. Tapi itu tidak merubah apapun. Gadis yang berada di depannya ini membulatkan matanya saat tiga timah panas menembus perutnya
"Casey!!!!"
Tembakan kembali terdengar tapi bukan berasal dari Darla. Luke yang menembaki peluru-peluru itu ke Darla tepat di kepalanya
"Die Bitch!"
Mereka berlari ke arah Casey yang sudah bersandar di samping mobil dengan perut yang mengeluarkan darah segar. Gadis itu tidak membuka matanya, membuat keempat lelaki disana panik
"Casey.. Bangunlah, dekan sudah di tangkap.. Kita akan pulang.." Kata Joey sambil mengelus kepala gadis itu. Ia merubah posisi Casey bersandar padanya, Vince menelefon ambulance dan Luke membuka ikatan Drew. Segera Drew keluar dari mobil dan berlutut di samping Casey.
Untuk pertama kalinya dia menangis. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian ini. Dia merasa tidak berguna dan bodoh. "Casey, bangunlah maafkan aku.."
"Ambulance sedang menuju kesini" Sahut Vince
"Ak-aku minta maaf Casey.. Aku terlalu lemah, aku tidak bisa menjagamu.."
Tak butuh waktu lama mobil ambulance bersama beberapa mobil polisi tiba disana.
"Cepat bawa dia ke ambulance, kalian semua ikut" Joey pun mengangkat gadis itu dan membawanya ke ambulance diikuti sisa team
Petugas mengambil tindakan. Cairan infus, jarum suntik serta berbagai alat lainnya telah di siapkan. Seorang perawat yang bertugas memeriksa luka Casey mulai khawatir "Bos, nadinya semakin lemah.."
▪▪▪
KAMU SEDANG MEMBACA
Grey's Agency
AksiDengan terpaksa Mr Flint memanggil kembali Team Silver di tengah 'cuti' mereka. Reuni yang patut di nantikan, tapi tidak berjalan sesuai harapan. Nyawa kembali di pertaruhkan setelah 3 tahun. *Dalam Tahap Revisi*
