Menanti Pesan

9.8K 66 2
                                        

Tidak terasa seminggu lebih aku telah mengenalnya. Hari demi hari aku lewati bersama dengan Gunawan yang berada di ujung sana. Raganya tidak ada disampingku. Tapi aku mulai merasa bahwa keberadaannya secara virtual bersama ku kian nyaman. Walaupun aku selalu menyangkal bahwa dia membuatku nyaman. Pergolakan batin ku selalu memaksaku menjadi ketus dan dingin terhadapnya.

----------------------

Hari itu aku bilang kepadanya akan main kerumah temanku. Mereka sedang pulang kampung. Aku sempatkan berkumpul untuk saling tahu kabar masing-masing. Mulai dari pagi aku sudah berada di rumah temanku, hingga hari mulai menjelang sore. Sesekali aku melihat Whatsapp di handphoneku. Bertanya-tanya 'tumben kok dia ga wa aku'. Lalu aku hanya tetap berpikiran positif bahwa mungkin memang sedang tidak ingin berbincang denganku.

Kini hari menjelang malam, hatiku gelisah karena aku tidak mendapati pesan darinya satupun. Aku mencoba mengalihkan perhatianku dengan bercengkrama dengan kawan-kawanku. Tapi hatiku terasa mengganjal. Aku coba cek lagi paket data ku, ternyata masih ada. Sinyalpun penuh tidak kurang. 'kemana dia' gumamku dalam hati.

Salah satu kawanku, Yura. Ia menyadari bahwa aku tampak tidak tenang.
"Kamu kenapa Di? Udah disuruh pulang sama orang tua mu?"
"Ah engga kok". Sangkalku
"Trus gelisah amat dari tadi, lihat handphone mulu".
"Hehehe kalian juga pada lihat handphone terus".


Mulutku gatal sekali untuk bercerita pada Yura, tentang Gunawan. Laki-laki yang ku kenal melalui sosial media ini. Yura ini teman dekatku semenjak SMA. Dia salah seorang yang tahu kelakuan nakalku di dunia online. Seringnya jika aku berbincang tentang lelaki yang aku temui online, Yuralah orangnya. Akhirnya kuputuskan untuk bercerita kepada Yura, tentang Gunawan. Laki-laki yang aku kenal melalui sosial media. Aku saat itu merasa bimbang untuk melanjutkan berhubungan dengannya. Ia pun menyarankan aku untuk tidak terlalu dekat dengannya. Apalagi mengetahui masa lalunya yang kelam. Yura, mendukungku untuk tidak melanjutkan hubungan bersamanya. Hatiku, mengatakan yang lain namun Yura adalah teman dekatku. Saran yang diberikan olehnya patut aku pertimbangkan untuk memutuskan sesuatu. 

Setelah selesai berkumpul bersama teman-teman SMA ku, kita pun balik kanan alias pulang. Saat perjalanan pulang aku pun mulai memikirkan omongan Yura.

"Di, dia sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa dia sangat tertarik padamu walau dia belum tahu siapa namamu. Kalau kamu belum yakin bahwa kamu akan suka padanya dan menurutmu masa lalunya dan apa yang membuatnya hingga seperti sekarang terlalu berat untukmu lebih baik kamu usaikan saja obrolanmu dengannya. Ini masih baru beberapa hari. Semakin lama kamu menundanya, semakin sulit kamu akan melepaskannya"

Pikiranku terbuyarkan oleh suara klakson motor bajingan yang tidak sabar menanti. Lampu lalu lintas itu baru saja berganti warna hijau, apa yang membuat para pengendara motor bajingan itu ingin segera beranjak. Kenapa orang-orang tidak bisa santai. Aku bersungut melajukan motorku meninggalkan persimpangan jalan.

-------------------------------

*Pukul 11 Malam*

Aku masih mengecek kembali Whatsapp di handphoneku, belum ada tanda-tanda kabar darinya. Aku pun membuka akun media sosialnya, tidak ada unggahan terbaru darinya. Cemas sedikit kurasa, kemanakah perginya Gunawan. Tadi pagi masih sempat mengobrol via Whatsapp, mengapa sekarang pergi entah kemana?

Aku lelah menanti kabarnya, harap-harap cemas. Padahal aku masih belum tahu tentang perasaanku padanya. Tapi kenapa aku merasa gelisah bila tidak dihubungi olehnya, Ah kepalaku makin pusing memikirkan ini. Aku putuskan untuk tidur saja siapa tahu besok pagi ada keajaiban datang dari langit.

----------------------------------

Ku buka mata yang telah cukup lama beristirahat. Hal pertama yang ku lakukan adalah mencari handphoneku dan mengecek apakah ada pesan dari G. Ternyata, ah tidak ada kabar sama sekali. Aku duduk dipinggiran kasurku menyangga kepalaku dengan tangan kiriku. 

'Apakah dia sudah tidak ingin berbincang denganku?, salah bicara apa aku sehingga membuatnya langsung berpaling dariku?, apakah aku terlalu bermain misterius dengannya?, atau dia sudah menemukan yang lebih baik dariku? Ah, rasanya tidak mungkin dia menemukan yang lebih baik dariku. Aku berhasil menarik perhatiannya dan membuatnya penasaran, wanita mana yang bisa seperti itu?'

kepalaku makin pusing saja karena itu masih pagi dan aku belum makan. Perutku berbunyi tanda keroncongan, aku pun segera mandi dan lalu menyantap sarapan pagi.

-------------------------------

*pukul 12 siang*

[Pesan dari G]
[Pesan dari G]
[Pesan dari G]

aku yang tengah asik menonton film di laptopku langsung mengangkat layar handphoneku dan melonjak kegirangan. Ah, ternyata dia masih hidup. Ternyata dia masih ingin berbincang denganku. Aku berjoget-joget dalam kamarku. Merayakan pesan balasan darinya. Senang sekali dia akhirnya mengabariku.

[Maaf By, Hapeku kemarin diservis]
[ini baru selesai]
[layarnya mati, setelah chatting kamu kemarin. Trus akhirnya aku ganti]

Masih dengan diana yang dingin dan jaim. Kali ini tidak ketus, baru beberapa detik yang lalu aku berjoget kegirangan mendapatkan pesan darinya. Mana mungkin aku bisa ketus padanya.

[Oh, pantesan]
[Trus gimana? Udah beres?]

-------------------------------------------------

Candu KuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang