Bab 10

352 70 5
                                    

"hei, berhentilah menatapku seperti itu, lagipula, bukankah kau harus pulang?"

Mata Emma menatapnya tajam, seolah ia terganggu dengan posisi dan tatapan Ray yang sekarang ada di apartemen Anna.

Ruang tv berlatar karpet hijau membentang, dengan meja bundar dan beberapa orang mengelilingi nya.

Ray masih menahan reputasinya, ia menyesap ocha buatan Anna sambil menunggu gadis itu kembali mengambil cemilan.
Sedang Emma, ia punya niatan main karuta dengan Norman dan Anna di kediaman sepupunya, sampai sepupunya, Anna.
Kembali dengan mengebet Ray ke apartemennya.

Bukan sebuah Masalah sebenarnya, hanya saja, Ray bertingkah aneh sejak tadi, pria itu melirik Emma dari balik cangkir tehnya dengan artian khusus.

Membuat Norman juga sedikit terganggu dengan sikap Ray terhadap Emma.

"Bukan masalah aku tak pulang malam ini,"

Ucapnya dengan santai, Norman mengerenyit,

"Biar ku tebak, rapat guru tahunan?"

"Bukan, rapat dinas."

"Kalau begitu kita sama,"

Ujar Norman senang karena mereka sama.

"Tapi Norman, ayahmu di Amerika,"

Timpal Emma membenarkan, bukannya membantah, tapi itu nyatanya, Tuan Minerva punya banyak urusan tentang bisnis bangunan di luar negeri, dan itu sebabnya Norman ditinggal di Jepang untuk menempuh SMA sendiri.

Disisi lain juga, Norman benci ketika harus pindah pindah sekolah seumur hidupnya.

"Tapi kami bisa bermalam disini kan?"

Norman tersenyum lebar memberi kode pada Emma.yah, ini bukan kediamannya, ia tak punya hak memberi ijin.

"Disini sempit, aku kemari saat aku bosan kerumahnya Ray saja. Lebih baik cari tempat yang lebih luas kalau kita ingin bermalam bersama."

"Begitu, pantas saja kau akhir akhir ini jarang datang."

Gumam Ray kembali fokus pada tehnya.

Dibanding itu, Saran Emma masuk akal, gadis itu juga punya rencana bermalam main catur dengan Norman saat musim panas, menghabiskan waktu dengannya boleh juga soalnya.

"Kalian mau bermalam?"

Tanya Ray menimpali percakapan mereka.
Emma sontak mengangguk semangat, ia sudah menebak nebak kalau Ray pasti ikut.

"Ray kau mau gabung? Akan kuajak Anna nanti,"

Tawar Emma dengan menambahkan sedikit bumbu modus, berharap dengan itu tawarannya manjur dalam Ray begadang nantinya.

Ray meletakkan gelas kecilnya, menghembuskan nafas lega selepas meneguk setengah nya.

"Tidak, aku benci begadang."

Emma tersenyum getir, pupus sudah harapannya.
Ia juga sebenarnya tak mengajak Anna, tadi itu hanya tipuan untuk modus pada Ray belaka.

"Maaf menunggu lama,"

Pintu di ruangan terbuka dengan kakinya, Anna kembali dengan nampan dan sepiring ohagi dan keripik kentang, gadis itu tak mengepang lagi rambutnya seperti biasa, ia kini mengikatnya rendah dengan disampirkan di bahu nya.

"Ouh! Ohagi! Apa ini hangat?"

Seru Emma langsung semangat begitu melihat sepiring ohagi berasap di atas meja, buru-buru Anna menampar tangan Emma yang mulai hilang kendali.

Ray : shape of world - [ Promised Neverland. ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang