Sayup nafasnya terdengar, Anna hanya membolak-balik buku kedokteran yang masih ia pelajari, nilai rata-rata nya pas-pasan, kecil kemungkinannya ia bisa mengambil jurusan kedokteran di kuliahnya nanti,
Satu satunya jalan ia bisa mengukir kebahagiaan untuk ayahnya.Ayahnya bilang, dahulu ibunya adalah perawat yang hebat, meski hanya perawat, ia menekuni posisi itu bertahun tahun sampai menikah dengan ayahnya.
Sedang ayahnya..
"Hei, Anna, kau belum tidur?"
Langkah kaki berat menapak lantai di dekat pintu kamar Anna, gadis itu menengadah untuk menatap sosok yang melangkah mendekat itu,
Mata emeraldnya mengikis lamunan Anna sejak tadi,
ia tau, sepupunya ini butuh istirahat untuk menyegarkan pikiran dari buku buku tebal bertema kesehatan ini."Emma."
Gadis itu mengangguk sambil menelan mochi yang ia bawa dengan piring, lapar sekali, bisa bisanya Anna bertahan hidup semalaman hanya dengan teh hijau dan setumpuk buku yang mengerikan.
Langkah kakinya memasuki kamar Anna, cukup sempit, tapi ini memang ukuran apartemen anak SMA jaman sekarang.
Lagipula hanya malam ini Emma menginap di apartemen anak paman yuugo."Kau tak mengantuk?"
Tanya nya meletakkan sepiring mochi di meja tempat Anna bersila membaca buku.
Anna menggeleng sayu, kalau masalah seperti ini ia sudah terbiasa."Begitu ya..kau benar-benar niat masuk kedokteran ya?"
Anna tersenyum menanggapi sepupunya yang lebih tua 2 bulan darinya itu.
"Namanya juga cita-cita, Emma pasti juga punya kan?"
Katanya lembut mata birunya menatap Emma Lamat, penasaran dengan cita-cita gadis yang sejak kecil bersamanya ini.
"Um..mungkin,..aku kepingin menikah dengan Norman?"
"..."
Yah,Anna tak pernah menyangka jawaban polos semacam itu bisa keluar dari maniak makanan didepan nya.
Sejenak, Anna menelan ludah mencoba tak salah tingkah"Masa'?"
Emma mengangguk angguk layaknya anak kecil, yakin dengan keputusan tumpulnya barusan,
"Em! Ku pikir Norman akan bahagia ketika aku bersamanya, itu yang ku pikirkan, kalau aku tak bisa bersamanya, itu artinya kami harus menikah agar bisa bersama. Itu yang Ray katakan,"
Jelas Emma panjang pada Anna, lawan bicaranya terlihat mangut mangut berusaha mengerti apa yang ia katakan barusan, dilihat dari tingkahnya ia benar-benar polos dalam memikirkan hal dewasa.
Ray?
"Ray? Dia mengatakan itu?"
Gumam Anna menatap bukunya dalam, ia tak ingin menatap Emma, atau sepupunya sadar ada yang aneh dengannya.
"Yuah, Ruay swuka membueri tawu ku hual swepertwi itu..."
Ucap Emma tak jelas lantaran mengunyah mochi di mulutnya, gadis itu sekilas melirik ke Anna, mendapati ia menatap bukunya legam, seperti membicarakan hal suram tentang Ray.
"Kenapa kau?"
Anna terdiam, tak menjawab.
Mendadak saat itu juga ia b
angkit sambil membereskan buku buku yang berserakan,mata birunya terlihat sayu, ia lelah, ngantuk, jenuh.Merasa ingin tau Emma menengadah menatap Anna khawatir, sepupunya tak bicara setelah mendengar nama Ray.
Anna melangkah, meraih piring bekas mochi Emma, berniat membereskan layaknya tuan rumah,

KAMU SEDANG MEMBACA
Ray : shape of world - [ Promised Neverland. ]
Novela Juvenil"Ray.. menurut mu, seperti apa dunia ?" "entahlah" "apa yang paling kau inginkan di dunia ini ?" "tak ada." gadis itu terdiam, kembali duduk di kursinya, sepertinya ia terlalu banyak bicara dengan Ray tiap kali di perpustakaan. sambil memainkan tepi...