bab 18

383 61 7
                                    


Aku butuh hal yang lebih baik dari kenyataan.

Keyakinan.

.

.

.

"Apa yang kau lakukan?!"

Anna menggertak sambil memijat pangkal hidung di pinggir jalan, astaga, Jujur saja, ia menyesal menuruti Ray ketemuan di pinggir kota, niat sekali ia mengajak nya jalan-jalan.

Ray hanya terima menggaruk tengkuknya yang tak gatal, yah, ia punya alasan juga sih kenapa harus keluar dari rumah.

"Jalan."

Singkat Ray membuang pandang, Anna benar-benar tak ada niatan jalan dengannya, ia bahkan hanya mengenakan dress lengan panjang dan rambut digerai seperti biasa.

Ray terdiam, apanya yang biasa dari gadis ini?

Untuk sejenak, Anna merasa aneh dengan tatapan Ray, itu membuatnya tak nyaman.

"Hahhh, orang tua mu pergi kencan dan kau juga mau kencan? Apa ini kencan buta? Aku tak mengerti."

Anna sudah terlihat seperti dirinya yang asli sekarang, apa ia terjebak dalam drama image di depan semua orang sebelum nya?

Ray mengangkat bahu,

"Entahlah, pokoknya ajak aku kemanapun asal bukan dirumah."

Buru buru saja Ray melangkah, menarik tangan Anna agar gadis itu tak banyak berkutik masalah ia dan orang tuanya.
Kadang ia merasa jengkel ketika Emma dan Norman berbicara tentang ia atau orangtuanya, hanya kali ini saja ia merasa baik baik saja dengan ucapan orang lain.

Entah kenapa ia ingin bertanya tentang apa yang terjadi pada mereka sepuluh tahun lalu.

Benar, sepuluh tahun lalu.

.

Embun salju berterbangan menyapu angin layaknya tirai dibalik jendela, harusnya saat ini iya tak berada disini, hanya karena alasan orangtuanya sedang bicara hal membosankan ia jadi pergi jauh dari penginapan,

Salju turun begitu tebal jadi ini, dan itu berlangsung benar benar lama, astaga, apa ini yang ia dapatkan ketika natal akan tiba?

Membosankan.

Iris kelam itu menatap butiran putih yang terjun dari pohon lebat diatasnya, duduk dibawah pohon dengan buku yang diberikan papanya dan kamera Nikon pemberian mama nya adalah pilihan terbaik untuk menghabiskan waktu sampai papanya kembali menemukan nya disini.

Papanya ditugaskan di daerah pelosok Ishikari di Hokkaido.
Beberapa fasilitas kesehatan dan pengetahuan tentang medis modern masih kurang diterapkan disana, sebagai perwakilan sponsor rumah sakit tempatnya bekerja, papanya ditugaskan melakukan survei dan bimbingan pada penduduk asli di Ishikari.

Sedang mamanya, hanya ikut menemani suaminya bekerja, walau sebenarnya ia hanya ingin bisa makan udon asli di Hokkaido saja.

Bukan alasan pula ia sekarang membawa buku karangan puitis Musica, 'the shape of world'.
Ibunya memberinya asupan buku dengan bahasa tinggi karena ia pikir anaknya memang jenius.
Dan memang benar, hanya saja, bukan kejeniusan nya yang membuat mata dan hatinya jatuh hati pada buku setebal kamus Jepang dipangkuan nya itu, melainkan bagaimana cara penulis Musica menggambarkan apa yang ia rasakan tentang pandangannya pada dunia.

Ia benar-benar mengungkapkan segala nya, dari apa yang ia rasakan ketika ia melihat dunia untuk pertama kalinya sampai bagaimana ia bertemu sang belahan hatinya, Sonju.

Meski hanya separuh yang ia pahami, tapi entah mengapa kata kata yang ia tuliskan tentang cintanya pada Sonju benar benar bisa ia rasakan.

Bukan sebagai Musica, namun sebagai Sonju yang bahagia bisa bersama dengan Musica.

Ray : shape of world - [ Promised Neverland. ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang