Hening.
Mata ngantuknya menatap malas jalanan lorong panjang di depannya, Langkah kakinya terasa berat setiap detiknya, repot rasanya kalau ia terus terusan mencangklong tasnya dipundak dan mengantongkan kedua tangannya di saku,
Sesulit itukah hidup?
Sesekali ia menguap dan menghela nafas berat-berat, ditengah gejolak hening koridor sekolah.
"Ray.."
Ray menoleh sebelah muka, melirik asal suara yang cukup mengganggu ketenangannya, sejenak ia mendecih lirih menganggap pertemuan ini sebuah kesialan.
"Berjalanlah yang tegak,itu bukan sikap seorang siswa."
Mata sayu itu melengos, membalik badan sempurna untuk menatap sosok yang jadi lawan bicaranya, untuk kali ini ia menegakkan tubuhnya.
"Yah, jadi, ada apa,mama?"
Balas Ray mengangkat suara.
Wanita paruh baya itu menghembus nafas berat, sampai kapan putra tunggalnya ini menghilangkan kebiasaan buruknya...?
Langkah Isabella mendekat, memegang bahu Ray yang hampir sama tingginya dengannya."Wajahmu kusut sekali, apa kau mau pulang sekarang?"
"Tidak perlu disebut kusutnya, aku benci kalau harus menyetrika wajahku.
Mama sendiri percuma 'kan, menanyakan hal semacam itu padaku? Tak ada gunanya lagi pun kepala sekolah kalau kerjaannya hanya lembur sampai tengah malam."Mata Isabela mengerjap, tersenyum hangat pada putra tunggalnya itu.
"Sebentar lagi musim panas..mama akan libur saat itu tiba,dan papa mu akan pulang untuk seminggu pertama."
"Oh,aku akan menunggu."
Gumam Ray tak peduli, memang tak ada gunanya kalau ia harus merespon dengan ekspresi bahagia atau apalah itu, keinginannya tak akan terkabul, ia hanya ingin mama dan papanya mengakuinya sebagai seorang anak.
Bukan seorang anak yang menginginkan waktu bersama keluarga nya."Oh,mama.."
"Hm?"
Isabela memiringkan kepalanya, menatap Ray manis seperti biasa.
Jarang sekali putranya memanggilnya seperti butuh sesuatu.
Tangan Ray menadah, meminta sesuatu yang jadi jatahnya tiap bulan."Aku minta uang belanja dan uang saku tambahan."
.
Sore makin menenggelamkan matahari, waktu indah yang hanya pantas disebut dengan senja ini adalah waktu favorit Ray.
Di pematang sungai ia berdiri menatap matahari oranye berselimut awan padam, angin siur menggemakan telinga tenangnya hingga menembus pikir berat nya selama ini,Seisi kulkas sudah penuh di rumahnya, ia sudah memvakum dan mengepel seisi rumah sebelum mamanya datang malam nanti, setelah ia selesai dengan pekerjaan rumah yang jarang jarang ia lakukan ia melangkah keluar meninggalkan rumahnya mencari udara segar disekitar pemukiman.
Hobi yang biasa ia lakukan, menatap matahari senja di pematang sungai yang luasnya gak kejaban sambil sesekali menghela nafas beras seperti biasa.
Mata ngantuknya bisa tahan menatap matahari sampai terbenam, teman sekelasnya yang tau hal semacam ini,Emma pernah mencoba hal yang serupa, bukannya bosan atau apa, ia malah ketiduran sampai Ray selesai dengan kebiasaan nya.
Akhir cerita, Emma diantar dengan digendong Ray sampai apartemen nya, setengah mati Ray membopong siluman badak berwujud manusia bodoh itu, waktu pulang, rasanya saja Ray seperti kehilangan separuh badannya.Jaket biru berhoodie Ray tertiup angin, ia terduduk lelah menahan badan di dataran miring seperti pematang sungai, mata kelamnya berpantul cahaya oranye dari senja, rasanya duduk juga melelahkan, Ray membaringkan tubuh di atas rerumputan, memandang langit oranye kelabu dari dasar matanya.
Hingga sejenak, siur angin membisikkan ada sosok yang datang mendekatinya,
tidak, maksudnya ia mendengar langkah kaki dari jalanan, posisinya yang cukup tinggi dari sisi miring pematang sungai membuatnya cukup sensitif begitu mendengar langkah derap kaki di jalanan.Ray menolehkan kepala, ia melihat sepasang kaki melangkah cukup ragu ragu, kepalanya lumayan sulit dihadapkan ke atas untuk melihat wajah dari sepasang kaki itu, dilihat dari bentuknya itu kaki perempuan.
Berat..Ray mulai mencoba bangkit meski rasanya malas setengah mati,
Gadis itu...
Matanya terdiam menatap sosok yang kebingungan itu, di baca dari wajahnya ia menyapu pandang sekitar, menggigit bibir seperti orang gelagapan, ia lebih terlihat seperti orang tersesat.
Entah apa yang menggerakkannya, Ray bangkit mendekati gadis itu, langkah kakinya mendadak terasa ringan dengan niat tak terduga nya.
"Kau!"
Panggil Ray, ia lupa namanya,itu sebabnya ia hanya bisa menyebutnya sebagai seorang manusia bernama 'kau'.
Gadis itu cukup tersentak dengan panggilan mendadak dari Ray, rambut pirang lurus dengan beberapa helai darinya yang dikepang kecil kecilan berhembus angin senja, mata biru yang menatap Ray dari kejauhan cukup lega begitu tau kalau orang yang memanggilnya ia kenali, begitupun kaki yang barusan mundur kaget."Kau.."
Gumam gadis itu lirih, ia menghela nafas lega, anak kepala sekolah rupanya.
Ray mendekat, memiringkan kepalanya heran, apa yang gadis ini lakukan disini? Ia bukan orang sekitar sini.
Barusan tadi siang ia bercakap langsung dengannya di perpustakaan."Yo.Apa yang kau lakukan disini?"
Mata Ray menatapnya sayu, memberi pertanyaan yang tak selalu orang dengar darinya.
"Anaknya kepala sekolah.. syukurlah.."
"Kenapa?"
"Aku__"
"Kau tersesat kan?"
Seperti biasa, Ray selalu memberikan pukulan telak pada lawan bicaranya, tak peduli siapa pun itu.
Gadis itu tersenyum getir sambil mengangkat bahu,"Bukan itu, Lewis-sensei menitipkan ini untuk kepala sekolah,"
Katanya sembari mengeluarkan map tipe A dari tasnya,
Ray mengangkat alis sebelah, menerima map itu tanpa berhenti memandang gadis yang jadi lawan bicaranya."Yang tadi, belum kau jawab."
"Ng?"
"Kau tersesat?"
Ulang Ray sekali lagi untuk mendapatkan jawaban, barusan ia melihat gadis itu seperti orang yang tersesat,
Hatinya akan tak akan terima kalau ia tak punya kepastian gadis itu memang orang yang tersesat atau bukan.Wajah gadis itu tertunduk, ia mengangguk ragu-ragu.
Ray menghela nafas panjang.
"Oh, kukira hanya dugaan ku saja."
Gadis itu makin membenamkan wajahnya, sejak dulu...ia lama mengenalnya seperti ini.
Dalam keadaan semacam ini harusnya pria mengatakan'biar ku antar kau pulang.'
Tapi sayang, ini Ray.
Ray, lho..Rubah yang masa bodoh dengan keadaan sekitar nya biar sekitarnya sedang dilanda kiamat, selama itu tak mengganggunya itu bukan urusannya dan hal sekecil ini bukan masalah untuk nya.
Kalau urusan pulang gadis itu bisa pulang sendiri,
Ia mulai membukkuk mengucap terima kasih."Terima kasih, aku akan pulang sekarang, tolong map-nya.."
Katanya lantas berlalu meninggalkan Ray tanpa menoleh, ia hanya bisa tersenyum kecil menatap bebatuan jalanan, menggenggam tali tasnya kuat-kuat.
Ia lupa.
Ia benar-benar lupa.
Tapi sampai kapan ia akan lupa?..
"Kau yakin ingin pulang sendiri? "
Gadis itu tersentak mendengar pernyataan Ray, maksudnya, pertanyaan..
Bukan, penawaran maksudnya.
Wajahnya menoleh, mendapati Ray yang sudah menghadap padanya menunggu jawaban."Eh?"
-to be continued-

KAMU SEDANG MEMBACA
Ray : shape of world - [ Promised Neverland. ]
Fiksi Remaja"Ray.. menurut mu, seperti apa dunia ?" "entahlah" "apa yang paling kau inginkan di dunia ini ?" "tak ada." gadis itu terdiam, kembali duduk di kursinya, sepertinya ia terlalu banyak bicara dengan Ray tiap kali di perpustakaan. sambil memainkan tepi...