ada beberapa hal yang sering aku lewatkan, seperti makan siang karena tak ada teman atau mandi pagi karena tak ada rencana keluar. tak jarang kamar tidur jadi berantakan dan badan ini terkapar sembarangan, menatap langit-langit kamar yang tak ada beda dari hari-hari sebelumnya. kurang lebih sembari memikirkan semua kemungkinan baik yang bisa saja aku ciptakan sendiri. kemungkinan baik yang dapat menggantikan pikiran-pikiran buruk yang kian menjadi.
tubuhku jadi sudah terbiasa menuruti kepalaku yang seringnya tak mau bergerak. tak ada yang spesial dari isi kepalaku, hanya bayangan-bayangan mengerikan dan ketakutan akan kesempatan yang seharusnya tidak boleh aku lewatkan. sudah berapa lama aku bersama Dhika, tapi masih saja percaya bahwa tak akan ada yang bisa membuatku belajar. padahal Dhika adalah contoh yang bagus, tapi aku terlalu mencintai contoh itu sampai tak bisa menjadikannya motivasi. bahkan hanya sekedar untuk mengetahui apa yang aku mau.
Dhika tak akan punya waktu untuk mengurusi bayi sepertiku. dan aku terlalu senang untuk 'mempelajari' Dhika, tapi tak bisa menjadikannya sebagai hal yang baik untuk diriku sendiri. aku, mengenal Dhika yang sudah datang bersama mimpinya dan manusia-manusia yang berarti baginya, terheran melihatnya bersama dengan ambisi besar dan membebani dirinya demi sesuatu yang ia yakini bisa membuatnya merasa hidup. Dhika membuatku terlalu banyak berpikir, entah bahwa mungkin aku bisa menemukan kemungkinan baik itu dalam diri seorang Dhika. atau cuma sekedar motivator yang tak terlalu aku cintai.
aku selalu merasa lega tiap kali menyadari bahwa aku tak harus melalui kisahku bersama manusia lain untuk dipertemukan dengan Dhika. aku mengambil sebuah trope 'macarin temen abang' dan berakhir seperti sekarang. tentu sudah dengan persiapan untuk kemungkinan terburuknya.
"Ara."panggilnya, membuatku berhenti bicara dalam kepala.
aku menoleh dan mendapatinya sudah terduduk dihadapanku, diatas motornya dengan aku yang belum menginjakkan kakiku ke tanah sedari tadi, kulihat si tukang nasi goreng tengah sibuk mengaduk nasi seabrek bersamaan dengan antrian panjang, sepertinya kami harus pindah tempat karena bakal antri lama sekali.
"mau kemana, nih?" tanyanya, lalu menyalakan mesin dan mundur pelan sebelum jalan. pelan sekali karena masih belum tau harus kemana sampai akhirnya aku mendapati ponselku berbunyi. dari abangku. aku menyuruh Dhika untuk menepi, kemudian mendapati abangku ngomel sebentar karena aku belum pulang sampai akhirnya pembicaraan ditutup dengan 'ajak aja kesini, acaranya udah mau mulai. gak sopan kamu, cepet pulang!'
"kalau aku nolak gimana?"
aku tau pertanyaan itu cukup tricky karena jelas Dhika tak akan memolaknya. jadi aku rasa tak ada salahnya untuk mencoba.
"kayaknya gak bisa deh...... kecuali kamu mau makan tanpa aku." jawabku, berusaha untuk melihat mimik wajahnya yang jelas tak bakal kelihatan kalau dia tak menoleh.
aku terdiam sebentar, meringis kebingungan dan berakhir memikirkan banyak hal. "kalau gak mau, gak apa-apa. soalnya rumah bakal rame banget, Dhik...." jelasku lirih.
"apa sih? kamu nyuruh aku nolak makanan gratis? kita pulang kerumah!!"
setidaknya aku sudah mencoba.
Dhika pernah kerumah sekali, bertemu ayah dan ibu, bertemu semua orang termasuk tetanggaku. semua orang bertanya berapa usianya, kuliah dimana, jurusan apa, kenal aku darimana, semua ditanya. sepertinya sebanyak 51% kemungkinannya, Dhika tak merasa keberatan karena mereka semua mendapatkan jawabannya. tapi 49% sisanya adalah aku sebagai masalahnya. Dhika memang selalu siap untuk menempatkan dirinya dimana-mana. teman yang banyak, keluarga yang tak canggung, semua orang menyukainya.
abang punya pacar sejak kuliah, semester 2. ya tentu saja, gampang sekali untuknya. kadang pacarnya dibawa kerumah (kalau sedanh tidak sibuk) dan jika aku sedang tidak beruntung, aku harus mendengarkan omelannya, selama bertahun-tahun. ia membicarakan abangku, padahal dirinya sendiri tak jauh berbeda dengan abang, keras kepala. perang dinginku dengan Dhika tak akan pernah seekstrim itu.
"ibuk masak apa Ra?" tanya Dhika begitu selesai memarkirkan motornya di teras,
"gaktau, tapi makan-makannya dirumah sebelah," jawabku, menoleh ke pekarangan rumah disamping kami yang terang benderang dan sudah ramai dengan beberapa orang.
aku tak meninggalkan tatapanku darinya yang tiba-tiba menegang (dengan girang) melihat bahwa tingkat kerumunan kali ini meningkat dari terakhir kali ia kemari. "sumpah, mending kamu makan sendiri..." keluhku lemas, tak siap melihat apa yang akan Dhika hadapi.
"kok ngusir??" Dhika melotot,
aku meraih-raih lengannya, Dhika yang terus berjalan menuju rumah sebelah dengan semangat itu tak menghiraukanku dan beralih menggandeng tanganku. membuat duniaku berhenti sebentar sampai seluruh keluarga besar menengok kearah kami yang berdiri dengan canggung ketika kami sampai didepan pintu. aku melihat abang menahan tawa, bersebalahan dengan mas Hugo yang melotot kebingungan dan kaget melihat siapa yang datang bersamaku.
hampir tiga jam aku menjerit-jerit dalam hatiku sampai akhirnya acara syukurannya selesai. ngomong-ngomong ayahnya mas Hugo naik pangkat jadi Perwira Tinggi, jadi itu kenapa semua orang berada disini. sebetulnya ibuku dan bunda sudah berteman lama sekali dan entah apa yang membuat mereka memilih untuk tinggal berdekatan seperti ini. abang sudah saking akrabnya dengan mas Hugo sedang aku tak bisa untuk jadi satu dengan adik perempuanya, Eleonora. gadis cilik itu kadang-kadang bisa membuatmu emosi.
Dhika kesenangan saat mendapati perutnya kenyang. kemudian saat mengambil motornya, dia terus-terusan memuji gulai ayam yang enak. bisa-bisanya. dia juga bilang kalau dia suka ditanya-tanya, katanya itu berarti orang-orang akan membantu doanya.
"Dhik,"
"hm?"
"kok kamu yakin banget?"
"apanya?"
aku terdiam. tak tau harus melanjutkan kalimat yang kumulai sendiri. tak tau apakah aku bahkan boleh untuk mempertanyakan keraguanku sendiri.
"kamu mau mulai berantem lagi?" tanyanya, menyalakan mesin dan bersiap untuk melaju, "maaf tapi aku gak punya waktu. aku balik, ya."
