🍃🍃🍃
Bulan madu seperti apakah yang diinginkan sepasang pengantin baru?
Sedari dulu impian Anna hanya satu. Dia ingin pergi ke Bali. Harapan yang sangat sederhana bukan? Berkat dua tiket dari Karel, keinginan itu terwujudkan.
Anna ingin sebuah kecupan di pipinya, dan ucapan selamat pagi dari laki-laki yang dicintainya ketika dia membuka mata. Jalan-jalan di pantai bergandengan tangan penuh dengan canda dan tawa, kemudian duduk di atas hamparan pasir putih halus, menikmati sunset dengan pemandangan langit yang sangat indah sambil membicarakan masa depan panjang yang akan di jalaninya. Memikirkan berapa anak yang akan mereka miliki. Dan impian masa tua yang bahagia.
Itu hanya keingin Anna.
Tapi, tidak untuk laki-laki yang berada dihadapannya. Kavin tidak menunjukan keinginannya untuk berbulan madu. Raut di wajahnya tidak menunjukan kebahagiaan sedikitpun.
Anna menghela napas panjang, diletakannya sepasang alat makan di atas piring menimbulkan sedikit suara dentingan.
"Kenapa? Tidak enak makanannya?" Anna tertunduk menggelengkan kepala.
"Makanlah, wajahmu masih terlihat pucat"
"Maaf." Anna tidak berani mengangkat wajahnya. Dia masih merasa malu mengingat kejadian tiga jam yang lalu di dalam pesawat.
"Apa pergelangan tangan kamu masih merah?" Anna sangat merasa bersalah membuat tangan Kavin memar. Bukan keinginan dia melukainya. Ketika pesawat lepas landas, rasa takut itu selalu datang menghampirinya. Membuat Anna tidak sadar menggenggam sebelah tangan Kavin sangat erat.
"Tidak." Kavin memperhatikan pergelangan tangan kanannya. Sekarang dia tahu, ternyata istri kurusnya itu memiliki ketakutan dalam perjalanan udara.
*****
Cottage yang disewa Karel untuk mereka di Uluwatu terlihat besar dan mewah, terlalu besar hanya untuk di isi dua orang. Anna bahkan tidak berani mengira-ngira berapa harga sewanya. Tempat ini punya kolam renang sendiri di bagian samping yang berhadapan langsung dengan laut. Bagian terbaiknya adalah letak bangunan yang berada di atas tebing. Pemandangannya sangat menakjubkan. Birunya laut dan langit seperti menyatu. Sangat indah.
"Ini kamarnya." Suara Kavin mengalihkan perhatian Anna dari pemandangan pantai di luar jendela sana.
Laki-laki itu membawa kopernya dan koper milik Anna masuk ke dalam kamar, dan meletakkannya di depan lemari kayu berwarna cokelat.
Anna mengawasi dengan perasaan canggung sebelum menyusul masuk. Anna memainkan jari-jari tangannya dengan gelisah. Apakah dia harus menanyakan kepada Kavin, bolehkah dia melilih tidur terpisah. Dia takut Kavin merasa risih tidur bersamanya. Namun, Anna tidak berani untuk menanyakan itu, takut Kavin merasa tersinggung, dan takut membuat suasana akan semakin canggung. Anna menghela nafas, dibiarkan saja seperti ini, mereka sudah menikah dan sudah tidur satu ranjang pula. meskipun Kavin tidak terlihat tertarik kepadanya.
"Biar saya saja." Anna menghampiri Kavin yang sudah membuka koper miliknya dan mulai meletakan pakaian di dalam lemari.
"Tidak apa-apa." Kavin menghentikan kegiatannya, "kamu istirahat saja." Titahnya.
"Saya sudah tidak apa-apa," jelas Anna sambil meraih baju dalam genggaman tangan Kavin. "Lebih baik kamu saja istirahat. Sepertinya kamu sangat capek."
Mana bisa Anna diam beristirahat, sedangkan Kavin membereskan barang-barang mereka. Istri macam apa? Pikirnya.
"Baiklah, saya akan ke ruang tamu. Ada sedikit pekerjaan yang harus saya selesaikan."
Anna sudah selesai memasukan semua pakaian ke dalam lemari. Dia memutuskan untuk membersihkan diri, dan tubuhnya sudah meminta untuk di istirahatkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pure Love
Ficção GeralMenikah dengan seorang wanita yang sudah lama menghilang, lalu bertemua kembali bukan perkara gampang. ***** Lima tahun aku pergi menghilang dihari pernikahan sahabatku, tidak pernah terpikir akan bertemu dengan dia. Iyah dia Kavin Ardana Abiputra...
