12

293 49 13
                                        

P E R A S A A N     A N E H

Jangan lupa Vote dan komen guys❤

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan lupa Vote dan komen guys❤

💌💌💌

Suara kursi ditarik paksa berhasil mengalihkan perhatian seorang cowok yang sedari tadi diam menatap lurus, kemudian ia melirik kembarannya yang menekuk wajahnya sekilas.

Theo membuang muka ketika Freya menjatuhkan diri tepat di sampingnya dengan wajah sungut. "Yo serius lo gak ada teman cewek selain Utari?"

"Gak ada," jawab Theo datar.

Freya menopang dagu memperhatikan Kinal yang sibuk menyiapkan makanan. "Gue bosen sendirian terus."

"Pulang sana lo."

"Ini juga rumah gue!"

"Yaudah terima aja."

Gadis itu mendengus keras. Heran dari banyaknya manusia mengapa takdir malah memberinya kembaran yang menyebalkan seperti Theo. Tidak bisa kah ditukar saja?

"Ma, sebenarnya yang lebih tua itu Freya atau Theo sih?" tanya Freya saat Kinal sudah duduk di depan Theo.

"Thea adiknya abang," jawab Kinal yang sudah ada di hadapannya sambil menyiapkan makanan untuk Aryan.

"Tapi kata Oma, Frey yang lebih tua." Kinal tersenyum maklum. Orangtuanya memang selalu menganggap Freya yang lebih tua dibanding Theo, dan orangtuanya juga yang mengganti nama panggilan Thea menjadi Freya.

Keadaan kembali hening. Freya sedang merasa bosan sekarang. Setelah Aryan datang semua anggota keluarga terlihat sibuk menikmati makan siang, kecuali Freya yang menatap makanannya tidak berselera. Ia bertekad selama dirinya belum menemukan seorang teman Freya akan terus memaksa Theo untuk mencarikan seseorang. Sebenarnya minggu kemarin Theo mengenalkan Utari kepada Freya, tapi baru melihat saja Freya langsung tidak menyukai Utari, menurutnya Utari terlalu berisik.

"Ma di sini ada yang jual teman gak?"

Kinal terkekeh. "Ya gak ada lah sayang, kamu gimana sih?"

"Emangnya di Bandung ada yang jual teman, Dek? Kalau ada Papa mau jual Abang kamu." kali ini Aryan ikut bersuara.

"Kenapa dijual Pa?" tanya Freya melirik ke arah kembarannya yang tetap memasang wajah datar.

"Gak ada gunanya juga dia di sini." Theo berdecak. Padahal dirinya sedari tadi hanya diam mendengarkan tapi selalu saja dirinya dibawa-bawa setiap percakapan.

"Gak laku juga dia mah Pa," jawab Freya dengan tawa lebar, kalau masalah bully-membully Theo Freya paling jago.

Tak lama setelah menghabiskan makanannya ponsel Theo berdering. Cowok itu melihat display yang tertera di layar ponsel, dengan malas Theo menggeser tombol hijau kemudian meletakkan ponselnya di telinga.

"Hm."

"Kak Theo Uta laper," adu gadis itu dengan suara cempreng khas miliknya.

"Terus gue harus apa?"

"KAK THEO GIMANA SIH? GAK PEKA BANGET JADI ORANG! KAK THEO KAN UDAH JANJI MAU JADI KAKAK UTA, POKOKNYA UTA GAK MAU TAU DALAM WAKTU LIMA MENIT KAK THEO HARUS DATENG KE RUMAH PANO BAWA MAKANAN. TITIK!"

Theo secara otomatis menjauhkan ponselnya dari telinga saat suara cempreng itu bertambah nyaring beberapa oktaf. Setelah panggilan terputus Theo langsung pergi membeli makanan untuk tuan putri bernama Karmelia Utari.

Setelah mendapatkan apa yang ia cari Theo kembali melajukan mobilnya menuju rumah Devano. Padahal hari itu, saat perjanjian antara dirinya dan Devano untuk menunjukkan keberadaan gadisnya, Utari memaksa Theo untuk menjadi kakaknya, setelah Arsen bergabung Utari mengatakan bahwa jasanya sebagai kakak tidak akan berguna karena ada Arsen yang akan menjaga gadis itu. Tapi selama ini dirinya lah yang selalu direpotkan.

Seusai bercengkrama dengan Kinal perihal kedatangannya, tanpa basa-basi Theo masuk mencari keberadaan Utari namun tidak lama Devano keluar dari dalam kamar dan mengatakan kepada Theo untuk diletakkan saja.

"DEV NIH GUE TARUH MAKANANNYA DI MEJA," pekik Theo meletakkan kantung plastik putih berisi makanan di atas meja yang ada di ruang tamu.

"Kamu ngapain di sini?"

Theo tersentak mendengar suara yang tidak asing. Ia berbalik. Menatap orang itu heran. "Lo yang ngapain di sini?"

"Aku hari ini ngajar les privat Utari."

"Utari mana?" tanya Theo kemudian mengikuti arah tunjuk Gebby. Theo menaikkan sebelah alisnya. Dirinya susah-susah mencari makanan dan Utari malah asyik merendam kakinya di air kolam.

Gebby mengikuti langkah Theo menghampiri Utari. "Nih." Disodorkannya makanan itu kepada Utari.

Utari menoleh matanya berbinar melihat kantung makanan yang ada di tangan Theo. "Makasih Kak Theo."

"Kak Ge katanya mau pulang kan?"
Gebby mengangguk sebagai jawaban.

Utari memasang senyum jahil. "Kalau gitu Kak Gebby pulang sama Kak Theo aja." Gadis itu menatap Theo memohon. "Ya kan Kak? Kasian Kak Gebby kalau harus ngeluarin duit terus buat ongkos."

Theo menghela nafas kasar kemudian ia mengangguk mengiyakan, dipikir-pikir tidak masalah jika sesekali dirinya mengantar Gebby pulang.

Selama perjalanan keduanya terdiam. Theo dengan raut wajah datarnya dan Gebby yang bingung harus memulai percakapan dari mana terus melirik Theo yang sedang fokus menyetir. Sesaat Gebby terpesona kembali menatap wajah Theo dari samping, Theo tetap sama seperti yang dulu, dingin namun dibalik semua itu Theo sangat baik. Kalau cowok itu tidak baik tidak mungkin Theo mau mengantarkan dirinya pulang.

Gebby mengerjab. Tanpa disadari dirinya kembali membuka hati, menggalinya lebih dalam lagi. Gadis itu menetralkan degup jantungnya, Theo tidak akan suka jika Gebby sampai menunjukkan bahwa ia masih menyukai Theo.

"Udah harus pulang?"

Spontan Gebby menoleh, memperhatikan raut wajah Theo yang semakin melunak. "Gak sih, aku udah selesai."

"Ikut gue mau?"

"Kemana?"

Theo berdehem sejenak sebelum mengatakan tujuannya, baru pertama kali ia memperlakukan Gebby selembut ini. "Ke rumah gue."

💌💌💌
TBC.

Jangan Datang Lagi, Cinta! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang