H A R A P A N
Kita itu seperti dua ekor angsa yang
terlihat sempurna ketika bersama
–Gebby Aulia–
💌💌💌
Gebby mengernyit. Matanya menyipit memperhatikan seseorang yang tengah duduk di atas motor lengkap dengan seragam putih abu-abu tepat di depan rumahnya. "Kamu ngapain di sini?"
"Utari nyuruh gue jemput lo," jawab Theo datar.
Gebby mengangguk mengerti. Theo memang tidak pernah mengabaikan segala permintaan Utari, cowok itu pasti akan mengabulkan kemauan Utari selagi ia bisa.
"Cepetan naik. Gue gak mau telat gara-gara lo!"
Gebby tercengang melihat perubahan dalam diri Theo, ia tidak mengerti mengapa setelah kemarin Theo berubah dengan begitu cepat. Dengan senyum yang dipaksakan Gebby menaiki motor Theo.
Dalam perjalanan menuju sekolah keduanya terdiam. Seperti biasa, Theo fokus mengendarai motornya dan Gebby sibuk memperhatikan jalanan yang ramai kendaraan. Jika cowok itu sudah seperti ini Gebby bertekad tidak akan berbicara sebelum Theo yang memulai pembicaraan.
💌💌💌
Bel istirahat telah berbunyi, namun sampai sekarang siswa-siswi masih berebut menggali informasi perihal kejadian tadi pagi. Kedatangan Theo bersama Gebby membuat gempar satu sekolahan, pasalnya baru kali ini mereka melihat Theo membonceng seorang cewek bahkan Utari pun tidak diperbolehkan menyentuh motor kesayangan Theo.
"Terus, terus, kok bisa Theo jemput lo?" tanya Niki, salah satu orang yang masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat tadi pagi.
"Gak tau deh, katanya sih disuruh Utari," jawab Gebby jujur.
Niki tersenyum cerah. "Artinya mulai besok gue harus minta Utari suruh Theo jemput gue."
"Yaudah, aku pergi dulu ya," pamitnya dengan kekehan melihat wajah Niki yang merekah.
Gebby melangkah menghampiri Chika yang memasang wajah tidak bersahabat dengan kedua tangan yang terlipat di dada. "Udah, jangan ngambek terus."
"Gue kesel banget! Bisa gak sih kita ke kantin dengan aman dan damai? Dari tadi orang-orang ngeliatnya udah kayak mau nelen kita hidup-hidup," gerutu Chika sembari membalas pelototan orang-orang yang menatap mereka berdua.
Berbanding terbalik dengan Chika, Gebby tersenyum lembut sebagai respon. Bagi Gebby mereka tidak harus dibalas dengan kasar seperti itu. Tidak ada yang salah, mereka hanya tidak tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya.
Sesampainya di kantin Gebby dan Chika akhirnya memilih tempat kosong yang ada di pojok kantin, tepat di sebelah meja kekuasaan Theo. Andai saja tadi perjalanan mereka tidak harus terpotong karena siswa-siswi yang berebut bertanya pasti mereka akan mendapatkan meja lain.
Gadis itu terdiam menunggu Chika yang sedang memesankan makanan, berkali-kali gadis itu melirik meja yang terlihat kosong lalu beralih melirik koridor. Ia menghela napas. Benar kata orang, mencintai hanya butuh satu detik dan butuh bertahun-tahun untuk melupakan.
Apalagi setelah perlakuan Theo kemarin, membawa dan mengenalkan dirinya kepada keluarga cowok itu, berkata manis dan tertawa lepas bersamanya.
Jika katanya cinta saat SMA adalah cinta sesaat, lalu bagaimana dengan orangtuanya yang memutuskan untuk menikah setelah bertahun-tahun berpacaran dari masa SMA?
KAMU SEDANG MEMBACA
Jangan Datang Lagi, Cinta!
Roman pour AdolescentsFOLLOW SEBELUM MEMBACA Theo Dirgantara. Kehilangan cinta pertamanya, perempuan yang dulu memberinya sebuah diary dan menghilang begitu saja membuat Theo menjadi cowok dingin, ketus, dan pemarah. Theo mengabaikan semua cewek yang mencoba mendekatiny...
