R E N J A N A
P A L I N G
I N D A H
💌💌💌
"Gebby."
Seseorang memasuki kelas Gebby yang sudah sepi sejak sepuluh menit yang lalu. Gebby sedang melaksanakan piket kelas bersama Chika dan kedua teman lainnya tersentak dengan kedatangan Theo tiba-tiba. Saling pandang satu sama lain sebelum ia menghampiri cowok itu.
"Kenapa Yo? Tumben ke kelas aku?" cecar Gebby.
Theo menyandarkan punggungnya di dinding sembari bersedekap dada. "Lo pulang bareng gue."
"Harus banget ya?" Gebby melirik Chika sudah memasang wajah sungut, sebelumnya mereka berdua sepakat bahwa hari ini Gebby akan ikut jalan-jalan bersama Chika dan Tama.
"Harus. Sekalian ada yang mau gue omongin."
"Yaudah deh, tunggu ya aku mau lanjut sapu kelas dulu abis itu baru kita pulang," jelasnya. Theo mengangguk kemudian melangkah keluar kelas X IPA 2 menuju lapangan.
Baru saja Chika ingin melayangkan protes harus menelan semua kata-katanya setelah Gebby menjelaskan bahwa ini adalah kesempatan yang tidak akan datang dua kali. Gadis itu setuju, selama bertahun-tahun baru kali ini Theo sukarela menginjakkan kaki ke kelas ini.
Setelah menyelesaikan tugas membersihkan kelasnya Gebby langsung bergegas menghampiri Theo yang sedang bermain basket. Peluh di kening membasahi rambut cowok jangkung itu membuat fokus Gebby terbelah, lagi-lagi gadis itu terpana disetiap pergerakan cowok yang sudah mencuri perhatiannya selama bertahun-tahun.
"Udah selesai?" tanya Theo sembari mendribble bola basket kemudian men-shoot basket itu ke dalam ring.
Gebby mengangguk. Sekali lagi Theo melakukan teknik mendribble setelahnya dilemparkannya bola basket itu sembarang arah.
"Tanyain aja," ujar Theo. Ia sangat paham banyak sekali pertanyaan di benak gadis itu sekarang.
Gebby nampak sedikit ragu dengan pertanyaannya namun gadis itu tetap membuka suara. "Kenapa kamu bohong?"
"Gue gak pernah bohong," jawab Theo enteng.
"Soal kamu bilang disuruh Utari," tuturnya melihat wajah Theo yang sangat datar membuatnya kesal.
"Lo suka musik?" Theo mencoba mengalihkan pembicaraan dengan Gebby.
"Suka," jawabnya cepat mengangguk-anggukan kepala seperti anak kecil.
"Lo suka kuning?"
"Suka." Masih mengangguk-anggukan kepala.
"Lo suka gue?"
"Suka."
Gebby tersentak. Theo tersenyum. "Kenapa suka gue?"
Gadis itu mendongak, menggigit bibir dalamnya membuat siapapun akan gemas melihatnya. "Kamu beda, mungkin."
Satu tangan Theo terulur mengacak rambut Gebby pelan. "Lo masih gak yakin."
"Kenapa?" lanjut Theo bertanya.
Gebby mengangkat kepalanya menatap manik mata hitam pekat itu dalam. "Kamu adalah angan yang gak akan bisa aku gapai."
Satu alis Theo terangkat memutar otaknya memikirkan maksud perkataan gadis di hadapannya.
Tidak ada jawaban.
Gebby kembali menunduk merasa malu melihat respon Theo. Seharusnya ia tidak berkata demikian, seharusnya tadi dirinya bisa menahan rangkuman dari semua kalimat yang mengganjal di hatinya. Setelah berpamitan Gebby melangkah meninggalkan Theo yang masih tidak menjawab perkataannya.
Namun sebelum pergi lebih jauh langkah gadis itu terhenti kala suara seseorang yang sedari tadi diam membuat dirinya pun ikut bungkam dalam debaran. "Kata siapa lo gak bisa gapai angan itu?"
Theo berjalan santai menghampiri Gebby. "Lo bisa Ge. Lo bisa. Lo punya segala sesuatu dalam diri lo yang gak dimiliki orang lain. Lo sempurna dalam kelembutan, lo satu-satunya cewek yang bisa membuat Adik gue bahagia.
"Lari, kejar, dan gapai. Akan gue buka selebar-lebarnya."
Bibir tipisnya melengkung sempurna tanpa berbalik Gebby tahu Theo juga tersenyum di belakangnya.
"ASEKKKK, TEMBAK DONG. BASA-BASI DOANG MAH GAK LAKU." Gebby menutup muka kala mendengar Chika bersorak Sorai sembari bersiul.
💌💌💌
Theo menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Seperti biasa, jika merasa ada sesuatu dalam dirinya Theo akan menatap langit-langit kamar. Tanpa ia sadari sebuah senyuman melengkung sempurna tatkala terbesit ingatan tentang seseorang.
Bibir yang terlihat manis ketika tersenyum, netra cokelat terang indah sempurna ketika memandang, tutur lembut yang mampu membuat orang tersenyum gemas.
Ntah sejak kapan ia merasakan ini, perasaan tidak biasa yang semakin menjerit ketika bersama gadis berkulit putih pucat itu. Ntah apa namanya ini, setelah gadis itu selesai membersihkan lukanya tempo hari ada rasa tak rela ketika gadis itu pergi. Ingin sekali ia menghentikan Gebby, meminjam bahu dan menceritakan semua masalahnya. Namun Theo terlalu gengsi untuk mengungkapkan keinginannya.
Dan sekarang semuanya telah tercapai, lembaran-lembaran baru akan tertulis indah tentangnya bersama Gebby.
"THEOOOO, MAIN YUK."
Theo berdecak ketika suara yang sangat mengganggunya akhir-akhir ini kembali terdengar. Ia memejamkan matanya, tidak mempedulikan Freya yang sedari tadi mengetuk pintu kamar.
"THEOOOO! GUE MAU MASUK!"
"Masuk aja."
Di balik pintu Freya cekikikan geli mendengar suara kesal itu, salah satu kebiasaan yang ia jadikan hobi. Gadis itu memutar tak sabaran handle pintu. "Yo, anterin gue yuk."
"Kemana?" tanya Theo masih memejamkan matanya, sebelah tangannya ia buat penyangga kepala.
"Ke rumah Gebby," pintanya dengan wajah memelas.
Sontak Theo membuka matanya. "Lo ngerti kata udah malam?"
"Bentar doang, Yo." Freya memajukan bibirnya beberapa senti, masih membujuk kembarannya.
"Gak!"
"Ayo dong."
"Gak!"
"Dasar Bau! Jelek! Burik! Pelit! Idup pula!" kesalnya mengambil bantal kemudian melemparkan bantal itu ke wajah Theo bertubi-tubi.
💌💌💌
Kembali lagi, mwehehe.
Pokoknya dibaca gak dibaca update trosss sampe mamposss wkwk.
Jangan lupa vote dan komen beb❤ sesungguhnya komen kalian penyemangat menulisku :v
KAMU SEDANG MEMBACA
Jangan Datang Lagi, Cinta!
Roman pour AdolescentsFOLLOW SEBELUM MEMBACA Theo Dirgantara. Kehilangan cinta pertamanya, perempuan yang dulu memberinya sebuah diary dan menghilang begitu saja membuat Theo menjadi cowok dingin, ketus, dan pemarah. Theo mengabaikan semua cewek yang mencoba mendekatiny...
