17

255 29 11
                                        

M Y    L I T T L E

S I S T E R

💌💌💌

Theo membuka pintu kamarnya. Berjalan pelan beberapa langkah kemudian mengintip kegiatan orang tua bersama kembarannya. Sebelumnya ia tidak sengaja mendengar suara Kinal menjerit, seperti syok, ntah karena apa, itu sebabnya si pemuda ingin tahu apa yang sedang terjadi.

Dari lantai atas ia bisa melihat Kinal menghela napas berat, sementara Aryan menepuk pundak sang istri bersamaan dengan diamnya Freya. Cowok itu tersenyum kelu. Ia bisa menebak apa dibalik perbincangan antara keluarganya.

Kembali masuk kamar, berbaring di atas kasur dengan seragam yang belum terlepas sama sekali dari tubuhnya. Sejak tadi ketika baru sampai di halaman depan perasaan tidak enak menguasai diri, ditambah dengan keluarganya yang tiba-tiba bungkam kala melihat dirinya sudah pulang.

Tetap berjaga. Bila perlu semalaman. Ada sesuatu yang akan ia lakukan—harus—sebelum semuanya terjadi, lagi.

Ponselnya bergetar. Cowok itu langsung membuka pesan yang baru saja masuk.

Yoan Andrea.
Gue punya rencana.


Theo Dgntr.
Besok aja. Gue lagi pusing
ngurusin anak babi.

Setelah membalas pesan dari Yoan ia kembali terdiam. Detik demi detik, menit berganti jam, berputar tanpa henti. Theo tetap terjaga hingga tepat pukul dua belas malam.

Sudah saatnya. Ia tidak mau kembali kehilangan. Dan... Sepi?

"Mau ke mana?"

Freya tersentak. Tangan yang semula sibuk memasukkan baju ke dalam koper kini terhenti. Berganti dengan hatinya yang sekarang bergejolak, menjerit, memaki. Bodoh!

Gadis itu menyerongkan badan guna menyetor wajah kepada kembarannya—tidak berani menatap. Theo bersedekap dada menatap wajah gadis itu intens.

"Udah waktunya gue pulang," jawabnya dengan suara pelan namun terdapat nada tidak ingin dipermasalahkan.

Theo mengembuskan napas gusar. "Kenapa harus tengah malam? Segitu susahnya ngucap salam perpisahan sama kembaran sendiri?" Maju selangkah memutar posisi badan Adiknya menjadi menghadap dirinya. Mencengkeram pundak itu keras. "Lo mau pergi? Pergi aja. Kalau bisa gak usah datang lagi."

"Ini rumah gue," lanjutnya penuh intimidasi. Menegaskan bahwa Freya tidak seharusnya berada di sini.

"Lo gak akan ngerti perasaan gue Yo."

"Apa yang gak gue mengerti?"

Freya terdiam. Benar. Selama ini tanpa kentara Theo selalu mencoba mengerti dirinya, permintaan-permintaan kecil selalu dituruti. Dirinya lah sebenarnya yang tidak mengerti apa kemauan Theo.

"Kenapa diam?" lanjutnya.

Cowok itu menutup mata. Kebungkaman kembarannya ini yang membuat dirinya merasa tidak becus menjadi seorang Kakak. Siapa yang patut disalahkan?

Takdir yang telah memisahkan mereka atau keluarganya yang memicu perpisahan antara kedua anak yang tak selayaknya harus berpisah?

Jangan Datang Lagi, Cinta! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang