Chapter 23💛

1.3K 71 0
                                        

Dering dan getaran ponsel mengganggu tidur nyenyak Katya, dengan mata malas Katya meraih ponsel di nakas tanpa melihat Katya menggeser tombol telepon berwarna hijau.

"Lo dimana?" Suara dari seberang sana bertanya, Katya mengernyitkan dahinya lalu melihat siapa yang menelponnya pagi-pagi begini.

"Cepet siap-siap ya gue jemput, kita ke kampus bareng" panggilan langsung terputus begitu saja.

Katya yang masih lelungu karena baru bangun tidur pun melihat jam yang menunjukan pukul 07:30, sontak ia langsung berteriak.

"Aaaaaa Katya bangun kesiangan omaaa" ia berlari ke kamar mandi tanpa menyingkirkan selimutnya, membuat kakinya tersandung lalu tersungkur di lantai.

"Awww" ringisnya, tangan kanannya memegang dahinya yang terbentur lantai, sementara tangan kirinya mengelus-elus lututnya yang terkilir.

"Katya kenapa?" Ujar Arini yang baru saja muncul dari balik pintu.

"Omaaa! Kenapa gak bangunin Katya" rengeknya sambil terus mengelus dahinya yang sedikit lebam.

"Inikan hari minggu, biasanya kamu kalo hari minggu gak mau oma bangunin"

"Ha?" Katya bertanya linglung, lalu kenapa Adrian tadi menelpin ingin menjemputnya?.

"Udah sana cepetan mandi, dibawah ada temen kamu" ujar Arini.

"Siapa?"

"Yang biasa jemput kamu ke kampus"

"Ngapain?" Katya mengernyitkan dahinya, katanya ini hari minggu, kenapa Adrian ada disini? Jangan-jangan Adrian sama seperti Katya, mengira kalau hari ini ngampus? Ah gak mungkin, Katya baru bangun tidur jadi pikirannya ngelantur kemana-mana.

"Mana oma tau, udah cepetan mandi sana! Udah oma buatin sarapan, oma mau pergi keluar" Arini itu kalo sudah bicara cerewet sekali mirip dengan mamahnya.

"Iya iya! Emang oma mau kemana?"

"Kepohh!" Arini tertawa lalu pergi meninggalkan Katya yang masih duduk dilantai, oma nya itu sekarang sudah mulai lancar bicara bahasa indonesia karena Katya yang selalu berbicara menggunakan bahasa indonesia, dan apa tadi, Kepo?! Ah oma nya itu jadi tau bahas gaul di Indonesia.

***

Turun dari kamar, Katya melihat Adrian yang sedang menonton televisi sendirian dengan minuman dan camilan yang sudah tersedia di meja.

"Ngapain? Ini kan hari minggu" ujar Katya yang masih menuruni anak tangga, Adrian pun menoleh saat nendengar Katya berbicara.

"Kenapa emang kalo hari minggu?" Jawab Adrian dengan wajah yang selalu santai, ralat lebih ke pertannyaan sih sebenarnya bukan jawaban, emang dasar orang indonesia itu kalo ditanya malah balik nanya.

"Ya gapapa sih" ujar Katya yang sudah hendak duduk sofa.

"Gue mau ngajak lo keluar"

"Kemana?"

"Rahasiaaaa"

"Kalo gitu gue gamau"

"Tapi gue gak nerima penolakan!"

"Kenapa?"

"Kebanyakan nanya lo, cepetan nanti juga bakalan tau, lo pasti suka sama tempatnya, gue tunggu dimobil" final Adrian, setelahnya ia beranjak keluar rumah Katya, ralat rumah Arini.

"Dasar cowo nyebelin!" Geram Katya.

***

"Sebenernya lo mau bawa gue kemana si" tanya Katya sebal, pasalnya sudah hampir satu jam belum sampai juga.

"Jangan-jangan lo mau nyulik gue ya?!" Tuduh Katya "Ckkk!" Katya berdecak sebal karena Adrian tidak menjawab pertaanyannya.

'Adrian ini kadang-kadang banyak bicara tapi kadang juga ga bicara sama sekali menyebalkan' batin Katya sebal.

"Udah sampe?" Tanya Katya saat Adrian memarkirkan mobilnya di tepi jalan.

"Belum" jawab Adrian singkat

"Terus kenapa berhenti?"

"Lo itu kebanyakan nanya ya!, seharusnya lo gak ngambil fakultas kedokteran, lo lebih cocok di fakultas komunikasi" tutur Adrian

Katya mendengus sebal "ganyambung!" sarkas Katya, Adrian itu selalu saja menjawab pertanyaan Katya asal-asalan.

Adrian mengangkat kedua bahunya acuh, "cepetan turun" titahnya.

"Sebenernya lo mau ngajak gue kemana si!"

"Udah ikut aja, tapi sebelumnya gue mau lo tutup mata" Adrian mengeluarkan kain kecil penutup mata.

"Kenapa harus ditutup segala sih, jangan-jangan lo beneran mau nyulik gue ya!" Adrian tak mendengarkan, ia mengikat kain itu menutup mata Katya.

"Sini gue gandeng".

***

"Sekarang lo boleh buka mata" ujar Adrian, setelah kurang lebih 10 menit berjalan.

Katya  speechles melihat pemandangan dihadapannya, hamparan air berwarna biru dengan rumah kecil berwarna biru.

Bluehouse, rumah kecil yang berada diujung jembatan ditengah-tengah hamparan air laut, tempat yang sejak kecil ingin ia kunjungi bersama Zain, namun bukan Zain yang mengajaknya kesini melainkan seseorang lain.

"Gimana? Lo suka gak?"

"Katya?" Adrian tak mendapatkan jawaban dari Katya, ia pun menoleh melihat mata Katya berkaca-kaca menahan air matanya yang ingin jatuh.

"Lo kenapa?" Tanya Adrian membuyarkan lamunan Katya

"Hah,,, gue gapapa ko" Katya menepis air matanya  yang ingin jatuh menggunakan tangannya.

"Lo gak suka tempatnya ya, kalo gitu kita ke lain tempat aja"

"Hah,,,eng...engga kok gue suka sama tempatnya udah kita disini aja" Katya menahan lengan Adrian yang ingin beranjak pulang.

Lagipula sayang sekali jika mereka harus pulang, jarang sekali bluehouse sepi seperti ini, biasanya tempat ini ramai dikunjungi para turis dari mancanegara hanya untuk berpose di depan bluehouse ini, banyak juga yang menjadikan tempat ini untuk poto preweding, tapi hari ini sepi pengunjung aneh sekali bukan.

Tidak ada yang aneh untuk Adrian, ia merencanakan ini dari satu minggu yang lalu, menyewa tempat ini selama 3 jam meminta pada penjaga untuk mengosongkan tempat ini, walaupun sulit ia akhirnya bisa menyewanya. Tapi kenapa Adrian mau melakukan itu?

Katya melepaskan tangan Adrian lalu duduk di jembatan kayu memandang birunya laut dan indahnya pemandangan, "Gue suka tempatnya!.. Dari kecil gue pengen banget pergi kesini"

Adrian mengikuti Katya duduk disampingnya ikut menatap birunya laut yang berpadu dengan birunya langit "rumah nenek lo kan disini, lo ko ga pernah kesini?"

"Waktu kecil, gue pengen kesini bareng  seseorang yang gue sayang, tapi dia udah bahagia sama orang yang dia sayang" Katya tertawa sumbang, sedikit teriris ketika mengingat sosok yang ia sayangi.

"Sekarang gue yang bawa lo kesini, berarti lo sayang sama gue?" Canda Adrian yang mendapat delikan dari Katya.

Adrian menatap Katya serius "Lo mau jadi pacar gue kan?!" Tanyanya membuat Katya menatapnya jenaka lalu tertawa garing "bercanda lo"

"Gue serius!" ujar Adrian tanpa ekspresi membuat Katya terbungkam

Katya tidak mungkin menerima Adrian sementara hatinya masih untuk sahabatnya yang sudah memiliki kekasih, tapi apa salahnya kan mencoba? Toh ia juga butuh seseorang buat bantu melupakan sahabatnya, bukan melupakan persahabatannya namun melupakan dalam artian menghilangkan perasaan hatinya pada sang sahabat. Soal cinta atau tidak pada Adrian itu urusan nanti, lagipula perasaan itu bisa tumbuh dengan seiring berjalannya waktu kan?.

Hening!

"Dua hari, kasih waktu dua hari buat jawab pertanyaan lo" putusnya.

"Oke!" Jawab Adrian tenang dengan senyum manisnya, membuat siapapun yang melihatnya akan meleleh.






Friendzone [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang