07 ; Meet With Mawar

91 18 12
                                    

Give me a star ☆

Minho masih termenung dalam lamunannya, ia mengabaikan Felix yang dari tadi berceloteh ria padanya.

Ia masih memikirkan kejadian tadi, ketika ia dengan jelas mendengar suara Seungmin.

'apa iya itu Seungmin?' Minho membatin.

Ia menimbang-nimbang jika memang benar itu adalah Seungmin, apakah Seungmin sudah... meninggal?

Tapi tidak mungkin, ia masih merasakan kok aura kehidupan Seungmin.

Minho mendadak khawatir sendiri, berbagai macam hal berkecamuk dalam pikirannya.

Ia memikirkan bagaimana nasib teman-temannya yang lain? Apakah mereka selamat?

Atau sebaliknya?

Minho juga sangat kepikiran tentang siapa orang yang mendorongnya.

Selama ini ia tidak pernah membahas lebih jauh perihal kejadian itu pada Felix, entah mengapa ia menangkap aura ketakutan dan kekhawatiran yang mendalam pada diri Felix.

Dan juga entahlah, Minho sangat berkeinginan besar untuk tidak membuat pria itu khawatir.

Makanya ia sama sekali tak pernah membahas hal itu.

Tanpa sadar, Minho menautkan alisnya begitu dalam.

Felix yang merasa diabaikan pun mendengus sebal.

"Heh! Dengerin gue gak sih lo?" Felix mengintrupsi dengan suara agak meninggi.

Minho tersadar akan lamunannya, ia kemudian menatap Felix cengo.

"Y-ya? Gimana, Lix?" tanya Minho kikuk.

"Au ah! Males."

Minho terkekeh pelan, kemudian ia mengusak surai basah milik Felix.

Bagaimanapun juga, Felix lebih muda dua tahun darinya, dan semenjak tersesat berdua ia mulai memperlakukan Felix seperti adiknya sendiri.

Meskipun Felix dengan tidak sopannya selalu memanggil Minho tanpa embel-embel 'kakak' atau semacamnya.

Tapi Minho tidak apa, dia adalah sosok yang penyayang.

Felix menatap Minho tajam, ia merasa diperlakukan seperti anak kecil.

"Hish! Apaansih tangan lu!" ketus Felix.

"Gak papa, gue cuma keinget adek gue," balas Minho.

"Jisu?" tanya Felix.

Minho mengangguk, ah dia jadi rindu pada Jisu, mengingat gadis cerewet itu seusia dengan Felix.

Bahkan mereka sekolah di bangku SMA yang sama.

Minho kembali asyik melamun, dan tidak menyadari perubahan air muka Felix.

***

Hari sudah makin sore, Minho mengecek jam di pergelangan tanganya.

Waktu menunjukan pukul tiga sore, ia bingung akan apa yang harus ia lakukan.

Sampai kapan dirinya akan terjebak di hutan ini? Tidaklah mungkin baginya untuk memaksa mencari jalan, yang ia takutkan bukannya menjumpai jalan keluar, tapi ia takut sebaliknya.

Dan entah mengapa firasatnya mengatakan bahwa ia harus tetap berdiam diri disana untuk sementara waktu.

Felix sendiri sudah berganti pakaian, setelah beberapa saat ia menikmati dinginnya air terjun, telapak tangan dan kakinya sudah tampak mengkeriput.

Anak Nyasar || StrayKids [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang