Selamat Membaca
****
18:30
Hari ini Riza pulang terlambat, karena ia harus melaksanakan rapat OSIS untuk mengkoordinasikan tugas yang diberikan pak Juan. Ia rapat bersama pak Hendra tetapi tidak ditemani Vian. Sebenarnya ia bertanya-tanya kemana Vian sampai tidak bisa mendampingi rapat padahal ia adalah pembimbing acara.
Tapi Riza tak mau ambil pusing dengan pikirannya itu.
"Assalamualaikum" Riza
"Wa'alaikumsalam, pulang sore lagi??" Mamah
"Iya mah abis rapat osis tadi" Riza
"Yaudah mandi sana abis itu shalat maghrib terus makan ya" Mamah
"Iyaa maah"
Riza memasuki kamar nya setelah berganti baju ia ingin rebahan sebentar sembari mengecek ponselnya.
Biasanya saat seperti ini ia selalu menyetel lagu galau di i-pad nya dan menatap dinding kamar yang berisi banyak foto kenangan sambil memikirkan apa yang di rasakan hatinya. Ia sudah sangat lama melakukan kebiasaan itu mungkin bisa dibilang tembok kamar nya adalah saksi bisu tentang cerita percintaan Riza dari masa SMP sampai ia duduk di kelas 11 SMK saat ini.
Jika tembok itu bisa bicara mungkin dia sudah geram dan bosan dengan cerita cinta Riza yang selalu sama. Kegagalan dan rasa sakit.
"Kalo misalnya gua sama ka Vian gagal lagi dan berujung sakit hati.."
"Mungkin gw ga akan biarin lagi hati gw buat dengan mudahnya membuka lagi"
"Kalo misalnya percintaan gw gagal lagi..."
"Mungkin gw akan mencoba menutup hati gua dan ga akan pernah membukanya lagi."
Riza bicara dengan hatinya sendiri.
"Tapi kita liat aja kedepannya gimana"
"Gw harap akan baik-baik aja"
"Gw suka sama dya dan gw siap menerima konsekuensinya."
Riza tersenyum tipis, ia tau semua pasti ada konsekuensinya. Jatuh cinta adalah patah hati yang tertunda. Ia tidak pernah tau kapan akan merasa sakit hati, tetapi riza mencoba memberi kesempatan kepada hatinya untuk mencoba cinta baru lagi. Vian orang yang baik, panutan yang baik. Riza tau betul kalau ia harus bisa menerima konsekuensinya, apapun itu termasuk sakit hati. Untuk kesekian kalinya.
Centong!!!
Vian Pratama: "Riza maaf ya tadi saya ga bisa hadir rapat OSIS, gimana buat laporannya?"
Riza membulatkan matanya, kaget dengan notifikasi ponsel nya yang ternyata ada pesan dari Vian. Sebisa mungkin ia mengatur degup jantungnya dan bersikap biasa saja.
Riza Lidyana: "gpp kak, tadi saya udah koordinasi ke sekretaris. Untuk laporan itu jangka waktunya berapa lama ya kak setelah acara?"
Vian Pratama: "paling lama 2 minggu, tapi secepatnya lebih baik"
Riza Lidyana: "hmm begitu ya, berati saya harus kerja lembur lagi :')"
Vian Pratama: "Semangaaatt yaaa!!!"
Riza seolah terbang di atas awan, rasanya ingin teriak untuk mewakili perasaan bahagianya. Terlihat berlebihan memang, tetapi bukankah rasa bahagia seseorang itu berbeda beda? Apalagi mendapatkan semangat dari orang yang kita cinta, sangat membahagiakan bukan? Ini adalah hal yang wajar untuk orang yang sedang jatuh cinta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembar Sinopsis
No FicciónRiza Lidyana gadis yang tidak pernah menemukan seseorang yang bisa benar-benar mencintai dirinya, ketika ia sudah hampir tidak percaya dengan adanya cinta. Takdir mempertemukan dirinya dengan Vian Fernand Pratama sosok laki-laki panutan yang baik. S...
