Selamat Membaca
****
"Jadi gini kak, sebenarnya yang soal kemaren di grub OSIS itu...."
Riza menghembuskan nafasnya dengan berat. Menatap ke arah depan menikmati angin yang sejuk.
"Kenapa yang di Grub OSIS semalem??" Vian
"Yang dikirim Sharen semalam di Grub OSIS menurut ka Vian gimana??" Riza
"Ohh yang itu hahaha" Vian hanya tertawa sambil menatap ke arah depan
"anak-anak pada ngeledekin ya" Riza
"Iya begitudeh seperti yg kamu liat" Vian
"Tapi menurut kaka gimana?" Riza
"Emm biasa aja, Hahaha sudah biarkan saja" Vian
"Hmm gimana ya saya harus bilang nya" Riza
"Bilang apa?" Vian
"Oke! Ka Vian udah tau kalo saya suka sama kaka" Riza
"Terserah kaka sih mau nilai saya gimana, tapi saya cuma mau menyampaikan aja biar saya sendiri bisa lega" Riza
"Jujur. Sejak beberapa hari sebelum Event Show saya mulai merasa ada yang aneh pada hati saya. Saya mulai tertarik sama ka Vian" Riza
Riza hanya terdiam dan masih menatap kedepan. Ia tak mampu untuk menatap Vian. Samasekali tidak mampu. Hati dan mata nya tidak kuat.
"Apa yang bisa kamu lihat dari saya?" Vian
"Aneh-aneh saja" Vian
"Ya menurut saya setiap orang punya penilaian tersendiri kan kak. Dan kita ga pernah tau kan kalau sikap baik kita bisa saja bikin orang lain terpukau" Riza
"Tanpa kita sadari" Riza
Entah keberanian dari mana riza dapatkan. Tetapi ia hanya masih menatap kedepan. Suasana cukup hening saat ini.
"Tapi saya tidak merasa begitu..." Vian
Riza menoleh ke arah Vian. Melihat jawaban Vian batin riza seperti memiliki firasat kalau jawaban yang akan ia terima pasti tidak seperti harapannya.
"Saya tidak berharap untuk disukai, karena saya sendiri tidak punya bakat untuk di sukai seseorang" tambah Vian
"Saya juga tidak berharap untuk mendapatkan balasan dari rasa suka saya. Karena saya tau kekurangan saya dan perbedaan kita" riza
"Tapi saya cuma mau menyampaikan apa yang seharusnya saya sampaikan" tambah riza
"Perbedaan apa lagi??" Tanya Vian sambil tertawa
"Menurut kaka?" Riza
"Mungkin seperti seorang murid yang menyukai guru nya tetapi saya kan bukan guru" Vian
"Kok saya malah jadi pengen ketawa ya. Tapi lagi ga pengen ketawa" riza
"Ahahaha" Vian tertawa sambil melihat ke arah lapangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lembar Sinopsis
Non-FictionRiza Lidyana gadis yang tidak pernah menemukan seseorang yang bisa benar-benar mencintai dirinya, ketika ia sudah hampir tidak percaya dengan adanya cinta. Takdir mempertemukan dirinya dengan Vian Fernand Pratama sosok laki-laki panutan yang baik. S...
