12. Dan aku tidak mengerti

14 1 1
                                        


Selamat Membaca

****

Riza mengunci pintu kamar nya dengan kasar, melempar tas nya entah kemana. Ia merebahkan dirinya di kasur tanpa mengganti serangamnya terlebih dahulu.

Hari ini menjadi hari yang tak pernah ia duga. Cinta yang selama ini ia dambakan, harapan yang selama ini ia simpan. Semua hilang dalam satu jawaban.

Mungkin saat di hadapan Vian, riza bisa membohongi dirinya sendiri dan hatinya. Tapi saat ini tidak! Ia tidak pernah bisa membohongi hati dan perasaannya sendiri.

Ia tidak mau membuat Vian merasa bersalah dan ia tidak mau terlihat kalau ia merasa sakit. Tapi pada kenyataannya hatinya memang sakit, perasaan hancur.

Centong!!

Sharen Azahra : "mba baik-baik aja kan? Cerita mba tadi mba kenapa nangis?"

Sharen Azahra : "mba di taman sama ka Vian kan? Ada apa mba??"

Riza menghapus air matanya, sebenarnya ia malas membuka ponsel nya. Tetapi ia tidak mau temannya khawatir karenanya.

Riza Lidyana : "tadi aku udah ngomong ke ka Vian ren :')"

Sharen Azahra : "demi apa? Terus apa jawaban dya? mbaa sampe mba nangis begitu"

Riza Lidyana : "hmm... gimana ya, aku bingung harus jelasinnya aku juga masih ga ngerti"

Sharen Azahra : "Yaudah gpp kalo mba masih blm bisa jelasin. Kalo mba mau nangis juga gpp mba nangis sekencang mungkin"

Sharen Azahra : "tapi jangan terlalu berlarut. Mba harus senyum lagi yaa"

Riza Lidyana : "iya ren, nanti kalo aku udh siap pasti aku cerita. Makasih ya"

Sharen Azahra : "Yaudah mba stay strong ya! Jangan galau masih ada adit suami mba kok"

Riza kembali menenggelamkan dirinya dengan selimut. Rasanya malas sekali untuk bersahabat dengan situasi ini. Ia masih tidak mengerti dengan semua jawaban dan pilihan Vian.

"Kenapa jawaban dya seperti itu?"
"Ku kira awal yang indah juga akan berakhir dengan indah"
"Tapi kenapa keadaan tidak berpihak lagi kepadaku?"

"Memang sepertinya keadaan dan cinta tak pernah berpihak kepadaku."

"Menyebalkan! Kenapa aku harus merasakan rasa sakit seperti ini lagi" batin Riza

****

Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, tetapi Riza masih tetap setia di dalam selimutnya. Hari ini memang hari minggu, menjadi kesempatan Riza untuk mengurung diri di dalam kamar.

Ia masih belum bisa memahami dirinya dan keadaan yang menimpanya. Ia masih terus berlarut dalam pertanyaan, air matanya masih terus mengalir.

Tok tok tok

"Mbaaaa buka pintunyaaaaa"

"Eh ga di kunci ternyata"

Sharen tiba-tiba datang dan masuk kamar riza, tentunya setelah mendapat izin dari mamah riza. Sharen pun terkaget melihat keadaan Riza yang sangat memprihatinkan.

"Ya ampunn mbaaaak ayo banguun ini udh jam berapaa" Sharen

"Eemm males ah ini kan hari minggu" jawab riza dengan suara serak dan malas.

"Ayuu mbaaa ihhh kita jalan-jalan ngapain coba mendek di kasur" Sharen

"Gamauu ah malesss" Riza terlihat seperti bocah yang sedang ngambek.

"Eh buset mba riza gua bisa kek bocah juga ya" Sharen

"Gawat kalo lagi galau" Sharen

Riza masih tetap tenggelam oleh selimutnya, tidak mempedulikan ocehan Sharen yang terus saja membujuknya.

"Mbaaa ayoo banguun kita jalan-jalan cari cogaaan" Rayu Sharen sambil mengangkat tangan Riza.

"Ahh gamauuu cogan gua cuma ka Vian doaang" rengek riza

"Ih sumpah mbak kek anak tk tau gak" Sharen

Akhirnya Riza bangun dengan terpaksa, karena sahabatnya pasti tidak akan menyerah untuk mengganggu dirinya.

"Kenapa sih ren mau ngapain?" Riza dengan suara serak khas bangun tidur

"Ayo kita jalan-jalan ke pasar bengkok" Sharen sambil nyengir tanpa dosa.

"Ah lu mah bangunin macan tidur cuma buat ngajak ke pasar bengkok?" Riza

"Gaada akhlak!" Riza

"Udaaah mba mandi aja nanti ikut akuuh daripada di rumah kan galau mulu" Sharen

Akhirnya Riza pergi mandi dan merias dirinya supaya lebih rapih. Entah ia ingin dibawa kemana oleh Sharen. Yang jelas hal ini mungkin cukup akan menghibur Riza, dibanding ia terus menetap di kamar dan menangis. Mungkin jalan-jalan memang menjadi solusi terbaik.

Riza hanya mengikuti Sharen pergi dan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.

"Kita mau ngapain sih ren?" Riza

"Lah ini kan sekolah? Lu mau ngapain ngajak gua ke sekolah paull" Riza membulatkan matanya.

Ia terkejut saat Sharen membawanya ke sekolah. Karena kalau hari minggu ini pasti Selalu ada beberapa guru yang datang di sekolah, termasuk Vian. Riza takut jika harus bertemu dengan Vian, mental dan hatinya belum siap.

"Semogaaa ga ada ka Vian dan ga ketemu dya" Batin Riza

To be continue......

Haiiii lama tak jumpaa
Maaf yaa baru up dan ga jelas begini

Jujur aku bingung sih di part ini hehe jadinya aku buat semampuku

Jangan lupa vote teruss yaa
Komen kritik saran curhat juga boleh kok.

Apa yang terjadi selanjutnya antara Riza dan Vian? Sama aku juga gatauu

Kita liat nanti aja di part selanjutnya.

Thankyuuu love youu para readersss

Lembar SinopsisCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang