If it is you, Er

4.3K 83 11
                                        

Hari Pertama untuk Melupakan


Hari ini adalah hari pertama Dara kembali menginjakkan kaki di sekolah. Bangunan itu kini benar-benar nyata di depannya, bukan lagi sekadar fragmen yang mampir dalam mimpi. Semuanya tampak tak berubah; air mancur itu masih setia berdiri di tengah taman dekat lapangan basket, tribun megah masih kokoh di sisi kanan, dan masjid sekolah pun tetap memancarkan suasana nyaman yang sama.

Segalanya masih serupa, kecuali satu hal: seseorang yang (pernah) ada di dalamnya.

"Adara!"

Dara menoleh ke arah sumber suara. Matanya menyipit, berusaha mengenali sosok gadis yang tengah berlari ke arahnya. Saat jarak mereka mengikis, senyum Dara perlahan terbit.

"Apa kabar?" tanya gadis manis itu. Di mata Dara, ia tidak banyak berubah meski rambutnya kini dipotong sebahu. Dia adalah Wafaa.

"Seperti yang lo lihat," balas Dara, lengkap dengan senyuman khasnya.

"Kelas kita jadi di atas sana," Wafaa menunjuk ke arah gedung baru berwarna putih yang tampak megah bak istana.

Dara terdiam. Ia ingat betul dahulu gedung itu masih dalam proses pembangunan. Sebuah senyum simpul muncul di wajahnya saat ingatan lama melintas—di gedung itulah ia pernah menegur Erlangga yang kedapatan merokok. Ah, Erlangga lagi.

"Gue kira itu gedung buat anak kelas satu, eh ternyata kelas dua Akuntansi dipindahin ke sana," lanjut Wafaa karena Dara tak kunjung menyahut.

Namun, fokus Dara belum sepenuhnya kembali. Di matanya, bayang-bayang Erlangga justru terasa begitu nyata, berputar di kepala bak sebuah film pendek. Dara menerawang jauh ke arah gerbang di belakangnya, teringat momen pertama kali Erlangga menyapa dan memperkenalkan diri sebagai mantan kekasih Dheayana.

"Banyak yang berubah ya sampai harus diamati satu-satu?" tanya Wafaa menyadari lamunan sahabatnya.

Dara menggeleng lemah. "Sedikit, cuman beberapa."

"Ayo ke kelas!" ajak Wafaa sembari merangkul lengan Dara. Ia sedikit menyeretnya agar Dara segera melangkah meninggalkan gerbang yang penuh kenangan itu.

Sambil berjalan, Dara menyaksikan pemandangan yang familier. Anak-anak Farmasi dengan jas lab rapi berbondong-bondong menuju laboratorium sambil mendekap buku-buku tebal. Beberapa siswa Multimedia yang mengenakan seragam jurusan tampak asyik membidikkan kamera, sementara siswi berseragam PDH dari pasukan keamanan sekolah baru saja menyelesaikan tugas mereka di gerbang depan.

Suasana kelas sangat ramai saat mereka tiba. Kehadiran Dara segera menyita perhatian seisi ruangan. Beberapa siswi langsung mengerumuninya, menghujani Dara dengan pertanyaan tentang kabarnya. Bagaimanapun, mereka semua merindukan sosok itu.

Aroma cat baru masih menyeruak di dalam ruangan bernuansa putih tersebut. Segalanya tampak segar; kursi dan meja yang masih mengkilat, susunan organigram yang tertempel rapi di dinding, hingga deretan foto pahlawan yang menghiasi ruangan. Semuanya terlihat sangat nyaman dipandang.

"Dara sini duduk!" panggil seorang gadis dari bangkunya. Dia adalah Eka, teman sebangku Dara.

Hari itu pun habis dengan rentetan pertanyaan teman-temannya mengenai kondisi Dara, juga tentang kejadian yang membuatnya sempat koma selama satu bulan penuh. Namun, setelah semua keriuhan itu reda, rasa hampa kembali datang. Dara hanya bisa terdiam di dekat jendela, bernostalgia dengan bayang-bayangnya sendiri.

Ia merasa terlalu larut dalam rasa hingga lupa bagaimana seharusnya ia bersikap. Tapi untuk saat ini, biarkan saja. Biarkan ia mengadu pada semesta bahwa ia sedang sangat merindu.

Erlangga 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang