Tap your star! 💫
Rayyan itu mana tau setiap habis melakukan kenakalan dan membangkang dengan kabur atau membuat Papa naik pitam, rotan Papa akan siap menghajar punggung Shaka. Papa sudah memperingati untuk tidak memberi tau Rayyan, tapi Shaka juga tanpa diperintah akan merahasiakannya dari siapapun.
Rayyan juga berharga baginya.
Karena kamar mereka bersebelahan, Shaka harus menahan tangisnya saat ngilu di seluruh tubuh menyerangnya sepanjang malam. Atau terkadang, Shaka harus bangun pegal-pegal karena tidur sambil duduk.
Semuanya bukan tanpa alasan.
Kata Papa, Shaka itu disiapkan untuk menjadi Kakak yang siaga. Jaga-jaga bila Mama dan Papa sudah tidak ada, Shaka sudah siap menjaga Rayyan dengan segenap jiwa dan raganya.
Shaka tau itu cuman alasan agar dirinya tidak tersinggung dan mau menuruti perintah mereka. Tapi tenang, Shaka punya alasannya sendiri.
Tapi buat Shaka, Mama dan Papa hanya terlalu menyayangi Rayyan. Gak salah sih, anak itu memang menggemaskan dan kuat dari lahir. Sedangkan Shaka tumbuh dengan lumayan banyak pantangan, alergi ini dan itu yang semuanya ia ingat sendiri. Shaka juga masih tidak percaya bila Mama dan Papanya tidak mengingat pantangannya sama sekali. Beberapa diantaranya bahkan mengancam nyawa Shaka.
Shaka gak perlu iri, dulu waktu umurnya masih 7 tahun dan Rayyan 5 tahun, Mama dan Papa pernah renggang. Ada retakkan panjang yang Shaka kecil kira ia benar-benar akan kehilangan mereka. Entah bagaimana, Mama tau Papa punya perempuan lain dan Papa melihat Mama belanja dengan pria lain. Semuanya ia lihat diumurnya yang baru menginjak 7. Tanpa mencerna, ia telan bulat-bulat semua kenangan itu.
Karena takut kehilangan, Shaka mengikuti saja kemauan kedua orang tuanya. Menjadi robot panglima yang siap meregang nyawa untuk melindungi sibungsu. Shaka gak perlu berfikir dua kali untuk menerima hal tersebut. Adiknya nomor satu, Rayyan adalah prioritas. Kesayangan.
Mengingat bagaimana ia tidak tega melihat adik kecilnya mengetahui yang sebenarnya. Karena bagaimanapun Rayyannya masih anak-anak untuk memahami semua masalah yang sedang terjadi.
Shaka tetap menikmati setiap sikap nakal dan menyebalkannya. Karena bagaimanapun hal itu adalah salah satu yang membuatnya rindu berada disisi Rayyan. Semua kelakuan kekanak-kanakannya.
Namun, entah mengapa sugesti-sugesti seperti itu tertanam kuat di dalam benaknya. Membuatnya lupa diri, dan kehilangan Shaka di dalam tubuhnya.
Jaga adik.
Rayyan harus aman.
Rayyan gak boleh lecet.
Perlahan-lahan, semua terasa hambar dan memuakkan. Belajar tidak lagi menyenangkan, basket tidak lagi membuatnya lupa hari, makan bukan lagi favoritnya. Semua ia lakukan agar hidup tetap berlanjut. Belajar untuk membuat Mama dan Papa bangga, basket untuk bergaul dengan teman-temannya, dan makan untuk hidup.
Maka, meski tubuhnya sakit semua. Bahkan untuk bangkitpun sudah tidak mampu, ia memilih mengambil resiko apapun untuk tidak bersekolah hari ini. Tujuannya agar ia bisa sembuh dan melanjutkan hidup tentunya.
Dan menjadi pelindung lagi.
Rayyan melirik kekamar sang Kakak, hari sudah siang, padahal ia juga selalu bangun telat. Sengaja, biar Shaka terlambat sampai disekolah lalu marah padanya. Aneh, cowok itu tidak pernah marah sekalipun.
Lantaran jam biasa mereka meninggalkan rumah sudah dekat, Rayyan memilih bangkit setelah perang batin antara meninggalkan Shaka atau melihat mengapa cowok itu belum bangun juga. Dengan berdecak, ia bangkit dari kursinya, sedikit berlari hingga sampai dilantai atas, tepatnya didepan kamar Shaka dengan wajah ditekuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shaka's Ending ✔
Teen FictionShaka tidak pernah meletakkan kepentingannya di atas kepentingan orang lain. Shaka bahkan tidak memiliki rapalan do'a yang ingin di sampaikan pada Tuhan untuk dirinya sendiri. Mungkin itu sebabnya Arshaka kehilangan jati dirinya sebagai seorang anak...
