Tap your star! 💫
Terlambat lagi.
Dalam Minggu ini Shaka sudah terlambat tiga kali. Anehnya Shaka gak pernah minta Rayyan untuk lebih cepat dikemudian hari. Ada alasan lain selain dia gak mempermasalahkan keterlambatan ini, dan alasan itu adalah Papa.
Mungkin akan ada yang percaya apa yang akan dilakukan Papa bila Shaka melawan perintahnya. Yang mereka tau Harun Wardito adalah orang yang tegas dalam mendidik anak-anaknya. Dedikasinya dalam dunia bisnis juga begitu tinggi dan ambisius, berbeda dengan Shaka yang terlihat santai. Padahal tidak jarang Papanya memberi beban perusahaan dan mengambil waktu tidur Shaka untuk mengurus laporannya di esok hari.
Bila Shaka terlambat setiap haripun Papa tidak akan marah, beliau baru akan murka bila Rayyannya mendapat panggilan orang tua karena terlambat sekolah, nakal atau bolos sekolah.
Shaka hanya berharap hari ini Tuhan berada dipihaknya.
Shaka menghela nafas pelan saat dilihatnya koridor begitu sepi. Siswa-siswi sudah masuk kelas, sedangkan ia baru bisa pergi setelah dihukum membersihkan kamar mandi dan meminum pil alerginya.
Shaka ada di kelas MIPA 1. Dan tinggal dua kelas tubuhnya akan sampai didepan pintu. Melihat situasi yang begitu sepi dari luar, Shaka yakin Pak Dhani guru matematika peminatan sudah masuk dari tadi. Semoga saja tidak ada kuis mendadak. Shaka sudah terlambat pelajarannya berkali-kali, itu yang membuat peluh sebiji jagung turun kepilipis Shaka. Belum lagi tangannya mendingin dan bentol-bentol merah disekujur tubuhnya.
"Permisi, Pak."
Senyum miring Pak Dhani terlihat lebih sarkas hari ini, apa lagi kumis tebal diatas bibirnya menambah kesan sangar. "Terlambat lagi, Shak? Niat sekolah gak?"
"He..he..eung...niat, Pak."
"Yasudah masuk, kalau nilai matematikamu gak bagus gak saya izinkan masuk pelajaran saya lagi," katanya kemudian fokus menulis dipapan tulis lagi.
Shaka hanya dapat membuang nafas lega dan lari terbirit kebangkunya.
"Rayyan lagi?" tanya Gibran sahabat Shaka yang kini jadi teman sebangkunya.
Shaka mengangguk, takut mengelurakan suara sambil membuka buku matematikanya.
"Ck, manja," decak Gibran setelahnya. Sedangkan Shaka hanya mendengus enggan meladeni. Nanti saja setelah Pak Dhani keluar kelas, pikirnya.
🐢🐢🐢
"Adek lo manja banget sih, Shak. Bapak lo kan orangnya keras, kok Rayyan jadi cengeng gitu sih?" dari pelajaran Pak Dhani masih berlangsung. Gibran benar-benar gak tahan untuk terus merutuki Rayyan.
"Gak gitu, Gib. Si Rayyan malahan ngambek gak dibeli motor," ujar Shaka.
"Lah beliin lah, gak kasian apa liat anak sendiri mutar arah sampai terlambat sekolah," Gibran memang ahlinya menggerutu. Dan kadang-kadang dimata Shaka itu lucu.
Gibran sudah muak sekali, sejak SMP dan Rayyan masih SD waktu itu, Gibran gak pernah mempermasalahkan masalah Rayyan adalah prioritas Shaka. Anak itu lucu dan penurut, sekolah dasarnya juga tidak jauh dari SMPnya Gibran dan Shaka. Namun saat Rayyan mulai naik SMP entah kenapa perilaku anak itu sangat menyebalkan, walau Shaka selalu maklum dan menganggap itu hanyalah perubahan hormon dimasa puber, menurut Gibran itu kelewatan.
Shaka sampai jarang punya waktu untuk dirinya sendiri.
Shaka menggeleng maklum, meletakkan peralatan tulisnya ke dalam laci lalu mengeluarkan buku Fisika diatas meja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shaka's Ending ✔
Novela JuvenilShaka tidak pernah meletakkan kepentingannya di atas kepentingan orang lain. Shaka bahkan tidak memiliki rapalan do'a yang ingin di sampaikan pada Tuhan untuk dirinya sendiri. Mungkin itu sebabnya Arshaka kehilangan jati dirinya sebagai seorang anak...
