Tap your star! 💫
Hari ini mendung.
Langit menghitam seiring bunyi petir menyambar pendengaran. Apa lagi angin kencang yang mengatup-ngatupkan jendela, ini akan hujan atau badai?
Ini masih pagi, sekitar pukul 6 pagi. Cowok yang sudah membungkus dirinya dengan kemeja sekolah sudah siap dengan tas selempang dipunggung. Rambutnya basah akibat baru selesai mandi sengaja ia kibas membuat air bermuncratan kedinding kamar yang dicat putih.
Kakinya melangkah pelan kearah cermin yang ada dilemari, menyandungkan lagu-lagu yang ia ingat dikepala. Lagu-lagu yang akhir-akhir ini anak-anak dikelasnya sering nyanyikan dengan gitaris diujung kelas kemudian seluruh penghuni kelas mulai bernyanyi seperti festival musik Didi Kempot. Semuanya ambyar.
Saat masih sibuk mengangumi sendiri postur wajahnya, ia melirik nametag yang tergeletak diatas meja, lupa ia pasang diseragamnya.
Segera ia memasang name tag bertuliskan Rafif Arshaka di dada kanannya kemudian bergegas keluar kamar dan membangunkan adiknya di kamar sebelah.
"Dek, gue tunggu dibawah ya!" panggilnya. Ia hanya mendengus ketika tidak mendengar jawaban. Mungkin adiknya sedang mandi atau mungkin tengah bersiap-siap.
Kemudian melangkahkan kakinya turun dan menemui sang Ibu yang tengah mengatur sarapan dengan pakaian rapi. Wanita karier itu juga sudah siap berangkat kerja tanpa lupa kewajibannya.
"Pagi, Ma," sapa Shaka. Dibalas senyum tipis sang Ibu yang langsung menyodorkan sehelai roti selai strobery diatasnya.
"Selai cokelat gak ada, Ma?"
"Kemarin cuma beli stroberry, Rayyan sukanya stroberry," ucap sang Ibu, dan Shaka hanya mengangguk-angguk pura-pura mengerti.
"Kenapa?" tanya Mamanya lagi disambut gelengan pelan dari Shaka disertai senyum hangatnya yang tidak pernah luntur.
Saat bunyi pintu kamar terbuka terdengar, Shaka kira itu dari kamar sang adik. Rupanya, itu kepala keluarga yang keluar dengan kemeja putih dan jas yang ditenteng ditangan yang sedang memegang pias. Bahkan pandangannya tidak bisa lepas dari sana.
"Pagi, Pa," sapa Shaka seperti biasa. Dan lagi-lagi senyum tipis yang ia dapat karena Papanya terlihat begitu sibuk mengurus e-mail yang masuk di iPadnya.
Perlahan-lahan, Shaka memasukan roti selai stroberynya ke dalam mulut sambil sesekali melirik kamar sang adik yang belum keluar juga.
"Adek mana? kok belum turun?"
"Tadi udah Shaka panggil, belum keluar-keluar," Papa Cuma mengangguk sambil memakan rotinya.
Tepat setelah Shaka menyelesaikan kalimatnya, cowok dengan seragam SMP itu turun dengan wajah ditekuk. Jalannya agak dihentak-hentakkan. Ia menatap seluruh anggota keluarga dengan malas, sejujurnya untuk Shaka ekspresi itu sudah biasa ditunjukan untuknya, namun biasanya cowok muda itu akan menyapa orang tuanya dengan ceria. Sepertinya ada keinginan yang tidak diiyakan oleh Mama dan Papanya.
"Kenapa sih, Yan?" tanya Shaka. Dan tampaknya mood cowok berumur 15 tahun itu sedang buruk-buruknya, karena bukannya menjawab cowok itu malah menghunus mata Shaka dengan tatapan tajamnya.
"Gak ada motor-motoran, kamu berangkat sama Shaka. Kalau kamu udah punya SIM baru Papa izinin," ucap Papa, seketika Shaka mengerti dengan situasi yang tengah berlangsung.
"Tapi Shaka udah bawa motor dari sebelum 17 tahun kok," sahut Rayyan.
"Itu beda cerita, Rayyan. Papa ngomong gini karena mikirin keselamatan kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Shaka's Ending ✔
Ficção AdolescenteShaka tidak pernah meletakkan kepentingannya di atas kepentingan orang lain. Shaka bahkan tidak memiliki rapalan do'a yang ingin di sampaikan pada Tuhan untuk dirinya sendiri. Mungkin itu sebabnya Arshaka kehilangan jati dirinya sebagai seorang anak...
